Showing posts with label tesis. Show all posts
Showing posts with label tesis. Show all posts

Monday, June 11, 2018

Consumerism in Personal Finance: An Islamic Wealth Management Approach

I dedicated a whole new blog for the details of my work from 2015-2018 please come and visit it in


https://islamicpersonalfinance-konsumerisme.blogspot.com/


The summarizing paper has been published in Jurnal Iqtishad UIN
http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/iqtishad/article/view/5518


The paper has also been presented in ICIEFA Tazkia 2018
http://iciefa.tazkia.ac.id/


ABSTRACT

Farisah Amanda, 2016, Analysis of Consumerism in Personal Finance and Solution Model Based on Concepts of Financial Planning and Islamic Wealth Management. Thesis, Magister of Shariah Economic, Tazkia Postgraduate Program. Supervisor: I. Dr. Achmad Firdaus, M.Si., II. Bayu Taufiq Possumah, Ph.D.

Consumerism as an excessive materialism and a waste of resources has become an international phenomenon. Consumerism is not followed by a sufficient personal finance education. In other hand, Islam as a comprehensive religion should be able to provide a solution to the problem of consumerism in Muslims’ personal finance. This study analizes consumerism phenomenon from the perspective of personal finance and create a solution model based on financial planning and Islamic wealth management concepts. Research design used is descriptive qualitative with three analysis methods: content analysis, document analysis, and thematic analysis. Research shows that the factors causing consumerism are: (1) external: advertisement, supply availability, access to consumer credit, promotion in social media, macroeconomics conditions, the lack of personal finance education, (2) internal: low level of financial literacy causing incapability to manage personal finance, not using Islamic principles as a basis in managing personal finance. Negative impacts of consumerism on personal finance are: (1) imbalance: spending more than income causing negative balance in personal financial report, (2) debt trap: dependence on debt for consumption can scrape into personal assets, (3) not enough fund for long term financial needs such as education and retirement preparation, (4) no allocation for productive and charity purposes. Personal financial planning can contribute to the effort of eliminating negative impacts of consumerism on personal finance. The percentage set as a maximum limit for consumption ranged from 40%, 75%, 87,5%, and 90% out of total personal income. Concepts of Islamic wealth management used as a solution of consumerism in personal finance are: (1) basic concepts: concept of wealth, concept of rizqi, concept of blessing, standard of sufficiency and wealth, (2) principles of consumption in Islam: halal and good, moderation, balance, (3) wealth management in Islam to avoid consumerism: hierarchy of consumption, differentiate between needs and wants, modest lifestyle, prohibition of luxurious and redundant lifestyle, avoid debts, priorities in consumption and maqashid sharia, concepts of zakat and shodaqoh.

JEL Classification: D1, Z1, Z12, Z13, I31
Keywords: Consumerism, Personal Finance, Financial Planning, Islamic Wealth Management


ABSTRAKSI

Farisah Amanda, 2016, Analisis Konsumerisme dalam Keuangan Personal dan Model Solusi Berdasarkan Konsep Perencanaan Keuangan dan Manajemen Harta Islam. Tesis, Magister Ekonomi Syariah, Program Pascasarjana Tazkia. Pembimbing: I. Dr. Achmad Firdaus, M.Si., II. Bayu Taufiq Possumah, Ph.D.

Konsumerisme sebagai kondisi materialisme yang berlebih-lebihan dan pembuangan sumber daya telah menjadi suatu fenomena internasional. Konsumerisme tidak diimbangi dengan pendidikan dan edukasi keuangan personal yang memadai. Di sisi lain, Islam sebagai agama yang komprehensif seharusnya dapat menawarkan solusi bagi permasalahan konsumerisme dalam keuangan personal seorang muslim. Penelitian ini menganalisis fenomena konsumerisme dari sudut pandang keuangan personal dan membuat model solusi yang berasal dari konsep perencanaan keuangan dan manajemen harta Islam. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yang menggunakan tiga macam metodologi analisa data yaitu analisis isi, analisis dokumen, dan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan faktor-faktor penyebab konsumerisme pada masyarakat terdiri dari: (1) eksternal: iklan, ketersediaan penawaran, ketersediaan akses pada kredit konsumsi, promosi media sosial, kondisi ekonomi makro, kurangnya pendidikan keuangan personal, (2) internal: tingkat literasi keuangan yang rendah menyebabkan ketidakmampuan mengelola keuangan personal, tidak menggunakan prinsip Islam sebagai dasar mengelola keuangan personal. Dampak negatif konsumerisme pada keuangan personal adalah: (1) ketidakseimbangan: pengeluaran lebih besar daripada pemasukan menyebabkan saldo negatif dalam neraca laporan keuangan personal, (2) jebakan hutang: ketergantungan berhutang untuk konsumsi dapat mengurangi aset personal, (3) tidak ada dana untuk keperluan jangka panjang seperti pendidikan dan persiapan pensiun, (4) tidak ada alokasi untuk tujuan produktif dan tujuan sosial. Perencanaan keuangan personal dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam usaha untuk menghilangkan dampak negatif konsumerisme pada keuangan personal. Persentasi batas maksimal untuk konsumsi dalam alokasi pendapatan personal bervariasi antara 40%, 75%, 87,5%, dan 90% dari keseluruhan pendapatan. Konsep manajemen harta Islami yang digunakan sebagai solusi permasalahan konsumerisme dalam keuangan personal adalah sebagai berikut: (1) konsep dasar: konsep harta, konsep rezeki, konsep keberkahan, serta standar kecukupan dan kekayaan, (2) prinsip konsumsi dalam ekonomi Islam: halal dan baik, moderat atau pertengahan, keseimbangan, (3) konsep manajemen harta Islami yang dapat membantu mengeliminir dampak negatif konsumerisme adalah: hirarki konsumsi, kebutuhan dan keinginan, gaya hidup sederhana, larangan bermewah-mewahan dan mubazir yaitu larangan menyia-nyiakan dan tidak memanfaatkan harta, menghindari hutang piutang, skala prioritas konsumsi dan maqashid syariah, konsep zakat dan sedekah.
Klasifikasi JEL: D1 , Z1 , Z12 , Z13 , I31
Kata Kunci: Konsumerisme, Keuangan Personal, Perencanaan Keuangan, Manajemen Harta Islam

Saturday, July 2, 2016

PASCA: Jangan Terkecoh oleh Harta dan Jangan Lalai Terhadap Perintah Allah SWT

Saat harta dijadikan landasan dan simbol kesuksesan, maka yang terjadi adalah upaya menghalalkan segala cara untuk memperoleh dan menumpuk harta. Pada saat yang sama, penggunaan harta cenderung berorientasi untuk bisa memenuhi segala nafsu dan ambisi.
Egoisme manusia dalam menyikapi, mendapatkan, dan membelanjakan harta kekayaan sering kali melampaui batasan etika, moral, bahkan kewajaran. Mereka bisa sangat tamak, curang, dan tidak memiliki sensitivitas terhadap orang-orang miskin. Harta kekayaan yang mereka peroleh hanyalah demi memenuhi dua hal yang sesungguhnya tidak akan pernah terpuaskan.
Pertama, demi kesenangan dan / atau kemewahan.
Kedua, demi mempertahankan dan / atau menambah harta kekayaan agar gaya hidup bersenang-senang dan bermewah-mewah bisa terus berlangsung. Jika memungkinkan, menguasai sarana atau milik orang lain demi meningkatkan gengsi atau derajat sosial. Akibat yang terjadi adalah orang-orang kaya hanya mementingkan kepentingan sendiri. Si kaya menganggap pembiaran terhadap orang-orang yang berada dalam kelaparan dan kemiskinan merupakan tindakan yang benar.
Gaya hidup bersenang-senang atau bermewah-mewah merupakan kehidupan yang berlebihan - melebihi dari apa yang sesungguhnya mereka butuhkan. Memiliki banyak mobil (mewah) tetapi tidak sesuai dengan kebutuhan; mempunyai banyak perhiasan emas dan / atau berlian, namun sekadar untuk menumpuk kekayaan atau memamerkannya; menghiasi ruangan rumah dengan barang pecah-belah bermutu tinggi; membeli hewan peliharaan dengan harga yang sangat mahal; dan seterusnya. Tidak lupa, mereka pun menghiasi dinding-dinding rumah dengan lukisan yang fantastis harganya, hingga jutaan rupiah. Sedangkan lantai rumah diperindah dengan permadani yang harganya selangit.
Begitulah! Mereka benar-benar memenuhi "kebutuhan" tertentu yang mereka ciptakan sendiri. Demikian pula dengan "kebutuhan" terhadap seks bebas, kehidupan malam, dan gaya hidup bebas lainnya. Demi menikmati sesuatu, bersenang-senang, atau meningkatkan gengsi sosial, mereka menjadikan orang-orang agar dapat melayani gaya hidup mereka dan menopang tujuan-tujuan pribadi mereka.
QS 4: 14
Kalau pun mereka "berbaik hati" meminjamkan uang kepada orang atau pihak tertentu, biasanya mereka selalu menentukan nilai lebih (bunga) dari uang yang dipinjamkan. Bisa juga karena ada pamrih atau motif politis di balik itu. Tidak ada kata "berderma", tidak ada "keikhlasan". Bagi mereka, "pertolongan" harus selalu merujuk pertimbangan "untung-rugi" tanpa peduli bahwa orang-orang yang membutuhkan pertolongan adalah kaum miskin yang kelaparan.

Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec. dan Tim TAZKIA. 2010. Ensiklopedia Leadership & Manajemen Muhammad SAW “The Super Leader Super Manager” Bisnis dan Kewirausahaan. Tazkia Publishing, Jakarta. Hlm 27-28.

PASCA: hadits At-Tirmidzi no 2417 & 2354

2417. Abdullah bin Abdurrahman menyampaikan kepada kami dari al-Aswad bin Amir, dari Abu Bakar bin Ayyasy , dari Al-A’masy, dari Sa’id bin Abdullah bin Juraij, dari Abu Barzah al-Aslami bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kedua telapak kaki seorang hamba belum akan berpindah pada Hari Kiamat sampai ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang ilmunya untuk apa dia amalkan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan ke mana dia infakkan, serta tentang tubuhnya untuk apa dia pergunakan.”
Abu Isa berkata, “Hadits ini hasan shahih. Sa’id bin Abdullah bin Juraij adalah orang Bashrah dan maula dari Abu Basrah al-Aslami, sedangkan nama Abu Barzah al-Aslami adalah Nadhlah bin Ubaid.” (hlm 803)

2354. Abu Kuraib menyampaikan kepada kami dari al-Muharibi, dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang Muslim yang fakir masuk surga setengah hari lebih dahulu sebelum orang-orang kaya, selisihnya lima ratus tahun.”
Abu Isa berkata, “Hadits ini hasan shahih.” (hlm 784)

Source: Abu Isa Muhammad bin Isa at-Tirmidzi. Ensiklopedia Hadits 6; Jami’ at-Tirmidzi. Terjemahan oleh Tim Darussunnah, Misbakhul Khaer, Solihin. Diterbitkan oleh Penerbit Almahira, Jakarta (2013).

PASCA: tafsir QS Yusuf (12): 47-49

“Dia berkata, “Kamu bercocok tanam tujuh tahun sebagaimana biasa, maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya kecuali sedikit dari apa yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras.”

Tafsir al-Mishbah :
Mendengar pertanyaan yang diajukan atas nama Raja dan pemuka-pemuka masyarakat itu, tanpa menunggu – sesuai dengan harapan penanya – langsung saja dia, yakni Nabi Yusuf as berkata seakan-akan berdialog dengan mereka semua. Karena itu, beliau menggunakan bentuk jamak, “Mimpi memerintahkan kamu wahai masyarakat Mesir, melalui Raja, agar kamu terus-menerus bercocok tanam selama tujuh tahun sebagaimana biasa kamu bercocok tanam, yakni dengan memperhatikan keadaan cuaca, jenis tanaman yang ditanam, pengairan dan sebagainya, atau selama tujuh tahun berturut-turut dengan bersungguh-sungguh. Maka apa yang kamu tuai dari hasil panen sepanjang masa itu hendaklah kamu biarkan di bulirnya agar dia tetap segar tidak rusak, karena biasanya gandum Mesir hanya bertahan dua tahun – demikian pakar tafsir Abu Hayyan – kecuali sedikit yaitu yang tidak perlu kamu simpan dan biarkan di bulirnya yaitu yang kamu butuhkan untuk kamu makan. Kemudian sesudah masa tujuh tahun itu, akan datang tujuh tahun yang amat sulit, akibat terjadinya paceklik di seluruh negeri yang menghabiskan apa yang kamu simpan unuk menghadapinya, yakni untuk menghadapi tahun sulit itu yang dilambangkan oleh tujuh bulir gandum yang kering itu kecuali sedikit dari apa, yakni bibit gandum yang kamu simpan. Itulah takwil mimpi Raja.”
Lebih jauh Nabi Yusuf as melanjutkan, “Kemudian setelah paceklik itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan dengan cukup dan pada masa itu mereka akan hidup sejahtera yang ditandai antara lain bahwa ketika itu mereka terus-menerus memeras sekian banyak hal seperti aneka buah yang menghasilkan minuman, memeras susu binatang dan sebagainya.”
Kata yughats, apabila dipahami dari kata ghaits / hujan, maka terjemahannya adalah diberi hujan. Dan jika ia berasal dari kata ghauts yang berarti pertolongan, maka ia berarti perolehan manfaat yang sangat dibutuhkan guna menampik datangnya mudharat. Dari kata ini lahir istilah istighatsah.
Memperhatikan jawaban Nabi Yusuf as ini, agaknya kita dapat berkata bahwa beliau memahami tujuh ekor sapi sebagai tujuh tahun masa pertanian.Boleh jadi karena sapi digunakan untuk membajak, kegemukan sapi adalah lambang kesuburan, sedang sapi kurus adalah masa sulit di bidang pertanian, yakni masa paceklik.Bulir-bulir gandum lambang pangan yang tersedia. Setiap bulir sama dengan setahun. Demikian juga sebaliknya.
Mimpi Raja ini merupakan anugerah Allah SWT kepada masyarakat Mesir ketika itu.Boleh jadi karena Rajanya yang berlaku adil – walau tidak mempercayai keesaan Allah.Keadilan itu menghasilkan kesejahteraan lahiriah buat mereka. Rujuklah ke uraian penulis pada ayat 117 surah Hud, untuk memahami lebih jauh tentang persoalan ini.
Thabathaba’i mengkritik ulama-ulama yang memahami mimpi Raja itu secara sederhana, yakni mereka yang hanya memahaminya sebagai gambaran tentang apa yang akan terjadi pada dua kali tujuh tahun depan. Memang, redaksi penjelasan Nabi Yusuf as bukan redaksi perintah, tetapi redaksi berita. Namun demikian, apa yang dikemukakan Thabathaba’i dapat diterima, karena sekian banyak redaksi berbentuk berita yang bertujuan perintah. Ulama itu menilai bahwa mimpi tersebut adalah isyarat kepada Raja untuk mengambil langkah-langkah guna menyelamatkan masyarakatnya dari krisis pangan. Yaitu hendaklah dia menggemukkan tujuh ekor sapi agar dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus dan menyimpan sebagian besar dari bahan pangan yang telah dituai tetap dalam bulirnya agar tetap segar dan tidak rusak oleh faktor cuaca dan sebagainya. Dengan demikian, menghadapinya, yaitu hendaklah bersungguh-sungguh menanam serta menyimpan sebagian besar hasil panen.
Thabathaba’i, walau memahami ayat 49 di atas sebagai informasi baru tentang apa yang akan terjadi sesudah tujuh tahun sulit, tetapi itu pun dipahaminya dari mimpi tersebut. Dalam arti, jika tujuh tahun sulit itu telah berlalu, maka sesudah itu situasi akan pulih, dan ketika itu tidak perlu lagi mengencangkan ikat pinggang, atau membanting tulang dalam bekerja atau menyimpan hasil panen sebagaimana halnya pada tujuh tahun pertama. Ini karena keadaan telah normal kembali. Itu pula sebabnya, menurut Thabathaba’i dalam mimpi Raja tidak disebut kata tujuh ketika menyatakan bulir-bulir kering, karena masa sesudah tujuh tahun sulit itu akan berjalan normal bukan hanya sepanjang tujuh tahun.

Tafsir Depag & UII:
47. Dengan segala kemurahan hati Yusuf menerangkan ta’bir mimpi raja itu, seolah-olah Yusuf menyampaikan kepada raja dan pembesar-pembesarnya, katanya: “Wahai raja dan pembesar-pembesar negara semuanya, kamu akan menghadapi suatu masa tujuh tahun lamanya penuh dengan segala kemakmuran dan keamanan. Ternak berkembang biak, tumbuh-tumbuhan subur, dan semua orang akan merasa senang dan bahagia. Maka galakkanlah rakyat bertanam dalam masa tujuh tahun itu.Hasil dari tanaman itu harus kamu simpan, gandum disimpan dengan tangkai-tangkainya supaya tahan lama.Sebagian kecil kamu keluarkan untuk dimakan sekedar keperluan saja.
48. Sehabis masa yang makmur itu akan datang masa yang penuh kesengsaraan dan penderitaan selama tujuh tahun pula. Pada waktu itu ternak habis musnah, tanaman-tanaman tidak berbuah, udara panas, musim kemarau panjang.Sumber-sumber air menjadi kering dan rakyat menderita kekurangan makanan. Semua simpanan makanan akan habis, kecuali tinggal sedikit untuk kamu jadikan benih.
49. Kemudian sesudah berlalu masa kesulitan dan kesengsaraan itu, maka datanglah masa hidup makmur, aman dan sentosa. Di masa itu bumi menjadi subur, hujan turun sangat lebatnya, manusia kelihatan beramai-ramai memeras anggur dengan aman dan gembira.Mereka telah duduk bersantai menikmati buah-buahan hasil kebunnya bersama anak-anak dan keluarganya.Itulah ta’bir mimpi raja itu saya sampaikan kepadamu untuk saudara sampaikan kepada raja dan pembesar-pembesarnya.

Sources:
- M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Volume 6. Jakarta: Lentera Hati, 2002. Hlm 471-473
- Al Qur’an dan Tafsirnya: Jilid IV Juz 10-11-12. Naskah asli Milik Departemen Agama Republik Indonesia dengan perbaikan. Cetak Ulang oleh Universitas Islam Indonesia (1995). Penulis: Tim Tashih Departemen Agama & Universitas Islam Indonesia. Pelaksana cetak Ulang: PT Dana Bhakti Wakaf, Yogyakarta, Indonesia. Hlm 648

PASCA: tafsir QS At-Takatsur (102): 8

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu ).

Tafsir Depag & UII: dalam ayat ini Allah SWT, lebih memperkuat lagi celaan-Nya terhadap mereka, bahwa sesungguhnya mereka akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan-kenikmatan yang mereka megah-megahkan di dunia, apa yang kamu perbuat dengan nikmat-nikmat itu. Apakah kamu telah menunaikan hak Allah daripadanya, atau apakah kamu menjaga batas-batas hukum Allah yang telah ditentukan dalam bersenang-senang dengan nikmat tersebut.Jika kamu tidak melakukannya, ketahuilah bahwa nikmat-nikmat itu adalah puncak kecelakaan di hari akhirat.Telah diriwayatkan bahwa Umar ra. Bertanya kepada Nabi Muhammad SAW: “Nikmat apakah yang ditanyakan kepada kami, Ya Rasulullah, padahal kami telah diusir dari kampung halaman kami dan harta kami?”. Nabi SAW menjawab: “Naungan-naungan rumah, pohon-pohon, gubuk-gubuk yang melindungi kamu dari udara panas dan dingin dan air yang sejuk di hari yang panas .” Dan telah diriwayatkan pula dari Nabi Muhammad SAW, beliau berkata: “Barangsiapa yang bangun pagi dalam keadaan aman sentausa dalam keluarganya, sehat walafiat badannya serta mempunyai bekal hidup untuk harinya, maka seolah-olah dunia dengan segala kekayaannya telah diserahkan kepadanya.

Tafsir al-Mishbah :
“Kemudian, pasti kamu akan ditanyai pada hari itu tentang an-na’im.”
Setelah ayat-ayat yang lalu mengecam dan memperingatkan mereka yang bersaing secara tidak sehat memperbanyak kenikmatan duniawi, ayat di atas memperingatkan bahwa kenikmatan apapun bentuknya pasti akan dimintakan pertanggungjawaban. Atau setelah ayat yang lalu menggambarkan ancaman yang menanti mereka karena hanya memperhatikan kenikmatan duniawi, ayat di atas mengingatkan mereka bahwa sikap tersebut akan mereka pertanggungjawabkan dan kelak mereka akan ditanyai tentang sikap mereka menyangkut kenikmatan ukhrawi. Apapun hubungannya, ayat di atas bagaikan menyatakan: Kemudian, Aku bersumpah bahwa pasti kamu semua wahai manusia akan ditanyai pada hari itu tentang an-na’im yakni aneka kenikmatan duniawi yang kamu raih, atau kenikmatan ukhrawi yang kamu abaikan.
Kata la tus’alunna terambil dari kata sa’ala yang digandengkan dengan huruf lam yang berfungsi sebagai isyarat adanya sumpah dan nun yang digunakan untuk menunjukkan kepastian serta penekanan. Sedang kata sa’ala dapat berarti meminta, baik materi maupun informasi.Yang dimaksud bukan permintaan materi, bukan juga informasi dalam pengertian yang sebenarnya, tetapi pertanggungjawaban.Kata tersebut berbentuk pasif dalam arti bahwa pelaku yang meminta pertanggungjawaban itu tidak disebutkan.Ini untuk mengarahkan perhatian pendengar kepada pertanggungjawaban itu – tanpa mempersoalkan siapa pun yang melakukannya.
Kata an-na’im biasa diterjemahkan kenikmatan. Sementara ulama menyebut beberapa riwayat yang menjelaskan maksud kata ini, seperti angin sepoi, air sejuk, alas kaki, sampai kepada al-Qur’an dan kehadiran Rasul SAW. Sahabat Nabi SA, Anas Ibn Malik ra menyatakan bahwa ketika turunnya ayat di atas seorang yang sangat miskin berdiri di hadapan Nabi SAW sambil berkata: “Apakah ada suatu nikmat yang kumiliki?” Nabi menjawab: “Ya, naungan, rumput dan air yang sejuk” (kesemuanya adalah nikmat yang engkau peroleh).
Jika kita menelusuri penggunaan al-Qur’an tentang kata-kata yang seakar dengan kata na’im, ditemukan bentuk-bentuk ni’mah, na’mah, na’maa’, an’um. Tentu saja maknanya tidak sama. Kata na’mah (dengan fathah pada huruf nuun) yang digunakan al-Qur’an dalam dua ayat (QS ad-Dukhan (44): 27 dan al-Muzammil (73): 11) dan keduanya dalam konteks pembicaraan tentang orang-orang kafir yang memperoleh limpahan anugerah atau nikmat material yang mereka tidak syukuri. Sedang kata ni’mah (dengan kasrah pada huruf nun) yang terulang sebanyak 34 kali, pada umumnya digunakan untuk menggambarkan anugerah Allah kepada hamba-hamba-Nya yang sadar atau diharapkan dapat sadar, baik nikmat tersebut bersifat material maupun spiritual. Bahkan sementara ulama membatasinya dalam bidang spiritual keagamaan. Atau paling tidak, pada umumnya kata ni’mah dalam al-Qur’an digunakan dalam arti petunjuk keagamaan (perhatikan QS al-Ma’idah (5): 3 dan QS adh-Dhuha (93): 11.
Kata na’im terulang dalam al-Qur’an sebanyak 17 kali, 8 di antaranya dengan redaksi jannaat an-na’im (surga-surga yang penuh kenikmatan), 3 dengan redaksi jannatu na’im (surga yang penuh kenikmatan) dalam bentuk tunggal dan 6 sisanya digandengkan dengan berbagai kata tetapi seluruhnya digunakan dalam konteks kenikmatan surgawi di akhirat kelak (lihat misalnya QS al-Infithaar (82): 13-14 atau QS al-Insaan (76): 20. Atas dasar itu rasanya kurang tepat memahami kata na’im pada ayat yang ditafsirkan ini dalam arti kenikmatan yang diperoleh manusia di dunia – baik besar maupun kecil. Kata na’im di sini agaknya lebih tepat dipahami pula dalam konteks kenikmatan ukhrawi sehingga ayat terakhir surah ini memperingatkan kepada mereka yang bersaing secara tidak sehat dalam rangka memperoleh dan memperbanyak harta benda, anak, pengikut dan kedudukan – memperingatkan mereka – bahwa kelak mereka akan diminta untuk mempertanggungjawabkan sikap mereka terhadap kenikmatan ukhrawi, mereka akan ditanyai: Bagaimana sikap kamu di dunia menyangkut kenikmatan-kenikmatan ukhrawi? Apakah kamu percaya atau tidak?” Yang percaya tentu tidak akan bersaing memperebutkan dan memperbanyak kenikmatan duniawi yang kecil itu bila dibandingkan dengan kenikmatan ukhrawi. Yang percaya tentu akan berlomba memperebutkan dan memperbanyak kenikmatan ukhrawi.
Seseorang yang menyadari bahwa ada kenikmatan yang melebihi kenikmatan duniawi tentu tidak akan mengarahkan seluruh pandangan dan usahanya semata-mata hanya kepada kenikmatan duniawi yang sifatnya sementara itu, bahkan seseorang yang menyadari betapa besar kenikmatan ukhrawi itu akan bersedia mengorbankan kenikmatan duniawi yang dimiliki dan dirasakannya demi memperoleh kenikmatan ukhrawi itu. Demikian awal ayat surah ini berbicara tentang perlombaan menumpuk kenikmatan duniawi, dan akhirnya memperingatkan mereka tentang tanggung jawab kepemilikan harta itu bahkan mengingatkan mereka tentang kenikmatan ukhrawi yang tiada taranya.Demikian, Maha Benar Allah dalam segala firmannya.Wa Allaah A’lam.

Sources:
- Al Qur’an dan Tafsirnya: Jilid X Juz 28-29-30. Naskah asli Milik Departemen Agama Republik Indonesia dengan perbaikan. Cetak Ulang oleh Universitas Islam Indonesia (1995). Penulis: Tim Tashih Departemen Agama & Universitas Islam Indonesia. Pelaksana cetak Ulang: PT Dana Bhakti Wakaf, Yogyakarta, Indonesia. Hlm 795.
- M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Volume 15. Jakarta: Lentera Hati, 2002. Hlm 490-492

Keterangan:
Abu Nizhan, 2011. Al-Qur’an Tematis: Panduan Praktis Memahami Ayat-Ayat Al-Qur’an. Penerbit Mizan, Bandung, Indonesia. Hlm 236. Hal-hal yang Ditanyakan Ketika Dihisab:
Perihal Kekafiran dan Kemusyrikan, Apa saja yang dikerjakan di dunia (QS 15: 92-93), Nikmat yang telah diberikan, Ditanya tentang Panca Indera

Tuesday, January 5, 2016

PASCA: pemilihan jumlah narasumber

http://wkwk.lecture.ub.ac.id/tag/etnografi/

Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan atau narasumber (bukan “responden” seperti dalam penelitian kuantitatif), yang mana informan atau narasumber ini adalah orang-orang yang memahami konteks masalah yang sedang diteliti. Mereka adalah pelaku peristiwa, orang yang sangat tahu, paham dan ahli serta dekat dalam bidang atau masalah yang sedang diteliti, sehingga yang penting dari informan atau narasumber ini adalah kualitasnya, bukan jumlahnya seperti dalam penelitian kuantitatif. Karenanya, bukan jumlah informan atau narasumber yang dipentingkan, tetapi kedalaman, intensitas dan kualitas data yang diperoleh / digali dari mereka-lah yang penting. Apa yang disebut sebagai “tingkat kepercayaan” dalam penelitian kuantitatif yang direpresentasikan dengan ukuran sampel (semakin besar ukuran sampel atau jumlah responden maka penelitian akan semakin bisa dipercaya atau memperkecil margin of error), dalam penelitian kualitatif adalah kedalaman dan kualitas data yang dapat digali inilah yang penting. Karenanya, pemilihan informan atau narasumber menjadi penting pula.

Jika kuantitatif memilih responden secara acak berdasarkan sampling technique dan sampling frame yang telah ditentukan sebelum terjun lapangan, maka penelitian kualitatif memilih informan atau narasumber tidak secara acak, tetapi dipilih berdasarkan kriteria kepahaman dan kedekatan akan suatu masalah yang sedang diteliti. Biasanya dilakukan dengan teknik snow-ball dengan terlebih dahulu menentukan seorang informan atau narasumber kunci (purposed) yang darinya menjalar kepada informan atau narasumber lain atas referensi informan atau narasumber sebelumnya. Demikian dilakukan terus hingga informan atau narasumber ke-x ketika data telah jenuh yakni ketika informan atau narasumber telah tidak lagi bisa memunculkan konstruksi yang berbeda dan baru. Instrumen penelitian, menggunakan “panduan wawancara kualitatif” yang tidak bersifat terstruktur (ketat) seperti dalam penelitian kuantitatif, tetapi lebih fleksibel, dengan tipe pertanyaan open-ended, yakni tiap pertanyaan akan berakhir dengan membuka jalan bagi pertanyaan berikutnya yang mengikuti alur semi-terstruktur maupun tidak terstruktur (peneliti bebas melakukan improvisasi di lapangan namun tetap dalam koridor desain penelitian).

Saturday, October 31, 2015

PASCA: Penelitian Terdahulu: Accounting Literacy and Poverty Eradication

Accounting Literacy and Poverty Eradication; Preliminary Case studies in Egypt and Indonesia Authors: Murniati Mukhlisin1 & Luqyan Tamanni2 Paper presented at Thematic Workshop on Financial Literacy, Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, 25-26 February 2015/5-6 Jamadil Awal 1436H Abstract This study seeks to design a system of accounting records that families and clients of microfinance can utilize to help them make sound economic decisions and in communicating with other agencies. Using ethnography approach through secondary sources, this research aims at analysing poverty eradication models that have been implemented in both countries to understand how to develop accounting literacy that can be applied by clients and families in order to address rural poverty. By having a system of accounting records product that can be easily understood by the families and clients will help them to better manage their finances and consequently improve their life. This aspect has not been addressed in previous studies. Accounting language and records education helps individuals in controlling and directing their activities during the available fund for elevation to target the most urgent areas needed for intervention. It helps improving their business skills and would install confidence and build the self-esteem necessary to secure permanent improvement. Hence the aim is to design detail accounting and management records and budgets contents focus for supervising and instructing individuals on the best course of action. Key words: Poverty, Accounting Literacy, Egypt, Indonesia

PASCA: Penelitian Terdahulu: Consumerism in World History

Peter N. Stearns (2001). Consumerism in World History: The Global Transformation of Desire . Menjelaskan sejarah definisi konsumerisme: (1) consumerist movement dan (2) gaya hidup materialisme. Membahas konsumerisme sebagai suatu fenomena internasional dan sebagai suatu fenomena sejarah, dengan menjelaskan tentang : (1) kehidupan masyarakat sebelum konsumerisme dan bagaimana perubahan terjadi, (2) asal-usul konsumerisme modern di masyarakat barat, (3) sejauh mana konsumerisme mempengaruhi dan melemahkan kebudayaan tradisional lokal, (4) konsumerisme di Rusia, Asia Timur, Afrika dan dunia Islam di Timur Tengah, (5) isu-isu kontemporer dan evaluasi konsumerisme. “This ground-breaking study is the first of its kind to deal with consumerism both as an international and historical phenomenon.” the book presents: • human societies before consumerism and how they have changed • the origins of modern consumerism in Western society • the extent to which consumerism undercuts traditional regional cultures • consumerism in Russia, East Asia, Africa and the Islamic Middle East • contemporary issues and evaluations of consumerism. CONCLUSIONS The combination of three components – manipulation, fulfillment of social and personal needs, and habituation – serves as consumerism’s incubator and ongoing support. Shopping may offer some intrinsic pleasures, but there are reasons for its growing role in human life. Three question marks, particularly, apply to consumerism’s prospects during the early twenty-first century. Religious fervor can of course coexist with consumerism, but there are inevitable tensions. Will religion provide an alternative to consumer interests, and if so where, and to what extent? The second issue involves the new surge of protest against multinational corporations and global trade policies. Where will this lead? The third issue, related to both the others, involves the growing economic gap that has opened, worldwide, between the relatively affluent and the increasingly poor. The gap has widened steadily during the past two decades. Where will the growing inequality trend lead? Will it generate new forms of protest, or will it simply to continue to create a divide, within societies as well as internationally, between those who can and those who cannot significantly participate in modern history’s new toys? First, is consumerism making the world too homogeneous, at undue cost to regional identities and expressions? Second, will the spread of consumerism usher in other historical changes, and of what magnitude? And third, wherever it has hit or will alight, is consumerism a good thing, in terms of human values? We have seen that consumerism can affect more than buying habits and personal and family life.

PASCA: Penelitian Terdahulu: Financial Literacy

Volpe, Ronald P., Haiyang Chen, Sheen Liu (2006). An Analysis of the Importance of Personal Finance Topics and the Level of Knowledge Possessed by Working Adults. Financial Services Review 15: Academy of Financial Services . This study attempts to identify the important questions in personal financial literacy and the deficiencies in employees’ knowledge in those areas. Surveying benefit administrators at 212 U.S. companies, we found that the participants rate retirement planning and personal finance basics as two important topics where there are deficiencies in employees’ knowledge. We also observed deficiencies in other areas such as investments and estate planning. In contrast, employees are relatively well informed about company benefits. The results suggest that educational programs should focus on improving employees’ knowledge in areas where deficiencies exist. © 2006 Academy of Financial Services. All rights reserved. http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.392.598&rep=rep1&type=pdf

PASCA: Penelitian Terdahulu: Personal Finance Education

Peng, Tzu-Chin Martina, Suzanne Bartholomae, Jonathan J. Fox, Garrett Cravener (2007). The Impact of Personal Finance Education Delivered in High School and College Courses. Springer Science + Business Media, LLC . This study investigates the impact of personal finance education delivered in high school and college. Outcomes of interest were investment knowledge and household savings rates measured years after the financial education was delivered. A web-based survey with questions about participation in financial education, financial experiences, income and inheritances, and demographic characteristics was administered to 1039 alumni from a large Midwestern university. Participation in a college level personal finance course was associated with higher levels of investment knowledge. Experience with financial instruments appeared to explain more of the variance in both investment knowledge and savings rates. No significant relationship between taking a high school course and investment knowledge was found. Financial experiences were found to be positively associated with savings rates. http://link.springer.com/article/10.1007/s10834-007-9058-7#page-2

PASCA: Teknik Penarikan Contoh (Sampling Technique)

NON PROBABILITY SAMPLING (PENARIKAN CONTOH TIDAK BERPELUANG) Convenience Sampling Merupakan teknik sampling yang diambil berdasarkan yang menyenangkan saja, atau berdasarkan faktor spontanitas. Dengan kata lain, siapa saja yang secara tidak sengaja bertemu dengan peneliti dan responden yang ditemui sesuai dengan karakteristik responden yang dibutuhkan maka bisa saja orang tersebut dapat dijadikan sample. Penarikan contoh dengan metode convenience sampling merupakan metode yang paling menyenangkan dan yang paling ekonomis. Biaya yang diperlukan dengan menggunakan metode ini sangat rendah. Penggunaan metode ini sangat luas dalam praktiknya. Keunggulan teknik ini adalah tidak memerlukan daftar populasi. Sementara itu, kelemahan metode ini terletak pada keragamannya, disamping bias pengukurannya yang tidak dapat dihitung atau dikontrol. Kelemahan lainnya adalah tidak dapat dihitung atau dikontrol. Kelemahan lainnya adalah tidak dapat dilakukannya proyeksi data. Dalam hal ini, kegiatan memproyeksi data dengan metode convenience tidak tepat. Judgement Sampling (Purposive Sampling) Adalah teknik penarikan sampel yang dilakukan berdasarkan karakteristik yang ditetapkan terhadap elemen populasi target yang disesuaikan dengan tujuan atau masalah penelitian. Biaya yang diperlukan dengan menggunakan metode penarikan contoh dengan metode judgement sampling ini tidak besar dan juga tidak kecil (sedang). Metode ini cukup luas juga digunakan dalam prakteknya. Keunggulan metode ini adalah berguna untuk peramalan-peramalan tertentu. Disamping itu, sampel digaransikan terhadap tujuan tertentu. Sementara itu, kelemahan metode ini adalah jika terjadi bias pada keyakinan peneliti bahwa sampelnya baik, akan membuat sampel yang terambil tidak mewakili populasi. Kelemahan lainnya adalah tidak dapat dilakukannya proyeksi data. Dalam hal ini, kegiatan memproyeksi data dengan metode judgement sampling tidak tepat. Tanjung, Hendri dan Abrista Devi (2013). Metode Penelitian Ekonomi Islam. Jakarta: Gramata Publishing.

Saturday, October 10, 2015

PASCA: Research Methods (Carrie Williams): Content Analysis Study

Leedy dan Ormrod (2001) mendefinisikan metode ini sebagai "pengujian secara mendetil dan sistematis atas konten sebuah bagian dari suatu material dengan tujuan untuk mengidentifikasi pola, tema, atau prasangka" (p.155). Content analysis meninjau berbagai bentuk komunikasi manusia seperti buku, surat kabar, dan film serta bentuk-bentuk komunikasi lainnya dengan tujuan untuk mengidentifikasi pola, tema, atau prasangka. Metode ini dirancang untuk mengidentifikasi karakteristik spesifik dari konten dalam suatu komunikasi manusia. Peneliti memeriksa pola, tema, atau prasangka berbentuk verbal, visual, maupun behavioral. Prosedur proses untuk studi content analysis dirancang untuk mencapai tujuan analisa tertinggi, termasuk mengidentifikasi isi material untuk dipelajari dan mendefinisikan karakteristik atau qualities untuk diperiksa (Leedy & Ormrod, 2001). Pengumpulan data merupakan proses yang terdiri dari dua langkah. Langkah pertama, peneliti harus menganalisa material dan meletakkannya dalam sebuah tabel frekuensi penyebutan setiap karakteristik atau kualitas. Langkah kedua, peneliti melakukan analisa statistik sehingga data dilaporkan dalam format kuantitatif. Laporan penelitian terdiri dari 5 bagian: penjelasan dari dari bahan-bahan yang dipelajari, karakteristik dan kualitas yang dipelajari, deskripsi metodologi, analisa statistik yang menunjukkan tabel frekuensi, dan menggambarkan kesimpulan tentang pola, tema, dan prasangka yang ditemukan dalam komunikasi manusia dan kumpulan data.

Friday, October 9, 2015

PASCA: Research Methods (Carrie Williams): Grounded Theory Study

Creswell (2003) mendefinisikan penelitian grounded theory sebagai "peneliti berusaha mengambil teori general dan abstrak dari sebuah proses, tindakan, atau interaksi berdasarkan pandangan partisipan dalam sebuah penelitian" (p.14). Leedy dan Ormrod (2001) mengklarifikasikan lebih lanjut bahwa penelitian grounded theory dimulai dengan data yang dikembangkan menjadi sebuah teori. Istilah "grounded" menyediakan konteks metode ini, dan penelitian mengharuskan bahwa teori harus dihasilkan dari data yang dikumpulkan di lapangan, bukan dari literatur penelitian (Leedy & Ormrod, 2001). Grounded Theory kebanyakan telah digunakan pada disiplin ilmu sosiologi karena metode ini menganalisa tindakan dan reaksi masyarakat (actions and interactions). Penelitian grounded theory adalah proses pengumpulan data, analisa data, dan mengulangi prosesnya, dalam suatu format yang disebut metode constant comparative. Data dapat diperoleh dari beberapa sumber seperti wawancara dengan partisipan atau saksi mata, meninjau ulang rekaman video dan suara, serta observasi lapangan. Creswell (1998) sependapat dengan Leedy dan Ormrod (2001) bahwa format standar mengenai cara menganalisa data dalam penelitian grounded research terdiri dari: open coding, axial coding, selective coding, dan mengembangkan sebuah teori. Laporan grounded theory menggabungkan 5 aspek: menggambarkan pertanyaan penelitian, review literatur, menggambarkan metodologi, analisa data menjelaskan teori, dan mendiskusikan makna. *Catatan: sedikit mirip dengan thematic analysis

PASCA: Research Methods (Carrie Williams)

Research Quantitative Research Approach Quantitative Research Methodology Methods to Conduct Quantitative Research Qualitative Research Approach Qualitative Research Methodology Case Study Researchers explores in depth a program, an event, an activity, a process, or one or more individuals, required to have a defined time frame. Ethnography Study Studies an entire group that shares a common culture. The focus is on everyday behaviors to identify norms, beliefs, social structures, and other factors. Grounded Theory Study Researchers attempts to derive a general, abstract theory of a process, action, or interaction grounded in the views of participants in a study Phenomenological Study To understand an experience from the participants' point of view Content Analysis Study A detailed and systematic examination of the contents of a particular body of materials for the purpose of identifying patterns, themes, or biases Mixed Methods Approach Researchers incorporate methods of collecting or analyzing data from the quantitative and qualitative research approaches in a single research study. Researchers collect or analyze not only numerical data, which is customary for quantitative research, but also narrative data, which is the norm for qualitative research in order to address the research questions. *tanya: langkah2 metodologi content analysis study dan grounded theory study

Saturday, September 26, 2015

Pasca: Qualitative Research in Psychology: Using thematic analysis in psychology

Qualitative Research in Psychology: Using thematic analysis in psychology Virginia Braun & Victoria Clarke Published online: 21 Jul 2008. http://www.tandfonline.com/loi/uqrp20 To cite this article: Virginia Braun & Victoria Clarke (2006) Using thematic analysis in psychology, Qualitative Research in Psychology, 3:2, 77-101 To link to this article: http://dx.doi.org/10.1191/1478088706qp063oa Key words: epistemology; flexibility; patterns; qualitative psychology; thematic analysis What is thematic analysis? Thematic analysis is a method for identifying, analysing and reporting patterns (themes) within data. It minimally organizes and describes your data set in (rich) detail. However, frequently if goes further than this, and interprets various aspects of the research topic (Boyatzis, 1998). A number of decisions What counts as a theme? A rich description of the data set, or a detailed account of one particular aspect Inductive versus theoretical thematic analysis Semantic or latent themes Epistemology: essentialist/ realist versus constructionist thematic analysis The many questions of qualitative research Doing thematic analysis: a step-by-step guide Phases: 1. Familiarizing yourself with your data: transcription of verbal data: transcribing data (if necessary), reading and re-reading the data, noting down initial ideas. 2. Generating initial codes: coding interesting features of the data in a systematic fashion across the entire data set, collating data relevant to each code. 3. Searching for themes: collating codes into potential themes, gathering all data relevant to each potential theme. 4. Reviewing themes: checking if the themes work in relation to the coded extracts (Level 1) and the entire data set (Level 2), generating a thematic “map” of the analysis 5. Defining and naming themes: ongoing analysis to refine the specifics of each theme, and the overall story the analysis tells, generating clear definitions and names for each theme. 6. Producing the report: the final opportunity for analysis. Selection of vivid, compelling extract examples, final analysis of selected extracts, relating back of the analysis to the research question and literature, producing a scholarly report of the analysis. Pinning down what interpretative analysis actually entails Potential pitfalls to avoid when doing thematic analysis What makes good thematic analysis? So what does thematic analysis offer psychologists? Notes

Tuesday, August 18, 2015

Pasca: Metodologi Penelitian Kualitatif

Prof. Dr. H. M. Burhan Bungin, S.Sos., M.Si. 2011. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta, Indonesia: Kencana, Prenada Media Group. DESAIN PENELITIAN KUALITATIF: A. SUBSTANSI DESAIN PENELITIAN Format desain penelitian kualitatif secara teoretis berbeda dengan format penelitian kualitatif, namun perbedaannya terletak pada kesulitan di dalam membuat desain penelitian kualitatif itu sendiri karena umumnya penelitian kualitatif yang tidak berpola. Kesulitan membuat desain penelitian kualitatif disebabkan antara lain: (1) desain penelitian kualitatif itu adalah peneliti sendiri, sehingga penelitilah yang paham pola penelitian yang akan dilakukan, (2) masalah penelitian kualitatif yang amat beragam dan kasuistik sehingga sulit membuat kesamaan desain penelitian yang bersifat umum, karena itu cenderung desain penelitian kualitatif bersifat kasuistik, (3) ragam ilmu sosial yang variannya bermacam-macam sehingga memiliki tujuan dan kepentingan yang berbeda-beda pula terhadap metode penelitian kualitatif. INFORMAN DAN METODE PENGUMPULAN DATA KUALITATIF MENENTUKAN INFORMAN DENGAN PROSEDUR PURPOSIF Adalah salah satu strategi menentukan informan yang paling umum di dalam penelitian kualitatif, yaitu menentukan kelompok peserta yang menjadi informan sesuai dengan kriteria terpilih yang relevan dengan masalah penelitian tertentu, misalnya; penderita HIV, mahasiswa, pegawai, ibu rumah tangga, dokter, dan dosen. Contoh dari penggunaan prosedur purposif ini adalah antara lain dengan menggunakan key person. Ukuran besaran individu key person atau informan, yang mungkin atau tidak mungkin ditunjuk sudah ditetapkan sebelum pengumpulan data, tergantung pada sumber daya dan waktu yang tersedia, serta tujuan penelitian. Dengan kata lain besaran key person yang digunakan sebagai informan disesuaikan dengan struktur sosial saat pengumpulan data dilakukan. Kunci dasar penggunaan prosedur ini adalah penguasaan informasi dari informan dan secara logika bahwa tokoh-tokoh kunci di dalam proses sosial selalu langsung menguasai informasi yang terjadi di dalam proses sosial itu. Ukuran sampel purposif sering kali ditentukan atas dasar teori kejenuhan (titik dalam pengumpulan data saat data baru tidak lagi membawa wawasan tambahan untuk pertanyaan penelitian). Namun informan berikutnya akan ditentukan bersamaan dengan perkembangan review dan analisis hasil penelitian saat pengumpulan data berlangsung. METODE WAWANCARA MENDALAM Wawancara mendalam secara umum adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama. Dengan demikian, kekhasan wawancara mendalam adalah keterlibatannya dalam kehidupan informan.

Thursday, July 16, 2015

Tadabbur ayat-ayat Quran tentang personal finance di detik-detik terakhir Ramadhan 1436 H

Landasan hukum dalam Al-Qur’an tentang kewajiban untuk mengelola harta dengan baik dapat ditemukan dalam HR. at-Tirmidzi no. 2416, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, jilid 10, hal 8, no. 9772 dan Hadits ini telah dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 946 “Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi RabbNya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya”. Al-Asyaqar menjelaskan bahwa dalam rangka membelanjakan harta secara Islami , maka ada beberapa syarat yang harus terpenuhi dalam diri pembelanja dan ketentuan dalam membelanjakan harta. Syarat untuk pembelanja adalah: iman kepada Allah SWT dan ikhlas karena Allah SWT, diperoleh dengan usaha yang disyariatkan dan baik, tidak membanggakan dan menyebut-nyebut harta yang diinfakkan kepada orang lain, dialokasikan pada tempat-tempat yang disyariatkan, tidak bersikap aniaya dan zalim kepada orang lain, serta menyadari dan mensyukuri nikmat kekayaan adalah dari Allah SWT. Sedangkan ketentuan mengalokasikan dana atau berinfak adalah: memulai dengan skala prioritas yaitu dimulai dari diri sendiri kemudian keluarga dan kerabat yang paling dekat, jika ada kelebihan dari kebutuhan tersebut boleh berinfak kepada orang lain, menyegerakan melakukannya sebelum kematian menjemput, berinfak dari harta yang dicintai, dan sederhana. Yang dimaksud sederhana adalah kondisi pertengahan dan keseimbangan, yaitu menghindari: (1) sikap boros, mubadzir dan berlebihan, serta menghindari (2) sikap bakhil dan kikir, berdasarkan dalil yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan (25) ayat 67, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian”. Pengelolaan harta dalam Islam bersikap pertengahan, adil, dan seimbang yaitu mengalokasikan infak pada tempatnya yang proporsional dan baik sehingga sistem masyarakat akan terbangun dan berjalan serta tidak terhenti. Pemborosan merupakan penghancuran dan pembinasaan terhadap harta benda sehingga tidak dapat dijaga dan dilestarikan, sedangkan kikir berakibat pada penahanan harta sehingga tidak tersalurkan pada orang-orang yang berhak. Definisi pemborosan (israf) adalah pembelanjaan dan penggunaan sesuatu melebihi kelayakannya yaitu membelanjakan harta pada tempat-tempat yang disyariatkan namun melebihi standar yang dibutuhkan. Definisi tabdzir adalah membelanjakan dan mempergunakan sesuatu pada tempat dan kondisi yang tidak semestinya yaitu dapat diartikan pada hal-hal yang haram. Dalil yang melarang pemborosan atau israf dan kewajiban bersikap sederhana dan adil terdapat pada Al-Qur’an surat Al-A’raaf (7) ayat 31 “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” Definisi bakhil adalah menahan diri dari harta sendiri yaitu menahan hak-hak yang wajib ditunaikan dan bersikap kikir dalam infak-infak yang sunnah. Definisi kikir (taqtir) adalah bagian dari sikap bakhil tetapi terlalu menyempitkan dan hemat atas nafkah keluarga hingga menyebabkan kelaparan. Dalil pelarangan sikap bakhil terdapat dalam Al-Qur’an surat Ali Imran (3) ayat 180 “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Dalil-dalil berikut menjelaskan tentang skala prioritas yang harus diikuti dalam mengalokasikan harta yang dimiliki yaitu dari dirinya sendiri, kemudian keluarga dan kerabat yang menjadi tanggungannya, dan kemudian bagi orang-orang lain yang membutuhkan dalam masyarakat (Al-Asyaqar, 2006): - QS Al-Baqarah (2): 219: “…Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir.” Ayat ini menunjukkan bahwa manusia diperintahkan untuk mengontrol harta bendanya yang dapat memenuhi kebutuhannya dan tanggungannya, dan bila masih tersisa melebihi batas kecukupan maka boleh diinfakkan. - HR Ahmad yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. berkata, “Rasulullah SAW bersabda “bersedekahlah kalian!” seseorang berkata “aku punya satu dinar”. Rasulullah SAW bersabda “bersedekahlah atas dirimu sendiri”. Dia berkata lagi “aku masih punya satu dinar lagi”. Rasulullah SAW bersabda “bersedekahlah atas istrimu dengannya”. Dia berkata lagi “aku masih punya satu dinar lagi”. Rasulullah SAW bersabda “bersedekahlah atas anakmu dengannya”. Dia berkata lagi “aku masih punya satu dinar lagi”. Rasulullah SAW bersabda “kamu lebih tahu (dimana kamu menginfakkannya).” Hadits ini menunjukkan bahwa manusia harus menjamin terlebih dahulu kecukupan dirinya dan tanggungannya baru boleh bersedekah setelah itu dari kelebihannya.

Saturday, June 27, 2015

Consumer Behavior: Materialism and Consumerism

Consumer Behavior: Buying, Having, and Being 10th Edition Michael R. Solomon. 2013. Essex, England: Pearson Education Limited. Chapter 4 Motivation and Global Values Page 142 Motivation refers to the processes that lead people to behave as they do. It occurs when a need is aroused that the consumer wishes to satisfy. The need creates a state of tension that drives the consumer to attempt to reduce or eliminate it. This need may be utilitarian (i.e., a desire to achieve some functional or practical benefit, as when a person loads up on green vegetables for nutritional reasons) or it may be hedonic (i.e., an experiential need, involving emotional responses or fantasies, as when Basil longs for a juicy steak). The desired end state is the consumer’s goal. Page 144-145 Needs versus Wants The specific way we choose to satisfy a need depends on our unique history, learning experiences, and cultural environment. Two classmates may feel their stomachs rumble during a lunchtime lecture. If neither person has eaten since the night before, the strength of their respective needs (hunger) would be about the same. However, the ways each person goes about satisfying this need might be quite different. The first person may be a vegetarian like Paula, who fantasizes about gulping down a big handful of trail mix, whereas the second person may be a meat hound like Basil who gets turned on by the prospect of a greasy cheeseburger and fries. What Do We Need? We are born with a need for certain elements necessary to maintain life, such as food, water, air, and shelter. These are biogenic needs. We have many other needs, however, that are not innate. We acquire psychogenic needs as we become members of a specific culture. These include the needs for status, power, and affiliation. Psychogenic needs reflect the priorities of a culture, and their effect on behavior will vary from environment to environment. For example, a U.S. consumer devotes a good chunk of his income to products that permit him to displays his individuality, whereas his Japanese counterpart may work equally hard to ensure that he does not stand out from his group. We can also be motivated to satisfy either utilitarian or hedonic needs. When we focus on a utilitarian need, we emphasize the objective, tangible attributes of products, such as miles per gallon in a car; the amount of fat, calories, and protein in a cheeseburger; or the durability of a pair of blue jeans. Hedonic needs are subjective and experiential; here we might look to a product to meet our needs for excitement, self-confidence, or fantasy—perhaps to escape the mundane or routine aspects of life. Many items satisfy our hedonic needs (there’s even a popular resort called Hedonism). Luxury brands in particular thrive when they offer the promise of pleasure to the user—how badly do you “need” that Armani suit or Tiffany brooch? Of course, we can also be motivated to purchase a product because it provides both types of benefits. For example, a woman (perhaps a politically incorrect one) might buy a mink coat because of the luxurious image it portrays and because it also happens to keep her warm through the long, cold winter. Indeed, recent research on novel consumption experiences indicates that even when we choose to unusual things (like eating bacon ice cream or staying in a freezing ice hotel), we may do so because we have what the authors term a productivity orientation. This refers to a continual striving to use time constructively: Trying new things is a way to check them off our “bucket list” of experiences we want to achieve before moving on to others. Page 170-171 Materialism: “He Who Dies with the Most Toys Wins” Our possessions play a central role in our lives, and our desire to accumulate them shapes our value systems. Materialism refers to the importance people attach to worldly possessions. We sometimes take the bounty of products and services for granted, until we remember how recent this abundance is. For example, in 1950, two of five American homes did not have a telephone, and in 1940, half of all households still did not possess complete indoor plumbing. During World War II, members of “cargo cults” in the South Pacific literally worshiped cargo salvaged from crashed aircraft or washed ashore from ships. They believe that their ancestors piloted the ships and planes passing near their islands, so they tried to attract them to their villages. They went so far as to construct fake planes from straw to lure the real ones. We may not worship products to that extent, but many of us certainly work hard to attain our vision of the good life, which abounds in material comforts. Most young people can’t imagine a life without cell phones, MP3 players, and other creature comforts. In fact, we can think of marketing as a system that provides certain standards of living to consumers. To some extent, then, the standards of living we expect and desire influence our lifestyles, either by personal experience or as a result of the affluent characters we see on TV and in movies. Materialists Materialistic values tend to emphasize the well-being of the individual versus the group, which may conflict with family or religious values. That conflict may help to explain why people with highly material values tend to be less happy. Furthermore, materialism is highest among early adolescents (12 to 13 years old) in comparison to children or late adolescents—perhaps it’s no coincidence that this is the age group that also has the lowest level of self-esteem. Materialists are more likely to value possessions for their status and appearance-related meanings, whereas those who do not emphasize this value tend to prize products that connect them to other people or that provide them with pleasure when they use them. As a result, high materialists prefer expensive products that they publicly consume. A study that compared specific items that low versus high materialists value found that people low on the materialism value cherished items such as a mother’s wedding gown, picture albums, a rocking chair from childhood, or a garden, whereas those who scored high preferred things such as jewelry, china, or a vacation home. Materialistic people appear to link more of their self-identity to products (more on this in Chapter 5). One study found that when people who score high on this value fear the prospect of dying, they form even stronger connections to brands. Another study reported that consumers who are “love-smitten” with their possessions tend to use these relationships to compensate for loneliness and a lack of affiliation with social networks. Materialism and Economic Conditions One byproduct of the Great Recession has been to force many consumers to reconsider the value of their possessions. As one woman observed, “The idea that you need to go bigger to be happy is false. I really believe that the acquisition of material goods doesn’t bring about happiness.” This doesn’t necessarily mean that people will stop buying—but perhaps, at least for a while, they will do so more carefully. In the words of one industry analyst, “We’re moving from a conspicuous consumption—which is ‘buy without regard’—to a calculated consumption.” In 2010, American consumers on average saved more than 6 percent of their income—before the recession the rate was 1 to 2 percent. Ironically, bad economic conditions may make at least some people happier. Research on the relationship between consumption and happiness tends to show that people are happier when they spend money on experiences instead of material objects, when they relish what they plan to buy long before they buy it, and when they stop trying to outdo their neighbors. One study reported that the only consumption category that was positively related to happiness involved leisure: vacations, entertainment, sports and equipment like golf clubs and fishing poles. This finding is consistent with changes in buying patterns, which show that consumers have tended to choose experiences over objects during the last couple of years. For example, they may choose to entertain themselves at home rather than going out, or even to forgo a trip to Disney World for a “stay-cation” in the backyard. Another factor is just how much of a “buzz” we get from the stuff we buy. The research evidence points to the idea that consumers get more “bang for their buck” when they buy a bunch of smaller things over time, rather than blowing it all on one big purchase. This is due to what psychologists call hedonic adaptation; it basically means that to maintain a fairly stable level of happiness, we tent to become used to changes, big or small, wonderful or terrible. That means that over time the rush from a major purchase will dissipate and we’re back to where we started (emotionally speaking). So, the next time you get a bonus or find an envelope stuffed with cash on the street, take a series of long weekends instead of splurging on that three-week trip to Maui.

Friday, June 12, 2015

PASCA: tips penulisan tesis ekonomi Islam

Berdasarkan pengalaman pribadi, dalam penelitian ini yang menghabiskan waktu paling banyak adalah "kegalauan" dalam menentukan tema, metodologi penelitian yang memenuhi syarat tulisan ilmiah, serta "memilih" pembimbing yang tepat. Kegalauan pertama yaitu mencari tema yang menarik untuk diteliti, yang diusahakan tema tersebut merupakan passion peneliti, atau bidang studi yang ingin didalami oleh peneliti. Dalam menjawab kegalauan ini, selain melakukan eksplorasi atas pemikiran pribadi dan pengalaman pribadi (eksplorasi atas past, present, future condition) penulis juga sampai harus melakukan tes bakat natural menggunakan teknik analisa sidik jari dari trademark STIFIN. Kemudian diarahkan sesuai dengan minat dan bakat tersebut. Kegalauan kedua adalah mencari metodologi penelitian yang memungkinkan untuk dilakukan oleh peneliti tetapi memenuhi standar penulisan ilmiah, yang sangat berkaitan erat dengan pembimbing karena membutuhkan banyak diskusi. Sampai disini penulis merasakan jika tema sudah didapatkan kemudian mulai mengetik proposal tesis dari bab 3 metodologi penelitian, karena jika dimulai dari bab 1 dan bab 2 kemudian ketika di bab 3 tidak menemukan metodologi yang tepat maka bab 1 dan 2 akan berubah total sehingga penulis merasakan bolak balik membongkar ulang isi bab 1 dan 2 yang jika dihitung total timeline dilakukan sejak semester 2 (maret 2014) dalam matakuliah metodologi penelitian hingga bulan ini (juni 2015)

Wednesday, July 2, 2014

PASCA: Buku Riset Pemasaran dan Konsumen

Riset Pemasaran dan Konsumen: Panduan Riset dan Kajian: Kepuasan, Perilaku Pembelian, Gaya Hidup, Loyalitas, dan Persepsi Risiko

Ujang Sumarwan, Ahmad Jauzi, Asep Mulyana, Bagio Nugroho Karno, Ponti Kurniawan Mawardi, Wahyu Nugroho

PT Penerbit IPB Press, Bogor (2011)


PROSES RISET PEMASARAN DAN KONSUMEN

Riset pemasaran dan konsumen dapat didefinisikan sebagai kegiatan untuk mengidentifikasi, mengumpulkan, menyebarluaskan data dan informasi mengenai pasar dan perilaku konsumen secara sistematik. Data dan informasi tersebut digunakan untuk masukan dalam proses keputusan yang terkait dengan pemecahan masalah dan pemanfaatan peluang pemasaran dan bisnis.

Riset pemasaran diklasifikasikan menjadi dua, yaitu: (1) untuk mengidentifikasi masalah (problem identification research), dan (2) memecahkan masalah pemasaran (problem solving research).
Problem Identification Research bertujuan untuk mengidentifikasi masalah yang telah muncul atau yang akan muncul di masa depan, misalnya identifikasi mengenai masalah kepuasan konsumen, pangsa pasar, citra merek, karakteristik pasar dan persaingan, dan penjualan dan peramalan pasar.
Problem Solving Research bertujuan untuk mengidentifikasi masalah dan merumuskan pemecahan masalahnya. Semua data dan informasi digunakan untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi perusahaan.

Proses Riset Pemasaran terdiri dari enam langkah:
1. Mendefinisikan masalah
Tujuan penelitian, latar belakang informasi yang relevan, informasi yang diperlukan, dan bagaimana informasi itu akan digunakan dalam pengambilan keputusan. Dapat dilakukan dengan cara: diskusi, wawancara, analisis data sekunder, wawancara mendalam, focus group discussion.

2. Mengembangkan pendekatan masalah
Perumusan tujuan atau kerangka teori, analisis model, pertanyaan penelitian, hipotesis, dan identifikasi faktor2.
3. Menyusun desain penelitian, meliputi:
Analisis data sekunder, riset kualitatif, metode pengumpulan data kuantitatif, pengukuran dan prosedur penskalaan, desain kuesioner, proses pengambilan sampel dan menentukan ukuran sampel, rencana analisis data
4. Pekerjaan lapangan atau pengumpulan data: wawancara lisan dan tulisan
5. Persiapan dan analisis data
6. Persiapan laporan dan presentasi

Riset pemasaran mempunyai 4 stakeholder, yaitu: (1) peneliti, (2) klien perusahaan atau lembaga yang meminta melakukan riset, (3) responden, (4) publik atau masyarakat

Mendefinisikan Masalah Riset Pemasaran
1. Diskusi dengan pengambil keputusan
2. Interview dengan ahli
3. Analisa data sekunder
4. Riset kualitatif


DESAIN PENELITIAN

Desain penelitian adalah kerangka atau cetak biru untuk melaksanakan proyek riset pemasaran. Desain penelitian merupakan rincian prosedur dalam memperoleh informasi yang diperlukan untuk struktur atau memecahkan masalah-masalah riset pemasaran. Desain penelitian juga dapat didefinisikan sebagai prosedur bagaimana mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis suatu data.

Desain penelitian diklasifikasikan sebagai penelitian eksplorasi atau konklusif. Tujuan utama dari penelitian eksplorasi adalah untuk memberikan wawasan dan pemahaman masalah yang dihadapi peneliti. Penelitian eksplorasi digunakan dalam kasus-kasus ketika seseorang harus menentukan masalah lebih tepat, mengidentifikasi tindakan yang relevan, atau mendapatkan wawasan tambahan sebelum pendekatan dapat dikembangkan, misalnya wawancara pribadi dengan para pakar industri. Mengingat karakteristik proses penelitian eksplorasi, temuan-temuan dari penelitian eksplorasi harus dianggap sebagai tentatif atau sebagai masukan untuk penelitian lebih lanjut.

Penelitian eksplorasi adalah desain penelitian dengan tujuan utama pemberian wawasan dan pemahaman tentang situasi masalah yang dihadapi peneliti. Penelitian eksplorasi bersifat fleksibel dan tidak terstruktur, jumlah sampel kecil dan tidak mewakili, dan menggunakan analisis kualitatif. Penelitian eksplorasi biasanya dilanjutkan dengan penelitian konklusif.
Penelitian konklusif bersifat lebih formal dan terstruktur, dan biasanya menguji hipotesis atau hubungan antar variabel, informasi yang dibutuhkan didefinisikan secara jelas, jumlah sampel banyak dan mewakili populasi, dan analisis data menggunakan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian konklusif dapat digunakan sebagai masukan untuk pengambilan keputusan manajemen. Penelitian konklusif terdiri dari penelitian deskriptif dan penelitian kausal (eksperimen).

Research design:
1. Exploratory research design
2. Conclusive research design:
a) Descriptive research: (1) cross-sectional design, (2)longitudinal design
b) Causal research

Penelitian Eksplorasi
digunakan untuk tujuan berikut:
a. Merumuskan masalah atau merumuskan masalah lebih tepat
b. Mengidentifikasi alternatif tindakan
c. Mengembangkan hipotesis
d. Isolasi dan hubungan variabel kunci untuk pemeriksaan lebih lanjut
e. Dapatkan wawasan untuk mengembangkan pendekatan terhadap masalah
f. Menetapkan prioritas untuk penelitian lebih lanjut

Penelitian Deskriptif
tujuan utama untuk menggambarkan sesuatu, biasanya karakteristik atau fungsi pasar

Cross-sectional Designs
yang paling sering digunakan desain deskriptif dalam riset pemasaran

Longitudinal Designs