Monday, June 11, 2018

Consumerism in Personal Finance: An Islamic Wealth Management Approach

I dedicated a whole new blog for the details of my work from 2015-2018 please come and visit it in


https://islamicpersonalfinance-konsumerisme.blogspot.com/


The summarizing paper has been published in Jurnal Iqtishad UIN
http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/iqtishad/article/view/5518


The paper has also been presented in ICIEFA Tazkia 2018
http://iciefa.tazkia.ac.id/


ABSTRACT

Farisah Amanda, 2016, Analysis of Consumerism in Personal Finance and Solution Model Based on Concepts of Financial Planning and Islamic Wealth Management. Thesis, Magister of Shariah Economic, Tazkia Postgraduate Program. Supervisor: I. Dr. Achmad Firdaus, M.Si., II. Bayu Taufiq Possumah, Ph.D.

Consumerism as an excessive materialism and a waste of resources has become an international phenomenon. Consumerism is not followed by a sufficient personal finance education. In other hand, Islam as a comprehensive religion should be able to provide a solution to the problem of consumerism in Muslims’ personal finance. This study analizes consumerism phenomenon from the perspective of personal finance and create a solution model based on financial planning and Islamic wealth management concepts. Research design used is descriptive qualitative with three analysis methods: content analysis, document analysis, and thematic analysis. Research shows that the factors causing consumerism are: (1) external: advertisement, supply availability, access to consumer credit, promotion in social media, macroeconomics conditions, the lack of personal finance education, (2) internal: low level of financial literacy causing incapability to manage personal finance, not using Islamic principles as a basis in managing personal finance. Negative impacts of consumerism on personal finance are: (1) imbalance: spending more than income causing negative balance in personal financial report, (2) debt trap: dependence on debt for consumption can scrape into personal assets, (3) not enough fund for long term financial needs such as education and retirement preparation, (4) no allocation for productive and charity purposes. Personal financial planning can contribute to the effort of eliminating negative impacts of consumerism on personal finance. The percentage set as a maximum limit for consumption ranged from 40%, 75%, 87,5%, and 90% out of total personal income. Concepts of Islamic wealth management used as a solution of consumerism in personal finance are: (1) basic concepts: concept of wealth, concept of rizqi, concept of blessing, standard of sufficiency and wealth, (2) principles of consumption in Islam: halal and good, moderation, balance, (3) wealth management in Islam to avoid consumerism: hierarchy of consumption, differentiate between needs and wants, modest lifestyle, prohibition of luxurious and redundant lifestyle, avoid debts, priorities in consumption and maqashid sharia, concepts of zakat and shodaqoh.

JEL Classification: D1, Z1, Z12, Z13, I31
Keywords: Consumerism, Personal Finance, Financial Planning, Islamic Wealth Management


ABSTRAKSI

Farisah Amanda, 2016, Analisis Konsumerisme dalam Keuangan Personal dan Model Solusi Berdasarkan Konsep Perencanaan Keuangan dan Manajemen Harta Islam. Tesis, Magister Ekonomi Syariah, Program Pascasarjana Tazkia. Pembimbing: I. Dr. Achmad Firdaus, M.Si., II. Bayu Taufiq Possumah, Ph.D.

Konsumerisme sebagai kondisi materialisme yang berlebih-lebihan dan pembuangan sumber daya telah menjadi suatu fenomena internasional. Konsumerisme tidak diimbangi dengan pendidikan dan edukasi keuangan personal yang memadai. Di sisi lain, Islam sebagai agama yang komprehensif seharusnya dapat menawarkan solusi bagi permasalahan konsumerisme dalam keuangan personal seorang muslim. Penelitian ini menganalisis fenomena konsumerisme dari sudut pandang keuangan personal dan membuat model solusi yang berasal dari konsep perencanaan keuangan dan manajemen harta Islam. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yang menggunakan tiga macam metodologi analisa data yaitu analisis isi, analisis dokumen, dan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan faktor-faktor penyebab konsumerisme pada masyarakat terdiri dari: (1) eksternal: iklan, ketersediaan penawaran, ketersediaan akses pada kredit konsumsi, promosi media sosial, kondisi ekonomi makro, kurangnya pendidikan keuangan personal, (2) internal: tingkat literasi keuangan yang rendah menyebabkan ketidakmampuan mengelola keuangan personal, tidak menggunakan prinsip Islam sebagai dasar mengelola keuangan personal. Dampak negatif konsumerisme pada keuangan personal adalah: (1) ketidakseimbangan: pengeluaran lebih besar daripada pemasukan menyebabkan saldo negatif dalam neraca laporan keuangan personal, (2) jebakan hutang: ketergantungan berhutang untuk konsumsi dapat mengurangi aset personal, (3) tidak ada dana untuk keperluan jangka panjang seperti pendidikan dan persiapan pensiun, (4) tidak ada alokasi untuk tujuan produktif dan tujuan sosial. Perencanaan keuangan personal dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam usaha untuk menghilangkan dampak negatif konsumerisme pada keuangan personal. Persentasi batas maksimal untuk konsumsi dalam alokasi pendapatan personal bervariasi antara 40%, 75%, 87,5%, dan 90% dari keseluruhan pendapatan. Konsep manajemen harta Islami yang digunakan sebagai solusi permasalahan konsumerisme dalam keuangan personal adalah sebagai berikut: (1) konsep dasar: konsep harta, konsep rezeki, konsep keberkahan, serta standar kecukupan dan kekayaan, (2) prinsip konsumsi dalam ekonomi Islam: halal dan baik, moderat atau pertengahan, keseimbangan, (3) konsep manajemen harta Islami yang dapat membantu mengeliminir dampak negatif konsumerisme adalah: hirarki konsumsi, kebutuhan dan keinginan, gaya hidup sederhana, larangan bermewah-mewahan dan mubazir yaitu larangan menyia-nyiakan dan tidak memanfaatkan harta, menghindari hutang piutang, skala prioritas konsumsi dan maqashid syariah, konsep zakat dan sedekah.
Klasifikasi JEL: D1 , Z1 , Z12 , Z13 , I31
Kata Kunci: Konsumerisme, Keuangan Personal, Perencanaan Keuangan, Manajemen Harta Islam

Friday, June 1, 2018

Menumbuhkan Kecintaan, Mengenalkan Syariat, Keajaiban Sains

ARTIKEL 1

FB Harry Santosa

Makna Adab bagi Anak Usia Dini

Balita atau usia dini itu memang belum saatnya harus beradab dalam arti tertib dan disiplin. Adab di usia dini itu gairah melakukan kebaikan, bukan sempurna melakukan kebaikan. Banyak orangtua atau guru, ingin anak anaknya segera beradab sejak dini, tanpa tahu makna adab, walhasil kelak menjumpai anaknya malah tak beradab ketika besar.

Misalnya Adab pada Ilmu di usia dini berbeda dengan adab pada ilmu di usia setelahnya. Di usia dini, adab pada ilmu bukanlah duduk diam tertib santun mendengarkan guru, tetapi adalah gairah dan cinta pada buku, gairah pada kisah kisah tokoh ilmuwan, gairah keseruan bermain di alam terbuka dengan menyentuh, meraba, berlarian bereksplorasi dstnya.

Sholat adalah adab kpd Allah, bahkan baru diperintah ketika usia 7 tahun, bukan sejak dini. Apakah Allah lalai mengadabkan anak usia dini? Subhanallah, Allah Maha Tahu bahwa fitrah anak usia dini belum saatnya diperintah dengan formal. Adab pada usia dini bukan tertib dan disiplin, tetapi gairah kecintaan untuk melakukan kebaikan walau tak sempurna.

Begitupula dengan Berpuasa atau shaum, bagi anak usia dini, shoum itu bukan harus puasa sehari penuh, tetapi jadikan keseruan Ramadhan dalam aktifitas keseharian, misalnya gairah ketika bangun sahur bersama dengan makanan kesukaan di tenda di halaman rumah, antusias ketika jalan bersama ayah ke masjid sambil bernasyid walau sampai masjid ia main atau tertidur, semangat ketika masak bareng bunda menu berbuka puasa yg unik, keseruan ketika berbuka bersama dan bertarawih dstnya.

Begitupula "Berzakat" apakah kita mewajibkan anak usia dini tertib berzakat? Tentu tidak bukan, tetapi gairah berkunjung ke panti asuhan dan berbagi hadiah pada anak yatim, membagikan ta'jil kepada orang lewat, mengantarkan makanan ke tetangga, dstnya.

Jadi ayah bunda, turunkan ekspektasi, jangan artikan adab sebagai disiplin formal dan etika untuk anak usia dini, jangan tergesa mengadabkan shg harus sempurna dan tertib, jangan gunakan ukuran orang dewasa, nanti anak malah membenci adab sepanjang hidupnya.

Shabar saja utk membuatnya cinta pd kebaikan, teladankan saja adab itu pada ananda usia dini hingga berbinar matanya, hingga asik bahagia gesturnya.... kelak kau kan menyaksikan betapa ananda akan bergairah untuk beradab sepanjang hidupnya

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

https://www.facebook.com/harry.hasan.santosa/posts/10216012758501908


ARTIKEL 2

Kecil-Kecil Berpuasa

Generasi salaf adalah generasi teladan. Muslim maupun muslimahnya, orang dewasa maupun anak kecilnya, dalam perkara ibadah maupun muamalah.

Di antara bentuk keteladanan generasi salaf adalah melatih anak kecil yang belum mukallaf untuk turut beribadah bersama kaum muslimin. Salah satu ibadah tersebut adalah puasa.

Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz; dia berkata, “Rasulullah mengutus untuk mengumumkan pada pagi hari asyura’ di wilayah kaum Anshar yang berada di sekitar kota Madinah.

من كان أصبح صائما فليتمّ صومه ومن كان أصبح مفطرا فليتمّ بقية يومه

‘Barang siapa yang pagi hari ini berpuasa, hendaklah menyelesaikannya. Barang siapa yang tidak berpuasa (sudah sarapan), hendaknya menahan (makan dan minum) sampai selesai.’

Setelah adanya pengumuman itu, kami berpuasa dan mengajak anak-anak untuk melaksanakan puasa. Kami juga mengajak mereka ke masjid dan memberikan mereka mainan dari kulit (wol). Jika mereka menangis karena lapar, kami menyodorkan mainan sampai waktu berbuka puasa tiba.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Selengkapnya di https://muslimah.or.id/5692-kecil-kecil-sudah-berpuasa-tips-melatih-anak-kecil-berpuasa.html


DISKUSI (SINGKAT)

Tampaknya, kedua artikel diatas sedikit "bertentangan"... walau tentu saja sebenarnya antara keduanya bisa dikompromikan. Tapi saya sedang tidak ingin membahas bagaimana mengkompromikan kedua artikel itu, saya sedang ingin membahas mengapa saya lebih condong kepada artikel 1 daripada artikel 2. Dengan sedikit membuka aib, saya harus membuat pernyataan bahwa saya adalah "korban" pemaksaan syariat sebelum penumbuhan cinta dituntaskan. Di masa kecil saya lebih dahulu diharuskan belajar tentang syariat sebelum kecintaan terhadap agama tumbuh. Hasilnya, sampai saat ini bisa jadi saya tahu hukum2 syariat ini itu tetapi untuk menerapkannya dalam kehidupan pribadi suliiit sekali. Kalau di komunitas jiwa sehat Indonesia mungkin saya ini dianggap punya gangguan mental emosional, dan bisa jadi memang benar karena: Jika orang lain marah kemudian mengucap istighfar katanya akan mengurangi kemarahannya, tapi buat saya? jika saya sedang marah dan ada yang (menyuruh) mengucap istighfar, saya malah tambah marah! (imagine that!)

Ketika saya mulai dewasa dan sudah tidak "dipaksa" mempelajari agama, saya baru mencari apa yang membuat saya stay a muslim and maybe start to love Islam. Sampai akhirnya saya menemukan buku keajaiban ilmiah dalam Quran (dulu buku seperti ini masih jarang sekali ada).

Di Ramadan 1439 H (m. 2018 AD) ini, saya suka sekali membaca ayat2 sains, dan bagaimana ayat2 tersebut bisa mendeskripsikan detil2 sains yang belum ditemukan -hasn't been discovered by modern science- pada tahun m. 632 AD (anno domini, 632 years after Jesus born). Dan bagaimana ayat2 sains yang saat ini (present) kebanyakan sudah dibuktikan kebenarannya menggunakan metodologi ilmiah oleh para ilmuwan, disandingkan dengan ayat2 prediksi masa depan (future) tentang kejadian2 setelah manusia meninggalkan dunia ini. Well, mudah2an setelah ini saya mendapat sedikit lebih banyak energi dan kemudahan untuk menerapkan lebih banyak ilmu yang sudah saya pelajari secara teori ke dalam praktek (aamiin yaa rabbal 'aalamiin).

Aaand... contact me if you want to know how to compromise -mengkompromikan kedua artikel tersebut diatas- I might have the mood to have a chat about it.

Monday, January 22, 2018

Hukum Jual Beli dalam Dunia Pendidikan

Catatan Kajian Ilmiah 20 Januari 2018 "HUKUM JUAL BELI DALAM DUNIA PENDIDIKAN"

Pembahasan Uang Gedung / Uang Muka Masuk Sekolah
-Contoh kasus SDIT dengan perincian uang pangkal yang terdiri dari wakaf
-Solusi pilihan akad: (1) wakaf, (2) sewa gedung, (3) investasi.
-Jika akad wakaf konsekuensinya termasuk akad hibah tetapi tidak boleh diwajibkan, dan semuanya harus digunakan untuk aset2 wakaf milik Allah, bukan milik yayasan atau perorangan. Status gedung wakaf tetap milik Allah walaupun sekolahnya tidak lagi menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar.
-Sewa gedung selama anak tsb bersekolah, pembayaran dilakukan setiap tahun dan dibebankan kepada seluruh angkatan. Jika akad sewa untuk 6 tahun di awal, maka sekolah tidak mengembalikan uangnya secara proporsional jika anak tsb pindah sekolah sebelum 6 tahun. Hal ini disamakan dengan sewa rumah karena jika sudah akad sewa untuk 1 tahun maka walaupun tidak ditempati lagi tetapi tidak ada orang lain yang boleh menempati. Jika ada anak lain yang masuk mengisi kuota anak yang pindah maka sekolah tidak boleh mengenakan biaya sewa karena sudah ditanggung oleh anak yang pindah.
-Ikut investasi pembangunan gedung, konsekuensinya harus ada kepemilikan saham siswa baru thd sekolah ybs.
-Posisi orangtua yang tetap membayar sebagai pihak yang terpaksa daripada anaknya tidak bisa sekolah
-Kesimpulannya status uang muka / uang gedung termasuk uang dzolim dan gharar.

Pembahasan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP)
-Sumbangan seharusnya tidak wajib yaitu sesuai kemampuan orangtua, seharusnya bahasanya adalah “kewajiban”, m enjadi KPP.
-Intinya yang berlangsung adalah akad sewa (ijarah), yang tidak membayar seharusnya tidak boleh ikut kegiatan belajar mengajar.
-Boleh berbeda turun naiknya, tetapi merupakan bagian dari kemaslahatan umum oleh karena itu sebaiknya dipertimbangkan dengan baik.
-Status SPP adalah sewa belajar mengajar.
-Di masa klasik, pelajar ilmu2 syariah tinggal di rumah gurunya dan orangtuanya yang mencukupi biaya hidup anaknya sedangkan tidak ada fee yang dibayarkan kepada guru. Sedangkan guru mendapatkan biaya hidupnya dari baitul maal. Beberapa guru bahkan membiayai biaya hidup muridnya yang orangtuanya tidak mampu tetapi memiliki kemampuan belajar yang bagus. Bagi pelajar yang tidak memiliki kemampuan akademis yang baik tidak disarankan untuk belajar tetapi sebaiknya berdagang.
-Jika ada pelajar yang tidak membayar bukan karena tidak mampu tetapi dibiarkan mengikuti kegiatan maka pelajar tsb yang zalim karena yang lain membayar tetapi dia tidak.
-Menggunakan akad sewa dan harus dibayar jika ingin mengikuti kegiatan belajar mengajar.
-Kesimpulannya SPP adalah halal.

Pembahasan lain
-Uang ujian tidak diperbolehkan. Uang ujian untuk setiap kelas yaitu dengan alasan untuk menyiapkan dan mengkoreksi ujian membutuhkan pekerjaan tambahan. Tetapi setelah itu libur dengan durasi 2 pekan hingga 1 bulan. Padahal di sisi akad sekolah dengan guru adalah tiap bulan digaji sejumlah berikut tanpa ada persyaratan ujian atau mengajar seperti biasa.
-Uang fieldtrip tanpa sekolah pun anak tsb bisa jalan ke tempat tersebut. Perhatikan akadnya mubah atau wajib. Jika mubah maka tidak boleh dipaksakan dan orang yang tidak ikut tidak bayar. Dan uang sewa yang sudah dikenakan untuk ruang kelas pun seharusnya dikembalikan jika tidak belajar di dalam ruang kelas. Akan lebih baik jika anak melakukan perjalanan rihlah / safar dengan orangtuanya. Iuran rihlah diperbolehkan tetapi tidak diwajibkan.
-Bantuan untuk guru dari pemerintah sedangkan sudah mendapat gaji dari sekolah. Jika seseorang mendapat bantuan dari pihak lain untuk jabatannya maka termasuk risywah, tetapi jika diizinkan oleh institusinya maka halal bagi guru tsb.

“Dosen”: Dr. Erwandi Tarmidzi
“Mahasiswa” pencatat: Farisah Amanda
*Mohon dimaafkan jika ada kesalahan pengetikan atau penalaran oleh pencatat.

Tuesday, November 14, 2017

PASCA: Metodologi Ilmiah Ekonomi Islam

Definisi ekonomi Islam sebagai suatu ilmu adalah ilmu yang mempelajari usaha manusia untuk mengalokasikan dan mengelola sumber daya untuk mencapai falah berdasarkan pada prinsip-prinsip dan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah. Secara umum, ekonomi Islam berupaya untuk memandang, meneliti, dan akhirnya menyelesaikan permasalahan-permasalahan ekonomi dengan cara-cara yang Islami, serta tidak mendikotomikan antara aspek normatif dan positif dalam ilmu. Kebenaran ilmiah dalam ekonomi Islam didasarkan atas kebenaran mutlak dan kebenaran relatif, (P3EI, 2011).
Ilmu ekonomi dapat dikategorikan sebagai ilmu sosial, dan bukan merupakan ilmu alam yang subjek penelitiannya adalah alam dan perilaku yang diamati mengikuti hukum-hukum dan aturan-aturan yang konsisten yaitu yang disebut hukum alam (sunnatullah), sehingga kebenaran yang disimpulkan melalui metode ilmiah dari fenomena alam tidak menyebabkan divergensi antara kebenaran dan kebaikan. Sedangkan ilmu sosial meneliti perilaku manusia yang memiliki kebebasan pilihan (freedom of choice) dalam perilakunya dan tidak terikat suatu aturan sebagaimana fenomena alam. Perilaku tersebut yang ditangkap oleh para penganut aliran positivisme dalam ilmu ekonomi dan kemudian dibentuk menjadi teori. Oleh karena itu, Islam tidak dapat menganggap teori ilmu ekonomi sebagai suatu kebenaran dikarenakan perilaku manusia bisa jadi menyimpang dari sunnatullah atau aturan-aturan Allah (P3EI, 2011).
Tujuan utama dari metodologi adalah membantu mencari kebenaran, Islam meyakini bahwa terdapat dua sumber kebenaran mutlak yang berlaku untuk setiap aspek kehidupan pada setiap ruang dan waktu, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Kebenaran suci ini akan mendasari pengetahuan dan kemampuan manusia dalam proses pengambilan keputusan ekonomi. Proses pengambilan keputusan inilah yang disebut sebagai rasionalitas Islam. Rasionalitas Islam secara umum dibangun atas dasar aksioma-aksioma yang diderivasikan dari ajaran agama Islam: (1) setiap pelaku ekonomi bertujuan untuk mendapatkan maslahah, (2) setiap pelaku ekonomi selalu berusaha untuk tidak melakukan kemubaziran, (3) setiap pelaku ekonomi selalu berusaha untuk meminimumkan resiko, (4) setiap pelaku ekonomi dihadapkan pada situasi ketidakpastian, (5) setiap pelaku berusaha melengkapi informasi dalam upaya meminimumkan resiko. Aksioma lainnya yaitu: adanya kehidupan setelah mati, kehidupan akhirat merupakan akhir pembalasan atas kehidupan di dunia, sumber informasi yang sempurna hanyalah Al-Qur’an dan Sunnah (P3EI, 2011).

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Universitas Islam Indonesia (2011). Ekonomi Islam. Jakarta: Rajawali Pers.

Sunday, August 13, 2017

Kuliah Umum dan Seminar Nasional: KNKS, Digital Transaction, Financial Technology

KNKS: Jembatan Menuju Era Baru Perkembangan Ekonomi Islam
Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec.

WHY Ekonomi Islam?
- Membumikan al-Qur’an dalam kegiatan yang mendominasi kegiatan manusia sehari-hari yaitu ekonomi dan bisnis. Because we spend a lot of time in businesses, markets, offices, economic activities, earning money; a lot more than the time we spend in masjid for ibadah (rukun iman).
- Mengintegrasikan hukum dan nilai-nilai Quran dalam kegiatan dan aktivitas ekonomi, menuangkannya dalam produk. Pada individu yang sama menguasai teknis kegiatan ekonomi tetapi juga menguasai hukum Islam. How to integrate Islamic values in the business activities.
- Indonesia memiliki purchasing power yang sangat besar, tetapi jika tidak dapat memanfaatkannya maka hanya akan menjadi pasar konsumen yang sangat besar.
- Selama ini kaum muslimin lebih banyak menjadi pembeli dan sedikit yang menjadi penjual.
- Fardhu kifayah: suatu kewajiban kolektif atas sebuah komunitas jika sudah ada yang melakukan maka tidak apa2, tetapi jika tidak ada yang melakukan semuanya berdosa. Contohnya: sholat jenazah, menjawab salam. Fardhu kifayah ini lebih dibutuhkan oleh orang-orang yang masih hidup karena untuk jenazah cukup diantarkan sampai kubur. Tetapi kebutuhan tekstil, teknologi, kebutuhan pribadi, dsb yang digunakan sehari2 dalam kehidupan manusia tidak dikuasai oleh orang Islam.
- Jihad 5 level: memperbanyak gerai, membeli dalam skala ekonomi besar sehingga deal dengan distributor lebih baik, kemudian memiliki distribution center yang besar, kemudian memiliki distributor sendiri, kemudian merubah branding produksi, kemudian mengumpulkan instrumen reksadana yang besar, kemudian membeli perusahaan2 produsen besar.

KNKS
- KNKS adalah Komite Nasional Keuangan Syariah yang dipimpin oleh Presiden. Dibentuk karena tidak ingin ketinggalan dari Malaysia dan Singapur: untuk menarik dana infrastruktur berbasis syariah. Umat Islam harus dapat memanfaatkannya dengan baik agar tidak digunakan untuk kepentingan yang merugikan umat Islam.
- Kondisi keuangan syariah di Indonesia: kuantitasnya banyak (BMT, bank, takaful, dst), tetapi presentasenya masih kecil total 5,3% dari total aset bank nasional. Besar dari sisi jumlah pelaku tetapi masih kecil dari sisi aset. Masalah utama: orang yang kaya banget tapi kurang sholeh, orang yang sholeh tapi kurang kaya tidak berdaya.
- Wakaf merupakan the sleeping giant karena total tanah wakaf kurang lebih 4 miliar meter, setengah juta hektar. Sebagai perbandingan lahan yang dimiliki seorang konglomerat Indonesia sebesar 4 juta hektar. Tanah wakafnya banyak tetapi belum ada mekanisme yang tepat untuk membiayai pembangunan gedungnya.
- Fungsi utama KNKS: koordinasi dan mendorong 10 lembaga pemegang wewenang keuangan Indonesia untuk mengembangkan ekonomi syariah.
- Peran KNKS: sinergi regulator, mendorong implementasi masterplan keuangan syariah, jasa keuangan syariah sektor riil.
- (1) Penguatan sektor ekonomi syariah: halal food, Islamic finance sector, travel sector, fashion sector, pharmacy and cosmetics.
- (2) Peningkatan efisiensi di pasar keuangan syariah
- (3) Penguatan fungsi riset, penilaian, dan edukasi.

Pertanyaan dan Tanggapan
- Energi umat 212.
- Pendirian ritel berbasis komunitas contohnya kelompok 100-200 orang masing2 4-5juta
- Jaringan ritel agar tetap menghidupi pedagang2 kecil dengan 20:80 yaitu 80% untuk produk2 mainstream dan 20% untuk produsen2 lokal dengan standar tertentu; pemberdayaan warung dengan cara memberikan harga grosir kepada warung setempat.
- Koperasi 212 akan membuka instrumen pengumpulan dana yang legal yaitu reksadana pemberdayaan umat yang kemudian akan digunakan untuk membeli produsen2 kebutuhan sehari2.


Akad-akad Ekonomi Islam Berbasis Transaksi Digital Kontemporer
Dr. Erwandi Tarmizi, MA

Pengantar:
- “Korban” mengikuti perkuliahan Ust Erwandi: resign dari lembaga riba atau merubah transaksi bisnis dengan akad2 yang sesuai dengan syariah yang akan merasakan taman surga dunia: merasakan kebahagiaan surga di dunia.
- Adanya kontradiksi antara target bisnis dengan menjalankan syariat dalam bisnis, oleh karena itu harus dikedepankan syariatnya dan biarkan target bisnis mengikuti.

Digital:
- Komputer, internet, smartphone: memperdekat jarak yang jauh untuk suara, tulisan, dan gambar.
- Sejarah digital awalnya digunakan untuk perang, sekarang digunakan untuk transaksi sehari-hari.
- Perubahan akad-akad muamalah berbasis digital: modifikasi karena digital, bila terjadi perubahan maka dibutuhkan hukum baru yang dicari dengan ijtihad yaitu mengeluarkan semua kemampuan yang dimiliki untuk mendapatkan hukum dari nash-nash yang ada bagi sebuah hal yang baru. Tidak semua orang dapat melakukan ijtihad dan ada syarat2nya untuk yang melakukannya, dan untuk permasalahan2 yang rumit maka harus dipertimbangkan baik2 walaupun harus menggunakan waktu lama.
- Solusi beli emas online: karena kategori emas adalah mata uang maka solusinya adalah menggunakan harga saat bertemu, sedangkan saat online hanya perjanjian tempat dan waktu bertemu yaitu pesan online jual belinya offline yaitu untuk komoditi ribawi.
- Untuk barang komoditi non riba seperti pakaian, buku, alat elektronik dapat menggunakan online selama objeknya jelas yaitu menjual barang yang tidak terlihat hanya dengan keterangan spesifikasinya saja, menurut jumhur dibolehkan.
- Dibolehkan juga jika menjualkan barang milik orang lain (reseller) dengan dua akad yaitu akad jual beli dan akad wakalah antara pemilik barang dengan orang yang menjualkan.


FINANCIAL TECHNOLOGY Menyongsong Era Baru Ekonomi Islam
Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc.

- Keuangan syariah dimulai dari BPRS pada awal tahun 90an, saat ini sudah ada bank, pasar modal, dst.
- Kemiskinan sekitar 11%, sedangkan kelas menengah hampir setengah dari populasi 250 juta orang adalah konsumen: konsumen yang jumlahnya sangat besar ini sudah menunggu.
- Transformasi fintech (teknologi keuangan): pembayaran, pinjaman, online loan, perbankan, deteksi fraud, regulasi, peer to peer lending and funding.
- Skema2 manual ditransformasi menjadi berbasis online.
- Fintech merupakan aplikasi dari teori QS An Nisa (4): 29 dan Al Maidah (5): 1 harus saling rela dan memenuhi akad.
- Hukum yang melandasi: fatwa DSN MUI, KUH Perdata,.
- Akuntansi dengan recognition, measurement, disclosure akan dapat menganalisa apakah suatu transaksi yang kompleks sesuai dengan syariah atau tidak.
- Skema transaksi fintech: mudharabah, ijarah, dll.
- Website fintech, contohnya untuk fintech adalah (1) “beehive” untuk peer to peer lending marketplace, (2) “kapital boost” yang sesuai dengan syariah, (3) bitcoin untuk virtual currency ada batas maksimalnya yaitu 21 juta, bitcoin ini diciptakan dari binary2 komputer, bitcoin ini belum ada negara yang dapat meregulasinya, (4) paytren,
- Fintech dapat meningkatkan literasi keuangan karena pro-growth dan pro-poor sehingga dapat menjangkau orang-orang yang selama ini dianggap tidak berdaya dan tidak mampu yang selama ini hanya menjadi korban rentenir.
- Fintech diharapkan dapat meningkatkan etos kerja melalui koordinasi2 jarak jauh, kerja manual akan menurun dan angka pengangguran akan meningkat, ancaman cybercrime, cyberstalking, carding, hacking, dan cracker serta cybersquatting dan typosquatting3. Fintech juga dapat mengurangi interaksi manusia, I love my computer because my friends live in it.
- Fintech akan membuka peluang2 baru, mengurangi waktu yang terbuang di perjalanan sehingga dapat menggunakan waktu untuk kegiatan lain seperti majelis, ibadah, dst.

Tantangan dan Peluang Financial Technology di Timur Tengah (negara2 teluk)
Dr. Sutan Emir, M.Ec.

- Gulf Cooperation Council (GCC) terdiri dari 6 negara yaitu: Bahrain, Oman, Qatar, UAE, Kuwait, Saudi Arabia; dimana tingkat kerjasamanya hampir sama dengan EU kecuali belum memiliki mata uang kesatuan.
- Pekerjaan akan bertambah dengan adanya fintech yaitu tidak hanya pada core activities lembaga keuangan tetapi ada peluang2 lainnya seperti crowdfunding.
- Dalam jangka panjang perkembangan fintech akan menggeser bisnis bank dan harus dapat memfasilitasi perubahan kegiatan ini untuk melakukan inovasi dan perubahan (digital transformation).
- Di negara2 teluk dan banyak negara berkembang belum dapat mengantisipasi fintech.
- Strategi perbankan yaitu dengan bekerjasama dengan perusahaan2 fintech dan kolaborasi antar bank-bank yang ada, serta menyiapkan regulasi yang tepat.
- Talent shortage in Islamic financial industry: paling banyak kekurangan adalah di capital market.

Pertanyaan dan Tanggapan:
- Literasi keuangan harus diambil alih oleh fintech agar tidak terjadi gap yang terlalu besar, yaitu fintech itu sendiri akan mengedukasi masyarakat jika dapat disajikan dengan penampilan yang menarik.