Tuesday, April 21, 2015

MATANG DAHULU, MASUK SD KEMUDIAN

School of Parenting MATANG DAHULU, MASUK SD KEMUDIAN Ada fenomena menarik belakangan ini. Beberapa orangtua berusaha memasukkan anaknya ke jenjang sekolah dasar (SD) sedini mungkin. Bahkan, ada orangtua yang ingin memasukkan anaknya yang masih berusia 4,5 tahun hanya karena si orangtua khawatir, anaknya “ketuaan” saat masuk SD. Mereka juga merasa anaknya sudah siap masuk sekolah dasar, karena sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Coba, kurang apa lagi? Ini jelas berbeda dari Lia Boediman, M.S..C.P., Psy, D., psikolog yang menghabiskan 22 tahun waktunya di Amerika dan baru kembali ke tanah air. Meski anaknya (5,5) sudah siap masuk sekolah dasar, tapi Lia malah menundanya. Semua itu sudah dipertimbangkan dengan matang, termasuk membicarakan dengan anaknya. Ternyata, anaknya pun setali tiga uang, ia masih ingin bersekolah di TK B dan belum mau masuk SD. Anaknya pun tak masalah bila nanti teman-teman sekelasnya di TK berusia lebih muda dari dirinya. Juga tak mengapa bila teman-teman seangkatannya di TK sudah berseragam merah putih alias duduk di kelas 1 sekolah dasar. “Kalau usianya masih segitu, biarlah jika dia masih mau di TK B. Mungkin kalau usianya sudah 6 tahunan, pertimbangan saya, lain lagi. Bukankah untuk melanjutkan ke pendidikan dasar, minimal anak harus berusia 7 tahun? Jadi, meski anak saya sudah siap, biarlah dia dimatangkan lagi aspek kognitif, bahasa, motorik, sosial-emosional, dan juga kemandiriannya. Dengan begitu, ia siap belajar dan tidak kapok karena tidak dapat menyesuaikan diri di sekolah. Saya ingin menanamkan pada anak, sekolah adalah tempat yang menyenangkan. Begitu juga dengan belajar, learning is fun and interesting. Dengan begitu, ketika di SD mereka akan mempunyai regulasi diri, tanggung jawab akan belajar, dan ketertarikan akan sekolah,” ungkap pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini. PASTIKAN ANAK MATANG Menurut Lia, sebelum memasuki jenjang SD, anak sebaiknya memiliki beberapa aspek kematangan bersekolah, meliputi aspek kognitif, bahasa, motorik, sosial-emosional, dan kemandirian. Jadi kemampuan anak menulis, membaca, dan berhitung saja tidak cukup. Itulah mengapa, untuk mengetahui kesiapan anak bersekolah, banyak SD yang mengharuskan para calon peserta didiknya melakukan tes kematangan sekolah. Selain untuk kelancaran proses belajar mengajar, tes kematangan sekolah juga diperlukan untuk kebaikan anak itu sendiri. Bayangkan, secara aspek kognitif anak sudah matang, tapi dari sisi kemandirian, emosi dan aspek lainnya belum matang, sehingga akan menyulitkan dirinya dan juga pihak sekolah. IQ-nya boleh tinggi, tapi di kelas dia belum bisa melakukan toilet learning sendiri. Apakah gurunya yang harus membantu anak melakukan toilet learning? Itu jika satu anak, bagaimana bila dalam satu kelas ada beberapa anak dengan kondisi sama. Repot, kan? Tidak hanya itu. Ia juga mudah tantrum atau menangis. Meski secara kognitif ia siap, namun ketidakmatangan emosi ini akan menghambatnya saat bersosialisasi; anak akan dijauhi, tidak disukai teman-teman di sekolahnya. Bukan tidak mungkin nantinya anak menjadi malas atau mogok sekolah. Bahaya, kan? Bila anak masuk ke sekolah yang menyeimbangkan aspek kognitif dan aspek lainnya, maka anak bisa saja mengejar ketertinggalan tersebut. Tapi bagaimana bila anak bersekolah di sekolah yang menekankan pada aspek kognitif semata? Di satu sisi kognitif anak akan semakin tinggi, tapi di sisi lain aspek yang kurang matang akan menjadi kurang terstimulasi. Akibatnya, aspek-aspek yang kurang matang akan semakin sulit berkembang, tertinggal jauh dari teman-teman lainnya yang sudah matang. Inilah yang akan menjadi masalah di kemudian hari, dimana di usia sekolah dasar anak harus terus-menerus disuruh belajar, lalu saat ujian orangtuanya stress karena sibuk belajar, menanya-nanya soal, membacakan, dan sebagainya. Nantinya, anak tidak bisa menjalin relasi sosial yang baik dengan orang lain, masih banyak dibantu, dan sulit untuk menjadi sukses. “Ini yang tidak diinginkan, sehingga uji kematangan sebelum bersekolah perlu dilakukan.” Jadi tidak mentang-mentang bisa calistung, si kecil yang berusia 4 tahunan lantas bisa masuk sekolah dasar, ya, Bu-Pak. KEMATANGAN MERUPAKAN PROSES Kematangan anak untuk bersekolah merupakan proses yang terkait dengan aspek perkembangan anak secara keseluruhan dan proses ini dimulai sejak bayi. Kematangan anak harus dibina dari hal-hal kecil dan sederhana. Misalnya, anak diberi kesempatan untuk mandiri, bisa bersosialisasi, dan sebagainya. Kenalkan dan ajarkan kemampuan tersebut di rumah sesuai dengan tahapan usia perkembangannya. Jadi, kematangan bersekolah ini tidak dinilai atau dilihat saat anak mau masuk sekolah dasar saja. Tahun depan anak mau masuk SD, lalu kematangannya dinilai 6 bulan sebelumnya. Tidak demikian. Tes-tes kematangan sekolah yang diberlakukan di beberapa SD, pada intinya untuk melihat gambaran mengenai kekurangan dan kelebihan anak tersebut. Sekolah-sekolah biasanya akan menerima anak dengan menyeleksinya sesuai standar tertentu. Padahal, untuk mengetahui kematangan bersekolah anak dibutuhkan tenaga psikolog anak professional. Maka itu, orangtua disarankan membawa anaknya ke psikolog anak professional, meski tidak dipungkiri beberapa sekolah sudah melibatkan psikolog anak professional dalam tes itu. Informasi kematangan bersekolah anak ini diperoleh psikolog dengan cara mewawancarai orangtua si anak mengenai perkembangannya, mendapatkan informasi dari guru TK sebelumnya, dan juga melakukan observasi pada anak langsung dengan bertanya, berinteraksi dengan bermain, dan mengobservasi lainnya. Dengan begitu dapat diketahui seperti apa perkembangan diri si anak. Selain itu, dilakukan pula tes intelegensi untuk mengetahui kemampuan kognitif anak. Lewat serangkaian proses itu dapat diperoleh rekomendasi, apakah anak sudah matang untuk melanjutkan ke jenjang SD atau tidak. SETIAP ANAK BERBEDA Kematangan setiap anak tentunya berbeda-beda. Selain dipengaruhi usia, juga oleh temperamen, cara belajar anak selama ini, tahap perkembangannya, serta faktor lingkungan yang mendukungnya. Umumnya, pada anak-anak normal, di usia 6-7 tahun anak sudah matang alias siap untuk bersekolah. Kecuali pada anak-anak yang mempunyai masalah dengan perkembangannya, seperti ada hambatan kognitif, bahasa, dan sebagainya, tentunya di usia 7 tahun belum bisa masuk SD karena ada masalah tersebut. Memang, di usia 6-7 tahun itu boleh jadi ada beberapa aspek anak yang mungkin saja belum matang, tapi yang harus diingat, kematangan anak untuk bersekolah tidak dilihat dari satu aspek saja, tapi secara keseluruhan. Apalagi dalam setiap aspek, misalnya, aspek bahasa terdiri atas beberapa komponen, begitupun aspek motorik, dan sebagainya, masing-masing ada komponennya. Jadi, bisa saja anak secara aspek kognitifnya sudah matang, namun secara sosial masih pemalu. Bukan berarti anak belum matang untuk masuk SD. Kekurangan anak atau kurang siapnya anak secara sosial tersebut masih bisa diupayakan, di-support untuk lebih matang dalam aspek tersebut. Maka itu, pemilihan sekolah pun menjadi penting. Pilihlah sekolah yang menyeimbangkan semua aspek perkembangan anak. Tidak hanya kognitif, tapi juga aspek lainnya, sehingga semua aspek anak dapat terasah secara optimal. KERJA SAMA ORANGTUA-SEKOLAH Mengingat sistem pendidikan di tanah air yang cenderung kurang memberikan kematangan pada aspek lain selain kognitif, maka diperlukan kerja sama antara orangtua dan pihak sekolah (SD). Orangtua harus berperan aktif dengan cara mengenal baik anaknya, mengetahui bagaimana tahapan perkembangannya, mengetahui kekurangan dan kelebihan anaknya, sehingga orangtua tahu apa yang dapat dilakukannya atas kekurangan yang dimiliki agar menjadi lebih baik serta dapat memaksimalkan potensi dan kemampuan yang dimiliki. Contoh, orangtua melihat anak masih kurang mandiri, maka orangtua dapat memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan hal-hal sederhana sendiri. Contoh lain, aspek sosial anak tampak masih kurang, maka anak sering-sering diajak berinteraksi dengan temannya atau orang lain. Pihak sekolah dasar juga seharusnya bisa melihat beban-beban yang diberikan kepada muridnya agar seimbang pada setiap aspek perkembangan. Menyediakan fasilitas untuk mendukung aspek-aspek perkembangan anak, misal, menyediakan ruang bermain seperti playground atau lapangan basket untuk mengasah kemampuan motorik anak. Memberikan pembelajaran yang disesuaikan dengan gaya belajar anak, menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan lewat bermain terutama pada usia-usia SD awal. Guru sekolah dasar juga sebaiknya mengetahui tahapan perkembangan di usia sekolah, sehingga dapat mengembangkan kemampuan anak secara keseluruhan. INDIKATOR KEMATANGAN BERSEKOLAH 1. Aspek FISIK · Motorik Kasar - Bisa duduk tegap. - Berjalan lurus dan bervariasi. - Berlari. - Melompat. - Melempar. - Memanjat. - Naik turun tangga. - Mengombinasi gerakan seperti lompat, jongkok, tegak dan berguling. · Motorik Halus - Dapat memegang pensil dengan baik. - Menggambar orang atau sesuatu dengan lebih rapi tidak berantakan. - Bisa makan sendiri. - Menulis angka. - Mewarnai. - Menggunting. - Menyusun lego. 2. Aspek BAHASA - Memperkenalkan diri, nama, alamat, dan keluarga dengan jelas. - Bercerita mengenai keadaan di rumah, sekolah, permainan, dan lain-lain. - Menjawab pertanyaan. - Menyanyikan lagu. - Menyebutkan seluruh anggota badan. - Menirukan huruf, suku kata, dan kata. 3. Aspek KOGNITIF - Menerangkan mengenai sesuatu, misalnya kegunaan suatu benda. - Mengenal warna. - Mengetahui angka atau bilangan. - Membedakan bentuk. - Dapat mengelompokkan benda/sesuatu. - Memahami konsep penjumlahan dan pengurangan. - Membaca tanda-tanda umum seperti di jalan. - Dapat berpikir lebih fleksibel dan sebab akibat. - Rasa keingintahuan yang besar dan mencari tahu jawabannya. 4. Aspek SOSIAL-EMOSIONAL - Bisa bermain secara interakstif dengan temannya. - Berperilaku sesuai norma yang ada di lingkungannya. - Menghargai adanya perbedaan maupun pendapat orang lain. - Tidak lagi terlalu bergantung/lengket pada orangtuanya. - Dapat menolong orang lain/temannya. - Menunjukkan rasa setia kawan deengan temannya. - Bisa beradaptasi di lingkungan baru seperti teman atau guru. - Bila diberi tahu sesuatu bisa mengerti. - Dapat berkonsentrasi maksimal 15-20 menit. - Bisa menunggu atau menahan keinginannya. - Dapat patuh pada aturan dan tuntutan lingkungan. 5. Aspek KEMANDIRIAN - Sudah bisa makan sendiri. - Pakai baju sendiri. - Menyikat gigi sendiri. - Toilet learning. - Mulai dapat teratur pada rutinitas, seperti bangun tidur. sumber: http://www.kancilku.com/Ind//index.php…

Saturday, March 7, 2015

PASCA: Kepemilikan dan Distribusi Harta dalam Islam (2)

Tujuan utama distribusi: mencukupi kebutuhan hidup. Muamalah dan ekonomi Islam: muamalah adalah ilmu yang mengatur hubungan antar manusia, jika mengikuti definisi ini maka ekonomi Islam merupakan bagian dari muamalah. Muamalah dan ekonomi Islam: apakah sama atau berbeda, dan apa alasannya. *Imam Zarkasyi Worldview of Wealth and Distribution Theory Wealth = kesejahteraan. Maal / al amwaal dalam bahasa Arab (kitab Abu Ubaid) diterjemahkan sebagai the book of finance, buku tentang harta, yang sebenarnya tidak hanya berbicara tentang harta tetapi lebih mirip dengan buku Adam Smith “the wealth of nation” yang berbicara juga tentang sistem macroeconomics, mengelola ekonomi suatu Negara. Jika seseorang telah mencukupi kebutuhan hidupnya maka ia memiliki kewajiban untuk mendistribusikan hartanya kepada orang lain, mentransfer / sharing kesejahteraannya pada orang lain. Hal ini yang dipelajari dalam ekonomi Islam, yaitu tanggung jawab untuk mendistribusikan harta jika telah mencukupi kebutuhan sendiri. Ekonomi konvensional tidak membicarakan hal ini maka terjadilah krisis ekonomi dalam scope besar seperti Negara ataupun kecil seperti kemiskinan individu (poverty). Jika semua orang memiliki jumlah kekayaan yang sama maka kehidupan tidak berjalan dan tidak dinamis oleh karena itu kaya dan miskin adalah sunnatullah dimana yang kaya akan membutuhkan yang miskin dan yang miskin membutuhkan yang kaya maka terjadilah distribusi. Secara prinsip, krisis ekonomi terjadi karena tidak adanya distribusi dimana variabel2 penyebabnya banyak seperti adanya kredit macet, bunga terlalu besar, dsb. Prinsip ekonomi Islam adalah mengalir, sehingga ia tidak mengendap dan membusuk yang dianalogikan seperti air mengalir maka ia bersih. Uang harus berputar dan tidak boleh mengendap terlalu lama dan terlalu besar di sebuah tempat, seperti yang disebutkan dalam QS At-Taubah tentang zakat “supaya harta tidak berputar di suatu golongan saja”. Jika mekanisme distribusi berjalan dengan baik maka kesejahteraan semua orang akan terpenuhi seperti yang terjadi di zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Sistem ekonomi adalah yang menghubungkan antara manusia dengan manusia lain baik sebagai individu sampai sebagai Negara. Ekonomi Islam memiliki sistem distribusi yang jelas, yang wajib yaitu zakat dan yang tidak wajib seperti shodaqoh, dll. Distribusi pada dasarnya membicarakan tentang wealth / kesejahteraan yaitu tercukupinya secara balance kebutuhan baik materi maupun immateri, jika memungkinkan malah kebutuhan immaterinya yang dicukupi lebih baik karena jika kebutuhan immateri terpenuhi dengan baik maka kebutuhan materi dapat dicukupi. Financial management for personal: how to manage our lifestyle. Yang membuat seseorang cukup kebutuhan hidupnya atau tidak adalah dirinya sendiri. Lifestyle yang menentukan kesejahteraan seseorang. Wealth distribution makro seharusnya tidak membahas meningkatkan pendapatan saja sedangkan di sisi lain tingkat kriminalitasnya juga meningkat dan meningkatkan social costnya sehingga hasilnya zero. Jika social costnya dapat ditekan maka dapat meningkatkan pendapatan secara otomatis. Definisi kesejahteraan dan kemiskinannya perlu diperbaiki. Do we have to share? Jika berlebih harus dibagi untuk menjaga keseimbangan ekonomi. Setelah keseimbangan ekonomi, distribusi kemudian memiliki tujuan untuk mencapai keadilan. Prinsip2 distribusi dalam Islam: (1) Tauhid, fungsi sebagai manusia yaitu sebagai khalifah memiliki tugas untuk memakmurkan dunia melalui pengelolaan dan distribusi. Diberikan alat untuk menjalankan tugas distribusi menggunakan zakat, wakaf, dsb. Diberi kekayaan oleh Allah tidak hanya untuk dinikmati oleh diri sendiri, tetapi memiliki tanggung jawab untuk mendistribusikan. Hal ini tidak ada dalam sistem ekonomi konvensional karena tidak memiliki kewajiban untuk melakukan distribusi dan menganggap harta adalah hasil usahanya sendiri. Dalam sistem kapitalisme, pemilik modal menganggap distribusi harta kepada pekerja adalah dari gaji yang diberikan sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan tanpa mempedulikan kebutuhan pribadi dan keluarga. Sistem kapitalis mengedepankan private ownership, sosialis mengedepankan collective ownership, sedangkan Islam menyeimbangkan antara private dan collective ownership. Sistem distribusi dalam Islam: 1. Prinsip2 distribusi: tauhid 2. Alat2 distribusi 3. Mekanisme distribusi Wealth - Source: lawful and unlawful - Ownership: full and partial - Exchange: selling, debt, rent / lease - Sharing: zakat, philanthropy Dosen: Dr. Bayu Taufiq

PASCA: Kepemilikan dan Distribusi Harta dalam Islam (1)

Catatan 1 1. Konsep Distribusi dalam Perspektif Islam dan Konvensional 2. Konsep Hak Milik dalam Islam, Hak Milik Individu, Sosial, dan Negara 3. Bunga dalam Pandangan Ekonomi Islam 4. Konsep Bagi Hasil dan Margin Keuntungan dalam Pandangan Ekonomi Islam 5. upah 6. ju’alah 7. Jaminan Sosial 8. Hibah, Qardhul Hasan 9. Waqaf 10. Shodaqoh (Zakat, Infaq) 11. Wasiat, Waris 12. keadilan distribusi Pak dede: 1,2,3,10,11,12 Konsep Hak Milik dalam Islam Hak secara bahasa berasal dari bahasa Arab yang berarti milik, Secara terminologi: - kaidah syariah yang berkaitan dengan perorangan dan harta benda - ada dua konsep yaitu: hak ‘aini kewenangan terhadap barang, hak syakhsi sebagai kewajiban bagi pihak lain, contohnya: hak kepada orang lain, hak kepada Allah, hak kepada Allah dan manusia Rukun hak: 1.shohibul haqq yaitu pemilik hak, dalam Islam terdiri dari: Allah, manusia, badan hukum 2.mahallul haqq yaitu objek hak Macam-macam hak dikategorikan berdasarkan: pemilik hak, Kategori hak berdasarkan kepemilikannya: 1.Hak Allah yaitu untuk kemaslahatan baik individu maupun masyarakat, contohnya: ibadah mahdhah seperti sholat, puasa, zakat dan hukum asalnya tidak bisa digantikan dan tidak dapat dimaafkan seperti potong tangan dalam kasus pencurian merupakan hak Allah. Sedangkan hak manusia bisa digantikan oleh orang lain. 2.Hak manusia: untuk melindungi kemaslahatan terhadap pribadi manusia, hukum asalnya dapat diubah dan dapat diteruskan pada ahli waris. 3.Hak berserikat antara hak Allah dan hak manusia. Contohnya dalam kasus pencurian terdapat pelanggaran terhadap dua hak yaitu kepada Allah ada hak potong tangan dan pada manusia ada hak untuk mengganti dan dapat digantikan oleh orang lain pelaksanaannya atas nama orang yang melakukan. Kategori hak berdasarkan objeknya: 1.Haqq maali: terkait harta benda 2.Haqq ghair maali terdiri dari: a. haqq syakhsi dimana terdapat pihak yang mempunyai kewajiban dan ada pihak yang mempunyai hak , contohnya: janji (wa’ad) yang dilakukan oleh satu pihak dan akad yang dilakukan oleh 2 pihak, akad juga dapat muncul karena adanya syara’ seperti hak dan kewajiban antara anak dengan orang tua. Konsekuensi akad juga ada yang tidak mengikat, mengikat 1 pihak, dan mengikat 2 pihak. Contohnya akad wakalah jika murni tabarru’ maka tidak mengikat tetapi ketika ada ujrah atas wakalah itu maka mengikat. Suatu akad dapat terdiri dari akad primer dan sekunder, dan biasanya pada produk lembaga keuangan kebanyakan akad tabarru merupakan akad sekunder dan akad primernya adalah akad tijari. b. haqq ‘aini Kedudukan akad dari segi: kerelaan terbagi dua yaitu (1) syakliyah yang dipenuhi kerelaannya melalui penyerahan barang (qabdh) seperti qardh, rahn, wadiah, dan (2) ridha’iy yang dipenuhi kerelaannya melalui tulisan dan ucapan seperti wakalah, hiwalah, kafalah. Contoh akad rahn akad primer dianggap ijarah dan sekundernya adalah qardh karena dengan begitu boleh mengambil keuntungan darinya. Contoh akad hiwalah dapat terjadi walaupun pelaksanaan penyerahan hutangnya tidak terjadi saat itu. Kedudukan akad dari segi: mengikat atau tidaknya: (1) tidak mengikat, (2) mengikat satu pihak, (3) mengikat semua pihak Kedudukan akad dari segi primer atau sekunder. Kedudukan akad dari segi tanggung jawabnya: (1) amanah (2) dhamanah. Contohnya wadiah amanah dan wadiah dhamanah, jika menitipkan uang di bank dengan wadiah amanah maka tidak boleh digunakan oleh bank sedangkan wadiah dhamanah maka boleh digunakan oleh bank Catatan 2 Musyarakah dalam kepemilikan harta, maka tidak boleh menjual tanpa persetujuan pihak lain kecuali yg menjadi porsi kita boleh dijual jika bentuk hartanya memungkinkan. Contoh halangan melindungi hak orang lain seperti jika memiliki harta tetapi masih memiliki hutang maka bisa saja harta ditahan oleh hakim sehingga tidak dapat digunakan oleh orang yang memiliki harta tersebut. Dosen: Dr. Dede Abdul Fatah

Tuesday, January 13, 2015

sholat

گيف تجعل أبنائك يصلون من أنفسھم ☝ بدون خصام أو تذكير �� Bagaimana Membuat Anak2  Anda Sholat dengan Kesadaran Mereka Sendiri Tanpa Berdebat  dan Tanpa Perlu Diingatkan? �� أولادك لا يصلون أو أتعبوك من أجل أن يصلوا ؟ تعالوا لتروا كيف تغيرونهم بإذن الله تعالى Anak2 anda tidak mau sholat? atau mereka sampai membuat anda capek saat mengingatkan untuk sholat? Mari qt lihat bagaimana qt bisa merubah ini semua ~ biidznillah عن إحدى الأخوات : تقول اقول لكم قصة وقعت معي انا Seorang sahabat berkisah: "Aku akan menceritakan satu kisah yg terjadi padaku" كانت بنتي بالخامس ابتدائي Saat itu, anak perempuanku duduk di kelas 5 SD و الصلاة ثقيلة عليها.. لدرجة اني قلت لها يوما قومي صلي وراقبتها فوجدتها أخذت السجادة ورمتها على الأرض وجاءتني سألتها هل صليت قالت نعم.. صدقوني بدون شعور صفعت وجھا أعرف أني أخطأت.. ولكن الموقف ضايقني وبكيت وخاصمتها ولمتها وخوفتها من الله ولم ينفع معها كل هذا الكلام .. Sholat baginya adalah hal yg sangat berat...sampai2 suatu hari aku berkata kepadanya: "Bangun!! Sholat!!", dan aku mengawasinya.. Aku melihatnya mengambil sajadah, kemudian melemparkannya ke lantai...Kemudian ia mendatangiku... Aku bertanya kepadanya: "Apakah kamu sudah sholat?" Ia menjawab: " Sudah" Kemudian aku MENAMPARNYA  Aku tahu aku salah  Tetapi kondisinya mmg benar2 sulit... Aku menangis.. Aku benar2 marah padanya, aku rendahkan dia dan aku menakut2inya akan siksa Allah... Tapi....ternyata semua kata2ku itu tidak ada manfaatnya... لكن في يوم من الأيام ... قالت لي إحدى الصديقات قصة.. منقولة ..وهي : Suatu hari, seorang sahabatku bercerita suatu kisah... انها زارت قريبة لها عادية (ليست كثيرة التدين)، لكن عندما حضرت الصلاة قام أولادها يصلون بدون أن تناديهم Suatu ketika ia berkunjung kerumah seorang kerabat dekatnya (seorang yg biasa2 saja dari segi agama) , tapi ketika datang waktu sholat, semua anak2nya langsung bersegera melaksanakan sholat tanpa diperintah.... تقول .. قلت لها : كيف يصلي أولادك من أنفسهم بدون خصام وتذكير ؟ !!! Ia berkata: Aku berkata padanya "Bagaimana anak2mu bisa sholat dg kesadaran mereka tanpa berdebat dan tanpa perlu diingatkan? قالت والله ليس عندي شي اقوله لك الا اني قبل أن أتزوج ادعو الله بهذا الدعاء وإلى يومنا هذا ادعو به Ia menjawab: Demi Allah, aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa sejak jauh sebelum aku menikah aku selalu memanjatkan DO'A ini...dan sampai saat ini pun aku masih tetap bedo'a dg DO'A tersebut انا بعد نصيحتها هذه لزمت هذا الدعاء .. في سجودي وقبل التسليم وفي الوتر .. وفي كل اوقات الاجابه Setelah aku mendengarkan nasehatnya, aku selalu tanpa henti berdoa dg do'a ini.. Dalam sujudku... Saat sebelum salam... Ketika witir... Dan disetiap waktu2 mustajab... والله يا اخواتي.. ان بنتي هذه الآن بالثانوي.. من اول مابدأت الدعاء وهي التي توقظنا للصلاة وتذكرنا بها واخوانها كلهم ولله الحمد حريصون على الصلاة !! Demi Allah wahai saudara2ku... Anakku  saat ini telah duduk dibangku SMA.. Sejak aku memulai berdoa dg doa itu, anakku lah yg rajin membangunkan kami dan mengingatkan kami untuk sholat... Dan adik2nya, Alhamdulillah..mereka semua selalu menjaga sholat!!! حتى امي زارتني ونامت عندي ولفت انتباهها ان بنتي تستيقظ وتدور علينا توقظنا للصلاة !! Sampai2...saat ibuku berkunjung dan menginap dirumah kami, ia tercengang  melihat anak perempuanku bangun pagi, kemudian membangunkan kami satu persatu untuk sholat... أعرف .. أنكم الآن متشوقون لتعرفوا هذا الدعاء .. الدعاء موجود في سورة ابراهيم Aku tahu anda semua penasaran ingin mengetahui doa apakah itu? Yaaa..doa ini ada di QS. ibrahim... والدعاء هو ...❕ ( رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء ) (إبراهيم ، 40) Doa ini adalah... "Ya Robbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yg tetap melaksanakan sholat... Ya Robb kami, perkenankanlah doaku" فالدعاء الدعاء الدعاء وكما تعلمون الدعاء سلاح المؤمن Yaa...Doa...Doa...dan Doa... Sebagaimana anda semua tahu bahwa doa adalah senjata seorang mukmin  إرسلوها للكل حتى تعم الفائدة  Kirimkan tulisan ini agar lebih banyak orang yg mengambil manfaat...  إذا أعجبك الموضوع فلا تقل شكـراً قل :(رحم الله من نقلها لي ونقلها عني وجعلها بميزان حسناتكم Jika anda terkesan dg tulisan ini, jangan katakan Syukron... Tapi katakan: "Semoga Allah merahmati orang yang bersedia men-share (tulisan ini), kemudian menjadikannya pemberat bagi timbangan kebaikannya" اقرأ هذا الدعاء لأبنائك و سيبقون بحفظ الله .... ورعايته Baca selalu doa ini untuk anak2mu, biidznillah mereka akan selalu berada dalam penjagaa

Terkait kata jangan atau tidak

Ia tidak memukul teman bukan karena mengerti bahwa memukul itu terlarang dalam agama, tetapi karena lebih memilih berdamai. Ia tidak sombong bukan karena kesombongan itu dosa, melainkan hanya karena menganggap rendah hati itu lebih aman baginya. Dan kelak, ia tidak berzina bukan karena takut adzab Alloh, tetapi karena menganggap bahwa menahan nafsu itu pilihan yang dianjurkan orangtuanya. Nas alulloha salaman wal afiyah. Anak-anak hasil didikan tanpa “jangan” berisiko tidak punya “sense of syariah” dan keterikatan hukum. Mereka akan sangat tidak peduli melihat kemaksiatan bertebaran, tidak perhatian lagi dengan amar ma’ruf nahi mungkar, tidak ada lagi minat untuk mendakwahi manusia yang dalam kondisi bersalah, karena dalam hatinya berkata “itu pilihan mereka, saya tidak demikian”. Mereka bungkam melihat penistaan agama karena otaknya berbunyi “mereka memang begitu, yang penting saya tidak melakukannya”. Itulah sebenar-benar paham liberal, yang ‘humanis’, toleran, dan menghargai pilihan-pilihan. Jadi, bila kita yakini dan praktikkan teori parenting barat itu, maka sesungguhnya kita bersiap anak-anak kita tumbuh menjadi generasi liberal. Haruskah kita simpan saja Al-Qur’an di lemari paling dalam, dan kita lebih memilih teori2 yahudi? Astagfirulloh! [Rujukan: Al-Qur’an, Akh Budi, Akh Yazid (Abu Hanin Komentar gurunda ustadz Fauzil Adhim: Terkait kata jangan atau tidak, dalam agama sudah sangat jelas bahwa kata jangan maupun tidak justru tak dapat dilepaskan. Syahadat diawali kata tidak. Nasehat Luqman menggunakan kata yang sama dengan makna jangan. Ada ribuan kata bermakna tidak/jangan dalam Al-Qur’an. Tapi jika kita cuma mengetik bahasa Endonesiyah “jangan” di Al-Qur’an for android, ketemunya cuma sekitar 360 Saya pernah membahas ini di buku Saat Berharga untuk Anak Kita. Di luar itu, jika kita seorang guru, salah satu hal penting untuk keberhasilan kelas adalah manajemen kelas. Dan urutan pertama dalam manajemen kelas adalah Aturan & Prosedur yang isi pokoknya Larangan dan Perintah. (Hasil diskusi via WA) http://tarbiahmoeslim.wordpress.com/2014/10/26/jadikan-al-quran-dan-as-sunnah-sebagai-pedoman-jangan-psycholog/ silahkan di share semoga bermanfaat untuk.semua . Maaf bila ada yg tdk setuju, iTu saya copas krn bagus..