Tuesday, August 18, 2015

Pasca: Metodologi Penelitian Kualitatif

Prof. Dr. H. M. Burhan Bungin, S.Sos., M.Si. 2011. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta, Indonesia: Kencana, Prenada Media Group. DESAIN PENELITIAN KUALITATIF: A. SUBSTANSI DESAIN PENELITIAN Format desain penelitian kualitatif secara teoretis berbeda dengan format penelitian kualitatif, namun perbedaannya terletak pada kesulitan di dalam membuat desain penelitian kualitatif itu sendiri karena umumnya penelitian kualitatif yang tidak berpola. Kesulitan membuat desain penelitian kualitatif disebabkan antara lain: (1) desain penelitian kualitatif itu adalah peneliti sendiri, sehingga penelitilah yang paham pola penelitian yang akan dilakukan, (2) masalah penelitian kualitatif yang amat beragam dan kasuistik sehingga sulit membuat kesamaan desain penelitian yang bersifat umum, karena itu cenderung desain penelitian kualitatif bersifat kasuistik, (3) ragam ilmu sosial yang variannya bermacam-macam sehingga memiliki tujuan dan kepentingan yang berbeda-beda pula terhadap metode penelitian kualitatif. INFORMAN DAN METODE PENGUMPULAN DATA KUALITATIF MENENTUKAN INFORMAN DENGAN PROSEDUR PURPOSIF Adalah salah satu strategi menentukan informan yang paling umum di dalam penelitian kualitatif, yaitu menentukan kelompok peserta yang menjadi informan sesuai dengan kriteria terpilih yang relevan dengan masalah penelitian tertentu, misalnya; penderita HIV, mahasiswa, pegawai, ibu rumah tangga, dokter, dan dosen. Contoh dari penggunaan prosedur purposif ini adalah antara lain dengan menggunakan key person. Ukuran besaran individu key person atau informan, yang mungkin atau tidak mungkin ditunjuk sudah ditetapkan sebelum pengumpulan data, tergantung pada sumber daya dan waktu yang tersedia, serta tujuan penelitian. Dengan kata lain besaran key person yang digunakan sebagai informan disesuaikan dengan struktur sosial saat pengumpulan data dilakukan. Kunci dasar penggunaan prosedur ini adalah penguasaan informasi dari informan dan secara logika bahwa tokoh-tokoh kunci di dalam proses sosial selalu langsung menguasai informasi yang terjadi di dalam proses sosial itu. Ukuran sampel purposif sering kali ditentukan atas dasar teori kejenuhan (titik dalam pengumpulan data saat data baru tidak lagi membawa wawasan tambahan untuk pertanyaan penelitian). Namun informan berikutnya akan ditentukan bersamaan dengan perkembangan review dan analisis hasil penelitian saat pengumpulan data berlangsung. METODE WAWANCARA MENDALAM Wawancara mendalam secara umum adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama. Dengan demikian, kekhasan wawancara mendalam adalah keterlibatannya dalam kehidupan informan.

Thursday, July 16, 2015

Tadabbur ayat-ayat Quran tentang personal finance di detik-detik terakhir Ramadhan 1436 H

Landasan hukum dalam Al-Qur’an tentang kewajiban untuk mengelola harta dengan baik dapat ditemukan dalam HR. at-Tirmidzi no. 2416, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, jilid 10, hal 8, no. 9772 dan Hadits ini telah dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 946 “Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi RabbNya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya”. Al-Asyaqar menjelaskan bahwa dalam rangka membelanjakan harta secara Islami , maka ada beberapa syarat yang harus terpenuhi dalam diri pembelanja dan ketentuan dalam membelanjakan harta. Syarat untuk pembelanja adalah: iman kepada Allah SWT dan ikhlas karena Allah SWT, diperoleh dengan usaha yang disyariatkan dan baik, tidak membanggakan dan menyebut-nyebut harta yang diinfakkan kepada orang lain, dialokasikan pada tempat-tempat yang disyariatkan, tidak bersikap aniaya dan zalim kepada orang lain, serta menyadari dan mensyukuri nikmat kekayaan adalah dari Allah SWT. Sedangkan ketentuan mengalokasikan dana atau berinfak adalah: memulai dengan skala prioritas yaitu dimulai dari diri sendiri kemudian keluarga dan kerabat yang paling dekat, jika ada kelebihan dari kebutuhan tersebut boleh berinfak kepada orang lain, menyegerakan melakukannya sebelum kematian menjemput, berinfak dari harta yang dicintai, dan sederhana. Yang dimaksud sederhana adalah kondisi pertengahan dan keseimbangan, yaitu menghindari: (1) sikap boros, mubadzir dan berlebihan, serta menghindari (2) sikap bakhil dan kikir, berdasarkan dalil yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan (25) ayat 67, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian”. Pengelolaan harta dalam Islam bersikap pertengahan, adil, dan seimbang yaitu mengalokasikan infak pada tempatnya yang proporsional dan baik sehingga sistem masyarakat akan terbangun dan berjalan serta tidak terhenti. Pemborosan merupakan penghancuran dan pembinasaan terhadap harta benda sehingga tidak dapat dijaga dan dilestarikan, sedangkan kikir berakibat pada penahanan harta sehingga tidak tersalurkan pada orang-orang yang berhak. Definisi pemborosan (israf) adalah pembelanjaan dan penggunaan sesuatu melebihi kelayakannya yaitu membelanjakan harta pada tempat-tempat yang disyariatkan namun melebihi standar yang dibutuhkan. Definisi tabdzir adalah membelanjakan dan mempergunakan sesuatu pada tempat dan kondisi yang tidak semestinya yaitu dapat diartikan pada hal-hal yang haram. Dalil yang melarang pemborosan atau israf dan kewajiban bersikap sederhana dan adil terdapat pada Al-Qur’an surat Al-A’raaf (7) ayat 31 “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” Definisi bakhil adalah menahan diri dari harta sendiri yaitu menahan hak-hak yang wajib ditunaikan dan bersikap kikir dalam infak-infak yang sunnah. Definisi kikir (taqtir) adalah bagian dari sikap bakhil tetapi terlalu menyempitkan dan hemat atas nafkah keluarga hingga menyebabkan kelaparan. Dalil pelarangan sikap bakhil terdapat dalam Al-Qur’an surat Ali Imran (3) ayat 180 “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Dalil-dalil berikut menjelaskan tentang skala prioritas yang harus diikuti dalam mengalokasikan harta yang dimiliki yaitu dari dirinya sendiri, kemudian keluarga dan kerabat yang menjadi tanggungannya, dan kemudian bagi orang-orang lain yang membutuhkan dalam masyarakat (Al-Asyaqar, 2006): - QS Al-Baqarah (2): 219: “…Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir.” Ayat ini menunjukkan bahwa manusia diperintahkan untuk mengontrol harta bendanya yang dapat memenuhi kebutuhannya dan tanggungannya, dan bila masih tersisa melebihi batas kecukupan maka boleh diinfakkan. - HR Ahmad yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. berkata, “Rasulullah SAW bersabda “bersedekahlah kalian!” seseorang berkata “aku punya satu dinar”. Rasulullah SAW bersabda “bersedekahlah atas dirimu sendiri”. Dia berkata lagi “aku masih punya satu dinar lagi”. Rasulullah SAW bersabda “bersedekahlah atas istrimu dengannya”. Dia berkata lagi “aku masih punya satu dinar lagi”. Rasulullah SAW bersabda “bersedekahlah atas anakmu dengannya”. Dia berkata lagi “aku masih punya satu dinar lagi”. Rasulullah SAW bersabda “kamu lebih tahu (dimana kamu menginfakkannya).” Hadits ini menunjukkan bahwa manusia harus menjamin terlebih dahulu kecukupan dirinya dan tanggungannya baru boleh bersedekah setelah itu dari kelebihannya.

Saturday, June 27, 2015

Consumer Behavior: Materialism and Consumerism

Consumer Behavior: Buying, Having, and Being 10th Edition Michael R. Solomon. 2013. Essex, England: Pearson Education Limited. Chapter 4 Motivation and Global Values Page 142 Motivation refers to the processes that lead people to behave as they do. It occurs when a need is aroused that the consumer wishes to satisfy. The need creates a state of tension that drives the consumer to attempt to reduce or eliminate it. This need may be utilitarian (i.e., a desire to achieve some functional or practical benefit, as when a person loads up on green vegetables for nutritional reasons) or it may be hedonic (i.e., an experiential need, involving emotional responses or fantasies, as when Basil longs for a juicy steak). The desired end state is the consumer’s goal. Page 144-145 Needs versus Wants The specific way we choose to satisfy a need depends on our unique history, learning experiences, and cultural environment. Two classmates may feel their stomachs rumble during a lunchtime lecture. If neither person has eaten since the night before, the strength of their respective needs (hunger) would be about the same. However, the ways each person goes about satisfying this need might be quite different. The first person may be a vegetarian like Paula, who fantasizes about gulping down a big handful of trail mix, whereas the second person may be a meat hound like Basil who gets turned on by the prospect of a greasy cheeseburger and fries. What Do We Need? We are born with a need for certain elements necessary to maintain life, such as food, water, air, and shelter. These are biogenic needs. We have many other needs, however, that are not innate. We acquire psychogenic needs as we become members of a specific culture. These include the needs for status, power, and affiliation. Psychogenic needs reflect the priorities of a culture, and their effect on behavior will vary from environment to environment. For example, a U.S. consumer devotes a good chunk of his income to products that permit him to displays his individuality, whereas his Japanese counterpart may work equally hard to ensure that he does not stand out from his group. We can also be motivated to satisfy either utilitarian or hedonic needs. When we focus on a utilitarian need, we emphasize the objective, tangible attributes of products, such as miles per gallon in a car; the amount of fat, calories, and protein in a cheeseburger; or the durability of a pair of blue jeans. Hedonic needs are subjective and experiential; here we might look to a product to meet our needs for excitement, self-confidence, or fantasy—perhaps to escape the mundane or routine aspects of life. Many items satisfy our hedonic needs (there’s even a popular resort called Hedonism). Luxury brands in particular thrive when they offer the promise of pleasure to the user—how badly do you “need” that Armani suit or Tiffany brooch? Of course, we can also be motivated to purchase a product because it provides both types of benefits. For example, a woman (perhaps a politically incorrect one) might buy a mink coat because of the luxurious image it portrays and because it also happens to keep her warm through the long, cold winter. Indeed, recent research on novel consumption experiences indicates that even when we choose to unusual things (like eating bacon ice cream or staying in a freezing ice hotel), we may do so because we have what the authors term a productivity orientation. This refers to a continual striving to use time constructively: Trying new things is a way to check them off our “bucket list” of experiences we want to achieve before moving on to others. Page 170-171 Materialism: “He Who Dies with the Most Toys Wins” Our possessions play a central role in our lives, and our desire to accumulate them shapes our value systems. Materialism refers to the importance people attach to worldly possessions. We sometimes take the bounty of products and services for granted, until we remember how recent this abundance is. For example, in 1950, two of five American homes did not have a telephone, and in 1940, half of all households still did not possess complete indoor plumbing. During World War II, members of “cargo cults” in the South Pacific literally worshiped cargo salvaged from crashed aircraft or washed ashore from ships. They believe that their ancestors piloted the ships and planes passing near their islands, so they tried to attract them to their villages. They went so far as to construct fake planes from straw to lure the real ones. We may not worship products to that extent, but many of us certainly work hard to attain our vision of the good life, which abounds in material comforts. Most young people can’t imagine a life without cell phones, MP3 players, and other creature comforts. In fact, we can think of marketing as a system that provides certain standards of living to consumers. To some extent, then, the standards of living we expect and desire influence our lifestyles, either by personal experience or as a result of the affluent characters we see on TV and in movies. Materialists Materialistic values tend to emphasize the well-being of the individual versus the group, which may conflict with family or religious values. That conflict may help to explain why people with highly material values tend to be less happy. Furthermore, materialism is highest among early adolescents (12 to 13 years old) in comparison to children or late adolescents—perhaps it’s no coincidence that this is the age group that also has the lowest level of self-esteem. Materialists are more likely to value possessions for their status and appearance-related meanings, whereas those who do not emphasize this value tend to prize products that connect them to other people or that provide them with pleasure when they use them. As a result, high materialists prefer expensive products that they publicly consume. A study that compared specific items that low versus high materialists value found that people low on the materialism value cherished items such as a mother’s wedding gown, picture albums, a rocking chair from childhood, or a garden, whereas those who scored high preferred things such as jewelry, china, or a vacation home. Materialistic people appear to link more of their self-identity to products (more on this in Chapter 5). One study found that when people who score high on this value fear the prospect of dying, they form even stronger connections to brands. Another study reported that consumers who are “love-smitten” with their possessions tend to use these relationships to compensate for loneliness and a lack of affiliation with social networks. Materialism and Economic Conditions One byproduct of the Great Recession has been to force many consumers to reconsider the value of their possessions. As one woman observed, “The idea that you need to go bigger to be happy is false. I really believe that the acquisition of material goods doesn’t bring about happiness.” This doesn’t necessarily mean that people will stop buying—but perhaps, at least for a while, they will do so more carefully. In the words of one industry analyst, “We’re moving from a conspicuous consumption—which is ‘buy without regard’—to a calculated consumption.” In 2010, American consumers on average saved more than 6 percent of their income—before the recession the rate was 1 to 2 percent. Ironically, bad economic conditions may make at least some people happier. Research on the relationship between consumption and happiness tends to show that people are happier when they spend money on experiences instead of material objects, when they relish what they plan to buy long before they buy it, and when they stop trying to outdo their neighbors. One study reported that the only consumption category that was positively related to happiness involved leisure: vacations, entertainment, sports and equipment like golf clubs and fishing poles. This finding is consistent with changes in buying patterns, which show that consumers have tended to choose experiences over objects during the last couple of years. For example, they may choose to entertain themselves at home rather than going out, or even to forgo a trip to Disney World for a “stay-cation” in the backyard. Another factor is just how much of a “buzz” we get from the stuff we buy. The research evidence points to the idea that consumers get more “bang for their buck” when they buy a bunch of smaller things over time, rather than blowing it all on one big purchase. This is due to what psychologists call hedonic adaptation; it basically means that to maintain a fairly stable level of happiness, we tent to become used to changes, big or small, wonderful or terrible. That means that over time the rush from a major purchase will dissipate and we’re back to where we started (emotionally speaking). So, the next time you get a bonus or find an envelope stuffed with cash on the street, take a series of long weekends instead of splurging on that three-week trip to Maui.

Friday, June 12, 2015

PASCA: tips penulisan tesis ekonomi Islam

Berdasarkan pengalaman pribadi, dalam penelitian ini yang menghabiskan waktu paling banyak adalah "kegalauan" dalam menentukan tema, metodologi penelitian yang memenuhi syarat tulisan ilmiah, serta "memilih" pembimbing yang tepat. Kegalauan pertama yaitu mencari tema yang menarik untuk diteliti, yang diusahakan tema tersebut merupakan passion peneliti, atau bidang studi yang ingin didalami oleh peneliti. Dalam menjawab kegalauan ini, selain melakukan eksplorasi atas pemikiran pribadi dan pengalaman pribadi (eksplorasi atas past, present, future condition) penulis juga sampai harus melakukan tes bakat natural menggunakan teknik analisa sidik jari dari trademark STIFIN. Kemudian diarahkan sesuai dengan minat dan bakat tersebut. Kegalauan kedua adalah mencari metodologi penelitian yang memungkinkan untuk dilakukan oleh peneliti tetapi memenuhi standar penulisan ilmiah, yang sangat berkaitan erat dengan pembimbing karena membutuhkan banyak diskusi. Sampai disini penulis merasakan jika tema sudah didapatkan kemudian mulai mengetik proposal tesis dari bab 3 metodologi penelitian, karena jika dimulai dari bab 1 dan bab 2 kemudian ketika di bab 3 tidak menemukan metodologi yang tepat maka bab 1 dan 2 akan berubah total sehingga penulis merasakan bolak balik membongkar ulang isi bab 1 dan 2 yang jika dihitung total timeline dilakukan sejak semester 2 (maret 2014) dalam matakuliah metodologi penelitian hingga bulan ini (juni 2015)

Tuesday, April 21, 2015

MATANG DAHULU, MASUK SD KEMUDIAN

School of Parenting MATANG DAHULU, MASUK SD KEMUDIAN Ada fenomena menarik belakangan ini. Beberapa orangtua berusaha memasukkan anaknya ke jenjang sekolah dasar (SD) sedini mungkin. Bahkan, ada orangtua yang ingin memasukkan anaknya yang masih berusia 4,5 tahun hanya karena si orangtua khawatir, anaknya “ketuaan” saat masuk SD. Mereka juga merasa anaknya sudah siap masuk sekolah dasar, karena sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Coba, kurang apa lagi? Ini jelas berbeda dari Lia Boediman, M.S..C.P., Psy, D., psikolog yang menghabiskan 22 tahun waktunya di Amerika dan baru kembali ke tanah air. Meski anaknya (5,5) sudah siap masuk sekolah dasar, tapi Lia malah menundanya. Semua itu sudah dipertimbangkan dengan matang, termasuk membicarakan dengan anaknya. Ternyata, anaknya pun setali tiga uang, ia masih ingin bersekolah di TK B dan belum mau masuk SD. Anaknya pun tak masalah bila nanti teman-teman sekelasnya di TK berusia lebih muda dari dirinya. Juga tak mengapa bila teman-teman seangkatannya di TK sudah berseragam merah putih alias duduk di kelas 1 sekolah dasar. “Kalau usianya masih segitu, biarlah jika dia masih mau di TK B. Mungkin kalau usianya sudah 6 tahunan, pertimbangan saya, lain lagi. Bukankah untuk melanjutkan ke pendidikan dasar, minimal anak harus berusia 7 tahun? Jadi, meski anak saya sudah siap, biarlah dia dimatangkan lagi aspek kognitif, bahasa, motorik, sosial-emosional, dan juga kemandiriannya. Dengan begitu, ia siap belajar dan tidak kapok karena tidak dapat menyesuaikan diri di sekolah. Saya ingin menanamkan pada anak, sekolah adalah tempat yang menyenangkan. Begitu juga dengan belajar, learning is fun and interesting. Dengan begitu, ketika di SD mereka akan mempunyai regulasi diri, tanggung jawab akan belajar, dan ketertarikan akan sekolah,” ungkap pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini. PASTIKAN ANAK MATANG Menurut Lia, sebelum memasuki jenjang SD, anak sebaiknya memiliki beberapa aspek kematangan bersekolah, meliputi aspek kognitif, bahasa, motorik, sosial-emosional, dan kemandirian. Jadi kemampuan anak menulis, membaca, dan berhitung saja tidak cukup. Itulah mengapa, untuk mengetahui kesiapan anak bersekolah, banyak SD yang mengharuskan para calon peserta didiknya melakukan tes kematangan sekolah. Selain untuk kelancaran proses belajar mengajar, tes kematangan sekolah juga diperlukan untuk kebaikan anak itu sendiri. Bayangkan, secara aspek kognitif anak sudah matang, tapi dari sisi kemandirian, emosi dan aspek lainnya belum matang, sehingga akan menyulitkan dirinya dan juga pihak sekolah. IQ-nya boleh tinggi, tapi di kelas dia belum bisa melakukan toilet learning sendiri. Apakah gurunya yang harus membantu anak melakukan toilet learning? Itu jika satu anak, bagaimana bila dalam satu kelas ada beberapa anak dengan kondisi sama. Repot, kan? Tidak hanya itu. Ia juga mudah tantrum atau menangis. Meski secara kognitif ia siap, namun ketidakmatangan emosi ini akan menghambatnya saat bersosialisasi; anak akan dijauhi, tidak disukai teman-teman di sekolahnya. Bukan tidak mungkin nantinya anak menjadi malas atau mogok sekolah. Bahaya, kan? Bila anak masuk ke sekolah yang menyeimbangkan aspek kognitif dan aspek lainnya, maka anak bisa saja mengejar ketertinggalan tersebut. Tapi bagaimana bila anak bersekolah di sekolah yang menekankan pada aspek kognitif semata? Di satu sisi kognitif anak akan semakin tinggi, tapi di sisi lain aspek yang kurang matang akan menjadi kurang terstimulasi. Akibatnya, aspek-aspek yang kurang matang akan semakin sulit berkembang, tertinggal jauh dari teman-teman lainnya yang sudah matang. Inilah yang akan menjadi masalah di kemudian hari, dimana di usia sekolah dasar anak harus terus-menerus disuruh belajar, lalu saat ujian orangtuanya stress karena sibuk belajar, menanya-nanya soal, membacakan, dan sebagainya. Nantinya, anak tidak bisa menjalin relasi sosial yang baik dengan orang lain, masih banyak dibantu, dan sulit untuk menjadi sukses. “Ini yang tidak diinginkan, sehingga uji kematangan sebelum bersekolah perlu dilakukan.” Jadi tidak mentang-mentang bisa calistung, si kecil yang berusia 4 tahunan lantas bisa masuk sekolah dasar, ya, Bu-Pak. KEMATANGAN MERUPAKAN PROSES Kematangan anak untuk bersekolah merupakan proses yang terkait dengan aspek perkembangan anak secara keseluruhan dan proses ini dimulai sejak bayi. Kematangan anak harus dibina dari hal-hal kecil dan sederhana. Misalnya, anak diberi kesempatan untuk mandiri, bisa bersosialisasi, dan sebagainya. Kenalkan dan ajarkan kemampuan tersebut di rumah sesuai dengan tahapan usia perkembangannya. Jadi, kematangan bersekolah ini tidak dinilai atau dilihat saat anak mau masuk sekolah dasar saja. Tahun depan anak mau masuk SD, lalu kematangannya dinilai 6 bulan sebelumnya. Tidak demikian. Tes-tes kematangan sekolah yang diberlakukan di beberapa SD, pada intinya untuk melihat gambaran mengenai kekurangan dan kelebihan anak tersebut. Sekolah-sekolah biasanya akan menerima anak dengan menyeleksinya sesuai standar tertentu. Padahal, untuk mengetahui kematangan bersekolah anak dibutuhkan tenaga psikolog anak professional. Maka itu, orangtua disarankan membawa anaknya ke psikolog anak professional, meski tidak dipungkiri beberapa sekolah sudah melibatkan psikolog anak professional dalam tes itu. Informasi kematangan bersekolah anak ini diperoleh psikolog dengan cara mewawancarai orangtua si anak mengenai perkembangannya, mendapatkan informasi dari guru TK sebelumnya, dan juga melakukan observasi pada anak langsung dengan bertanya, berinteraksi dengan bermain, dan mengobservasi lainnya. Dengan begitu dapat diketahui seperti apa perkembangan diri si anak. Selain itu, dilakukan pula tes intelegensi untuk mengetahui kemampuan kognitif anak. Lewat serangkaian proses itu dapat diperoleh rekomendasi, apakah anak sudah matang untuk melanjutkan ke jenjang SD atau tidak. SETIAP ANAK BERBEDA Kematangan setiap anak tentunya berbeda-beda. Selain dipengaruhi usia, juga oleh temperamen, cara belajar anak selama ini, tahap perkembangannya, serta faktor lingkungan yang mendukungnya. Umumnya, pada anak-anak normal, di usia 6-7 tahun anak sudah matang alias siap untuk bersekolah. Kecuali pada anak-anak yang mempunyai masalah dengan perkembangannya, seperti ada hambatan kognitif, bahasa, dan sebagainya, tentunya di usia 7 tahun belum bisa masuk SD karena ada masalah tersebut. Memang, di usia 6-7 tahun itu boleh jadi ada beberapa aspek anak yang mungkin saja belum matang, tapi yang harus diingat, kematangan anak untuk bersekolah tidak dilihat dari satu aspek saja, tapi secara keseluruhan. Apalagi dalam setiap aspek, misalnya, aspek bahasa terdiri atas beberapa komponen, begitupun aspek motorik, dan sebagainya, masing-masing ada komponennya. Jadi, bisa saja anak secara aspek kognitifnya sudah matang, namun secara sosial masih pemalu. Bukan berarti anak belum matang untuk masuk SD. Kekurangan anak atau kurang siapnya anak secara sosial tersebut masih bisa diupayakan, di-support untuk lebih matang dalam aspek tersebut. Maka itu, pemilihan sekolah pun menjadi penting. Pilihlah sekolah yang menyeimbangkan semua aspek perkembangan anak. Tidak hanya kognitif, tapi juga aspek lainnya, sehingga semua aspek anak dapat terasah secara optimal. KERJA SAMA ORANGTUA-SEKOLAH Mengingat sistem pendidikan di tanah air yang cenderung kurang memberikan kematangan pada aspek lain selain kognitif, maka diperlukan kerja sama antara orangtua dan pihak sekolah (SD). Orangtua harus berperan aktif dengan cara mengenal baik anaknya, mengetahui bagaimana tahapan perkembangannya, mengetahui kekurangan dan kelebihan anaknya, sehingga orangtua tahu apa yang dapat dilakukannya atas kekurangan yang dimiliki agar menjadi lebih baik serta dapat memaksimalkan potensi dan kemampuan yang dimiliki. Contoh, orangtua melihat anak masih kurang mandiri, maka orangtua dapat memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan hal-hal sederhana sendiri. Contoh lain, aspek sosial anak tampak masih kurang, maka anak sering-sering diajak berinteraksi dengan temannya atau orang lain. Pihak sekolah dasar juga seharusnya bisa melihat beban-beban yang diberikan kepada muridnya agar seimbang pada setiap aspek perkembangan. Menyediakan fasilitas untuk mendukung aspek-aspek perkembangan anak, misal, menyediakan ruang bermain seperti playground atau lapangan basket untuk mengasah kemampuan motorik anak. Memberikan pembelajaran yang disesuaikan dengan gaya belajar anak, menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan lewat bermain terutama pada usia-usia SD awal. Guru sekolah dasar juga sebaiknya mengetahui tahapan perkembangan di usia sekolah, sehingga dapat mengembangkan kemampuan anak secara keseluruhan. INDIKATOR KEMATANGAN BERSEKOLAH 1. Aspek FISIK · Motorik Kasar - Bisa duduk tegap. - Berjalan lurus dan bervariasi. - Berlari. - Melompat. - Melempar. - Memanjat. - Naik turun tangga. - Mengombinasi gerakan seperti lompat, jongkok, tegak dan berguling. · Motorik Halus - Dapat memegang pensil dengan baik. - Menggambar orang atau sesuatu dengan lebih rapi tidak berantakan. - Bisa makan sendiri. - Menulis angka. - Mewarnai. - Menggunting. - Menyusun lego. 2. Aspek BAHASA - Memperkenalkan diri, nama, alamat, dan keluarga dengan jelas. - Bercerita mengenai keadaan di rumah, sekolah, permainan, dan lain-lain. - Menjawab pertanyaan. - Menyanyikan lagu. - Menyebutkan seluruh anggota badan. - Menirukan huruf, suku kata, dan kata. 3. Aspek KOGNITIF - Menerangkan mengenai sesuatu, misalnya kegunaan suatu benda. - Mengenal warna. - Mengetahui angka atau bilangan. - Membedakan bentuk. - Dapat mengelompokkan benda/sesuatu. - Memahami konsep penjumlahan dan pengurangan. - Membaca tanda-tanda umum seperti di jalan. - Dapat berpikir lebih fleksibel dan sebab akibat. - Rasa keingintahuan yang besar dan mencari tahu jawabannya. 4. Aspek SOSIAL-EMOSIONAL - Bisa bermain secara interakstif dengan temannya. - Berperilaku sesuai norma yang ada di lingkungannya. - Menghargai adanya perbedaan maupun pendapat orang lain. - Tidak lagi terlalu bergantung/lengket pada orangtuanya. - Dapat menolong orang lain/temannya. - Menunjukkan rasa setia kawan deengan temannya. - Bisa beradaptasi di lingkungan baru seperti teman atau guru. - Bila diberi tahu sesuatu bisa mengerti. - Dapat berkonsentrasi maksimal 15-20 menit. - Bisa menunggu atau menahan keinginannya. - Dapat patuh pada aturan dan tuntutan lingkungan. 5. Aspek KEMANDIRIAN - Sudah bisa makan sendiri. - Pakai baju sendiri. - Menyikat gigi sendiri. - Toilet learning. - Mulai dapat teratur pada rutinitas, seperti bangun tidur. sumber: http://www.kancilku.com/Ind//index.php…