Saturday, April 12, 2014

PASCA: Ekonomi Makro Islami (6) Review



REVIEW MATERI

1. Introduction of Islamic Macroeconomics

2. Konsep Pendapatan Nasional
Terdiri dari 3 pendekatan

3. Konsep Pembangunan
Konsep Ibnu Chaldun : dynamic theory yang banyak ditulis oleh Umer Chapra

4. Pasar Barang / Goods Market
Cikal bakal kebijakan fiskal, GDP

5. Pasar Uang / Financial Market
Tulang punggung perekonomian

6. IS-LM / Fiskal dan Moneter


Masing-masing 1 soal untuk setiap topik
Take home senin 12siang sampai kamis 24april14 jam12 siang: email dan sms

6 soal yang dijawab 5 saja, nilainya sama 20%, ada yang jawaban pasti salah atau benarnya, ada yang sifatnya explanation/penjelasan, yang penjelasan harus ada dan dijelaskan bagian mana pendapat pribadi dan bagian mana yang berdasarkan referensi. Referensi hanya buku dan jurnal saja, 1-2 per soal. Ketik bahasa Indonesia.

Money demand yang merupakan fungsi dari pendapatan dan fungsi interest, LM sama nilainya dengan IS yaitu jumlah uang yang beredar sama dengan jumlah barang dan jasa yang beredar.

Konsep M1 dan M2.
Pendekatan velocity of money MV = PT hampir sama dengan teorinya Al Maghrizi uang mencerminkan seberapa besar transaksi barang dan jasa.  Seberapa besar uang bisa beredar di masyarakat.
Dalam kebijakan BI, M1 dan M2 tidak sama nilainya, nilai M2 berkali2 lipat dibanding nilai M1. Nilai new money telah menggelembung karena adanya derivative market: contohnya saham, surat berharga, dan asuransi dapat menciptakan beberapa produk dibawahnya, sehingga tidak lagi mencerminkan kondisi sebenarnya dan IS tidak akan pernah sama dengan LM. Oleh karena itu secondary marketnya tumbuh dan fungsi uang berubah dari awalnya yang hanya sebagai alat transaksi, sekarang dapat menciptakan pasarnya sendiri melalui spekulasi, dll.
Dalam Islam, kebijakan fiskal tidak hanya terdiri dari zakat, dan pajak yang ada sekarang juga merupakan bagian dari kebijakan fiskal Islam, tetapi instrumen utamanya tetap zakat. Instrumen lainnya jika zakat tidak cukup maka dikumpulkan fay’, kemudian pajak untuk golongan kaya saja, dan jika tidak cukup maka dilakukan pemerataan (takaful).
Sedangkan saat ini perolehan utamanya adalah dari fay’ atau pajak. Fay’ meliputi kharaj, jizyah, khums, ushr, al mustaglat, dll.

Arsitektur ekonomi Islam didesain untuk menghilangkan gap antara pasar barang dengan pasar uang. Sehingga tidak terjadi institusi keuangan berkembang tetapi kebijakan fiskal dan kebijakan moneternya tidak berkembang, dan hal ini dapat menjadi faktor penghambat. Jika sektor riil dan sektor keuangan berkembang secara seimbang maka tidak akan terjadi ketimpangan. Kajian yang perlu diperkuat adalah di bidang wakaf, zakat, dan mata uang seperti dinar dan dirham. Contohnya bagaimana dana haji dapat dipergunakan yaitu untuk membiayai pembangunan landmark. Selain itu juga untuk memajukan pengusaha2 muslim yang sudah memiliki pemahaman homo Islamicus, dan juga dapat meningkatkan market share lembaga2 keuangan syariah. Jika tidak membangun sektor riil, sedangkan posisi instrumen moneternya terbatas, pertumbuhan market share lembaga keuangan syariah tidak akan dapat pesat, dan lambat perkembangannya.

Perkembangan kebijakan pemerintah di Indonesia yang memfasilitasi kebutuhan umat Islam adalah dimulai dari bangkitnya kesadaran beragama masyarakat yang kemudian mendorong pemerintah untuk mengeluarkan undang2 terkait. Sedangkan di Malaysia, penduduk muslimnya sedikit lebih banyak dari 50% sehingga pemerintah merasa perlu menyediakan kebijakan2 yang mendukung muslim agar suaranya dapat diambil sedangkan di Indonesia dianggap sebagai mayoritas dan dianggap tidak perlu dilindungi dan diayomi lagi. Di Indonesia, faktor pendorongnya adalah masyarakat, yaitu pemerintah akan memfasilitasi apa yang berkembang di masyarakat.



Dosen: Dr. Handi Risza Idris

Monday, April 7, 2014

PASCA: Referensi untuk Tesis

http://www.islamicfinancenews.com/guide07pdf/sr-islamic%20wealth.pdf
http://www.emeraldinsight.com/journals.htm?issn=0958-868X
http://www.uin-alauddin.ac.id/download-2-RAHMAWATI%20MUIN.pdf
http://sofyan71sbw.files.wordpress.com/2010/05/distribusi-pendapatan-dan-kemiskinan-di-indonesia.pdf

what is islamic wealth management
http://moneycompass.com.my/en/what-is-islamic-wealth-management-2/

The Stochastic Programming Approach to Asset, Liability and Wealth Management
http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.117.2777&rep=rep1&type=pdf

textbook Personal Finance
http://catalog.flatworldknowledge.com/catalog/editions/siegel_p-personal-finance-1-0

materi CFP
http://www.fpsbindonesia.net/pedoman_sertifikasi_CFP_2010.pdf

Saturday, April 5, 2014

PASCA: Ushul Fiqh (6) Lanjutan Amr dan Nahy



Lafaz memiliki beberapa tunjukan (dalalah) yaitu: amr dan nahy.
Sunnah yang berbentuk perkataan Rasulullah terdiri dari khabari dan insya’i. Khabari yaitu berita, insya’i yang tidak mengandung berita.
Contoh kalimat berita yang menunjukkan wajib: “kutiba alaikumushiyam kama kutiba alalladzina min qablikum laallakum tattakum”.
Contoh yang bukan kalimat berita / insya’i: wa ahallallahulbai’a wa harramarriba, diharamkan, jelas hukumnya.
Cara mengetahui kalimat amr:
1. Ada fiil amr, contoh: aqimusshalah wa atuzzakah.
2. Diawali dengan lam, contoh liyunfiq.
3. Bentuknya mashdar, sumber kata kerja yang akan menjadi kata benda. Contoh: fadharbarriqob.
4. Isim fiil amar.

NAHY
Lawan kata perintah, adalah kata larangan (nahy). Nahy adalah tuntutan untuk meninggalkan perbuatan, dari yang lebih tinggi derajatnya kepada yang lebih rendah derajatnya. Jika dari yang lebih rendah kepada yang lebih tinggi bukan larangan, tetapi bentuk katanya memohon.
Bentuk2 yang menandakan larangan:
1. Huruf laa yang menunjukkan larangan, ada lam, fiil mudhari dimulai dengan ta, nunnya hilang atau kata sukun, contoh: laa ta’kulu arriba, laa tabi’
2. Yang tidak menggunakan kata laa, tetapi dari kandungan makna keseluruhan mengartikan larangan. Ada yang berbentuk ancaman. Contoh ancaman dengan siksa: Rasulullah melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, yang menulisnya, dan yang menyaksikannya. Melaknat adalah menjauhkan dari rahmat Allah. Tidak mengandung kata laa tetapi bermakna melarang. Sifat2 lain yang disebutkan yaitu munafiq, kufur, yaitu yang pelakunya disifatkan dengan kata2 tersebut maka berarti perbuatannya dilarang.

Setelah mengetahui kalimat perintah dan larangan, maka pengambilan hukumnya perintah dapat dikatakan hukumnya wajib karena ada kaidah umum yang mengatakan perintah adalah wajib, yang menyatakan kaidah itu adalah “orang2 yang menentang perintah Allah, waspadai datangnya musibah” merupakan dalil yang mewajibkan. Tentang sunnah yaitu “jika tidak memberatkan maka akan disuruh bersiwak” (hadits).
Pada dasarnya seluruh kalimat perintah hukumnya wajib, tetapi ada yang dikecualikan yaitu: (1) perintah yang didahului oleh larangan, maksudnya membatalkan larangan dan kembali ke hukum asalnya yaitu mubah. Yang dikecualikan lainnya yang hukumnya tidak wajib adalah (2) ketika ada qarinah / dalil lain yang menunjukkan hukumnya tidak wajib. Contoh: istasyhidu syahidaini min rijalikum berarti jika berakad untuk transaksi yang tidak tunai pada dasarnya wajib mencari saksi, tetapi menjadi tidak wajib karena ada dalil yang lain dari kasus bahwa Rasulullah pernah melakukan akad tidak tunai dengan yahudi dan tidak ada saksi, kemudian ketika terjadi perselisihan Ibnu Khuzaimah bersaksi tentang kebenaran Rasulullah, sehingga dibolehkan tanpa saksi.
(3) Setiap perintah yang diikuti tanda2 harus dilakukan segera maka harus segera, kecuali jika tidak ada tanda2 harus segera dilakukan.
(4) Perintah mutlak yang dilakukan berulang2 contoh “dirikanlah shalat” yaitu dari hadits agar mengerjakan shalat saat matahari tenggelam (magrib), dst. Jika dikaitkan dengan kondisi berulang2 maka dilakukan berulang2. Sedangkan tentang perintah haji tidak diperintahkan berulang2 tetapi hanya sekali saja yaitu dari hadits “Jika diwajibkan setiap tahun tidak dapat dilakukan”.
Pada dasarnya perintah menunjukkan dilakukan sekali kecuali ada yang menandakan dilakukan berulang2.

Contoh jika menjual barang yang bukan miliknya seperti dropship, ada larangan dan larangan maksudnya adalah haram. “Jangan menjual barang yang bukan milikmu” jual belinya tidak sah dan seharusnya akadnya diulang. Jika akan melakukan seperti itu maka minta perjanjian akad wakalah dari penjual pertama.
Hukum taklifi / konsekuensi dari larangan jika dilakukan adalah tidak sah.

Hukum untuk larangan:
(1) Jika hukum perintah dasarnya tidak diulang2, tetapi untuk larangan menunjukkan berulang2 yaitu menunjukkan selamanya. Contoh laa taqrobu zina yaitu larangan tidak melakukan zina selama2nya.
(2) Perintah kemudian larangan menunjukkan haram, yang haram lebih kuat dari yang wajib dan lebih kuat dari perintah.
(3)

Maalaayatimmulwaajib illa bihi fahuwa wajib: wudhu wajib, tetapi jika tidak ada air maka wajib membeli air sehingga membeli airnya menjadi wajib.
Sesuatu tidak menjadi kewajiban jika dengannya. Contoh: yang mengantarkan zakat adalah nishab, tetapi tidak wajib mencari harta agar mencapai nishab.

Dosen: Dr. Erwandi Tarmizi, MA

PASCA: Filsafat dan Pemikiran Ekonomi Islam (6) Konsep tentang Tuhan dan Nubuwwah



KONSEP TENTANG TUHAN DAN NUBUWWAH

Peran paradigma dan cara pandang dalam penciptaan konsep dan ilmu. Peran Islamic worldview dalam mengawali pembahasan ekonomi Islam.
Konsep mekanistik Tuhan dalam western worldview menciptakan penyerahan kepada mekanisme pasar, dampaknya hingga industri pendidikan juga diserahkan pada pasar sehingga menciptakan pendidikan yang mahal. Semua faktor dalam ekonomi diserahkan pada supply dan demand dalam mekanisme pasar dan mendominasi dalam pencapaian kesejahteraan manusia.

Islamic worldview terdiri dari 4 hal:
1. tauhid
2. nubuwwah
3. khalifah
4. alam
Pembahasan ekonomi mencakup pembahasan tentang khalifah dan alam: mempelajari perilaku manusia / behavior of human being
Harta = maal = sesuatu yang membuat fitrah manusia mencapai kearahnya -> behavior

Dalam perspektif Quran terdiri dari 2 perilaku manusia terhadap harta yaitu golongan kanan dan golongan kiri:
1. Perilaku manusia yang cenderung ingin selalu mendapatkan materi : homo economicus
2. Perilaku manusia yang menjadikan harta sebagai fasilitas dan medium untuk melakukan ibadurrahman: homo Islamicus. Memandang alam sebagai anugrah Allah bagi manusia agar dapat hidup sejahtera, sehingga dalam perolehannya tidak merugikan orang lain dan alam.

Termasuk dalam western worldview yaitu penciptaan manusia sebagai hasil dari proses evolusi yang terjadinya secara tidak sengaja, sedangkan dalam Islam manusia sengaja diciptakan dengan tujuan tertentu.

Kajian ontologis: hakikat sesuatu
Islam bersifat teosentris: realitas sebenarnya hanya Allah -> tauhid uluhiyah, rububiyah, dan memahami sifat2 Allah dalam asmaul husna
Sehingga tidak ada jalan buntu dalam kehidupan karena adanya kepercayaan terhadap Allah yang Maha, dan segalanya bersumber dariNya.

Faktor Mengenal Allah
1. Fitrah. Dalil adanya fitrah dalam manusia yaitu pertama ketika ditiup ruh, mitsaqan ghaliza 4 bulan dalam kandungan. Berbeda dengan determinisme dalam teori tabula rasa bahwa manusia adalah kertas putih yang seluruhnya dipengaruhi faktor eksternal, sedangkan dalam diri manusia ada fitrah untuk mengarah pada kebaikan.
2. Akal. Dalil aqli

3 jenis Tauhid
1. Rububiyah: mengesakan Allah dalam 3 perkara yaitu penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan.
Fitrah manusia adalah mengakui dan membenarkan hal ini, fitrah yang berada diluar kendali manusia, tidak ada yang dapat melebihi kekuasaan Allah
2. Uluhiyah: mengesakan Allah sebagai satu2nya yang disembah.
Mencakup 3 aspek yaitu nusuk, hakimiyah, wala wal bara. Memahami yang menciptakan dan apa yang harus dikerjakan. Nusuk: dalam praktik peribadatan, harus sesuai dengan aturan Allah, dan diserahkan pada Allah saja. Sebagai perilaku turunan atau konsekuensi terhadap keyakinan bahwa Allah pencipta segala sesuatu. Hakimiyah: hanya Allah yang berhak membuat hukum2 baik ibadah maupun dunia. Wala yang menciptakan kebaikan, bara yang menjauhkan dari keburukan.


3. Asma wa Shifat: meyakini nama2 dan sifat2 Allah.
Menghapuskan ta’thil, takyif, tamtsil: menghilangkan makna/sifat Allah, mempersoalkan asma dan sifat Allah dgn pertanyaan bagaimana, menyerupakan Allah dengan makhluk (tasybih).

Implikasi pemahaman terhadap konsep tauhid yaitu dalam seluruh aspek kehidupannya sesuai dengan yang diinginkan Allah. Termasuk dalam aspek ekonomi yaitu senantiasa memastikan sejalan dengan ketentuan Allah.
Mengingkari prinsip2 syariah dalam aktivitas ekonomi membawa pada munafiq, fasiq, bahkan syirik.
*Catatan: baca tentang konsep nubuwwah.


Dosen: Dr. Yulizar D. Sanrego, M.Ec.