Tuesday, January 5, 2016

PASCA: pemilihan jumlah narasumber

http://wkwk.lecture.ub.ac.id/tag/etnografi/

Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan atau narasumber (bukan “responden” seperti dalam penelitian kuantitatif), yang mana informan atau narasumber ini adalah orang-orang yang memahami konteks masalah yang sedang diteliti. Mereka adalah pelaku peristiwa, orang yang sangat tahu, paham dan ahli serta dekat dalam bidang atau masalah yang sedang diteliti, sehingga yang penting dari informan atau narasumber ini adalah kualitasnya, bukan jumlahnya seperti dalam penelitian kuantitatif. Karenanya, bukan jumlah informan atau narasumber yang dipentingkan, tetapi kedalaman, intensitas dan kualitas data yang diperoleh / digali dari mereka-lah yang penting. Apa yang disebut sebagai “tingkat kepercayaan” dalam penelitian kuantitatif yang direpresentasikan dengan ukuran sampel (semakin besar ukuran sampel atau jumlah responden maka penelitian akan semakin bisa dipercaya atau memperkecil margin of error), dalam penelitian kualitatif adalah kedalaman dan kualitas data yang dapat digali inilah yang penting. Karenanya, pemilihan informan atau narasumber menjadi penting pula.

Jika kuantitatif memilih responden secara acak berdasarkan sampling technique dan sampling frame yang telah ditentukan sebelum terjun lapangan, maka penelitian kualitatif memilih informan atau narasumber tidak secara acak, tetapi dipilih berdasarkan kriteria kepahaman dan kedekatan akan suatu masalah yang sedang diteliti. Biasanya dilakukan dengan teknik snow-ball dengan terlebih dahulu menentukan seorang informan atau narasumber kunci (purposed) yang darinya menjalar kepada informan atau narasumber lain atas referensi informan atau narasumber sebelumnya. Demikian dilakukan terus hingga informan atau narasumber ke-x ketika data telah jenuh yakni ketika informan atau narasumber telah tidak lagi bisa memunculkan konstruksi yang berbeda dan baru. Instrumen penelitian, menggunakan “panduan wawancara kualitatif” yang tidak bersifat terstruktur (ketat) seperti dalam penelitian kuantitatif, tetapi lebih fleksibel, dengan tipe pertanyaan open-ended, yakni tiap pertanyaan akan berakhir dengan membuka jalan bagi pertanyaan berikutnya yang mengikuti alur semi-terstruktur maupun tidak terstruktur (peneliti bebas melakukan improvisasi di lapangan namun tetap dalam koridor desain penelitian).

Wednesday, December 30, 2015

Agar Anak Pandai Mengelola Uang

Panduan Praktis untuk Mengajar Anak Menabung, Membelanjakan, dan Menginvestasikan Uangnya dengan Benar

Paul W. Lermitte & Jennifer Merritt

1. Kontrak Uang Saku
Mulai usia 5-6 tahun

Prinsip Uang Saku
1) Berjanjilah kepada anak anda: mulai kapan akan diberikan uang saku
2) Minta anak anda berjanji kepada anda: sebagian untuk ditabung, sebagian untuk digunakan, jika habis tidak boleh minta tambah dengan cuma-cuma
3) Bersikap konsisten dan tegas
4) Jangan mengaitkan uang saku dengan tugas atau prestasi / pencapaian, uang saku diberikan karena ia bagian dari keluarga dan untuk mengajari anak dasar pengelolaan uang yang baik
5) Jadikan tabungan sebagai bagian kontrak uang saku

Berikan uang saku pada hari senin atau minggu malam, menabung misalnya sebesar 25%, belikan celengan dan dompet, menuliskan uang saku yang diberikan setiap minggu

2. Membayar dengan Uang Saku atau Ditraktir

Prinsip Kunci Mentraktir
1) Bedakan antara uang saku dan traktiran, traktir untuk: hadiah dan secara spontan, usahakan tidak menjanjikan traktiran sebelum menyelesaikan pekerjaan yang diberikan
2) Bedakan antara traktiran dan pengeluaran keluarga reguler yang merupakan tanggung jawab orang tua
3) Mentraktir untuk memberikan contoh nilai-nilai positif
4) Mentraktir untuk mendorong pilihan gaya hidup positif: traktir tidak hanya makanan atau mainan tapi bisa hal lain
5) Jangan mencoba menciptakan keseimbangan sempurna di antara saudara

3. Tertawa Sepanjang Jalan Menuju Bank

Prinsip Kunci Perbankan
1) Jadikan menabung secara teratur sebagai kebiasaan seumur hidup: bank dapat membantu jika digunakan dengan benar
2) Biarkan anak melakukannya
3) Jangan menolak buku tabungan: untuk melihat mutasi
4) Tolak kartu ATM: anak kecil belum siap memahami uang elektronik
5) Tentukan batas maksimum uang belanja harian
6) Hindari biaya bank yang menakutkan: tabungan khusus anak2 yang biaya administrasinya kecil
7) Jangan terlalu mempermasalahkan bunga

4. Membelanjakan Lebih Banyak Uang

Prinsip Kunci Berbelanja
1) Rencanakan pembelian besar jauh2 hari
2) Lakukan penelitian
3) Pertimbangkan harga dan kualitas
4) Beri anak anda kelonggaran sebanyak satu bulan: boleh menyimpan uang di dompet
5) Rencanakan liburan jauh-jauh hari
6) Ajarkan cara memberikan tip sebagai imbalan pelayanan yang baik

5. Kasus Jendela yang Pecah

Untuk mengajari anak menghormati milik mereka sendiri dan milik orang lain
Kebijakan konsekuensi yang konsisten jika anak melanggar aturan kepemilikan
Mengajari appropriate behavior

Prinsip Kunci Hak Kepemilikan
1) Beri anak kelonggaran: jangan kaku, tidak menghukum tetapi memberikan pengertian dan konsekuensi
2) Bersikap bijaksana
3) Ajarkan sikap bertanggungjawab: merawat hak milik
4) Buat anak membayar kesalahan yang kedua kali jika merusak atau menghilangkan
5) Jangan menahan uang saku sebagai hukuman
6) Bahas konsekuensi dengan anak jika melanggar aturan kepemilikan
7) Mulai dengan kamar tidur anak
8) Ajarkan aturan emas: persamaan antara apa yang dilakukannya dengan barang orang lain dengan barang miliknya
9) Minta anak melakukan inventaris pribadi

6. Anugrah Memberi

Prinsip Kunci Memberi:
1) Sumbangkan sekian persen penghasilan untuk amal
2) Berikan sumbangan secara teratur
3) Berikan sumbangan kepada badan amal setempat
4) Libatkan anak secara fisik
5) Bantu mereka memberikan hadiah
6) Bantu mereka memilih organisasi yang sesuai
7) Sumbangkan pakaian dan mainan yang tak terpakai

7. Serba Serbi Kredit
Untuk membantu memahami kredit, mengembangkan kebiasaan meminjam dan melunasi yang baik, memberi pengalaman menangani masalah kredit

1) Jadikan meminjam sebagai pengalaman yang positif
2) Pinjaman harus dibayar tepat waktu dan lunas
3) Tentukan batas pinjaman sebesar dua bulan uang saku
4) Kenakan kredit berjangka waktu dua bulan
5) Buat rencana pembayaran yang jelas
6) Jangan mengenakan bunga pada pinjaman keluarga
7) Tidak boleh ada angsuran yang terlewati
8) Biarkan melakukan kesalahan
9) Izinkan mereka meminjam hanya dari anda

8. Sisi Debit Uang
Menggunakan kartu debit yang benar, mempertahankan kebiasaan menabung walaupun menggunakan kartu debit, membuat pilihan konsumen yang matang meski saat ada uang

Prinsip kunci:
1) AJari anak cara menggunakan kartu kredit yang bertanggungjawab
2) Tentukan batas penggunaan kartu debit
3) gunakan mekanisme pengendalian: membatasi jumlah penarikan harian dan jumlah pembelian
4) Pilih jenis kartu yang tepat
5) Jangan menggunakan deposito langsung: tetap berikan uang tunai
6) Gunakan rekening tabungan jangka pendek saja
7) Simpan sedikit uang di dompet mereka
8) Perbaiki keamanan dengan kartu debit: membatasi jumlah penarikan, merahasiakan penyimpanan kartu dan pin, tidak memamerkan uang, berhati2 di atm

9. Membangun Gunung Uang

Pilihan baik dalam membelanjakan uang, dasar penganggaran, tabungan jangka panjang

Prinsip kunci:
1) Ajari anak dasar penganggaran: dan pengelolaan cashflow
2) Bantu anak menentukan tujuan keuangan
3) Ajari anak seni memilih
4) Pilah uang ke dalam kategori2 jangka pendek (buku, cemilan, dl) , menengah (liburan, mainan, pakaian) , panjang (mobil, kuliah, liburan impian)
5) Bahas konsep gunung uang: reksadana, saham, dll
6) Minta saran ahli: ikut konsultasi dengan finance advisor

10. Bola Kristal Investasi
menabung jangka panjang, reksadana, rekening investasi

11. Memilih Saham
cara kerja bursa saham, memilih saham yang tepat, perbedaan spekulasi dengan investasi jangka panjang

12. Masa Depan yang Sangat Cerah
menabung untuk pendidikan tinggi, jenis program tabungan, pentingnya pendidikan tinggi

13. Pembangun Bisnis Anak
mengembangkan semangat wirausaha, mengajari konsep dasar bisnis, pengalaman menjalankan bisnis sederhana menggunakan apa yang senang dilakukannya

14. Kesepakatan Keluarga
metode keluarga untuk menentukan keputusan penting, membangun kepercayaan diri, bekerja dalam tim, mimpikan masa depan besar, pengharapan realistis,

15. Ekonomi Terpisah
Jika bercerai dan untuk membandingkan gaya pengelolaan uang yang berlainan

16. Membuat Pilihan Mandiri
memahami risiko dan konsekuensi pilihan

17. Kegilaan Pemasaran
iklan dan marketing memengaruhi keputusan pembelian, batasi pembelian barang bermerek, menjelaskan harga "keren" dan faktor keamanannya, jangan window shopping, ajarkan kebiasaan konsumen cerdas, ajari penipuan pemasaran,

18. In atau tidak In
mengenali bahaya mengimbangi anak2 keren, meningkatkan kepercayaan diri tanpa membelanjakan uang, apakah ingin membeli karena diri sendiri atau karena ikut2an

19. Formula Sasaran Seumur Hidup
dorong untuk bermimpi, memilih masa depan sendiri, hadapkan pada banyak pilihan, dukung bakat dan hasrat unik, pantau kemajuan dan rayakan keberhasilan, berikan peluang dan batasan, penentuan sasaran, keterampilan untuk menentukan sasaran.

Sunday, December 20, 2015

Seminar “Parents as Teachers” oleh Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Seminar “Parents as Teachers” oleh Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Depok, 20 Desember 2016

Soleh: bermanfaat.
Kenapa belajar parenting: karena perintah Allah. Belajar tidak menunggu ada masalah.
Lemah kemauan : anak yang ketika besar tidak mau bekerja terbentuk dari kecilnya, yang ketika kecil selalu diberikan keinginannya tanpa mempedulikan keadaan, contoh: orang tua pekerjaan kasar tetapi gaya anak besar.
Harus belajar karena zaman sudah berubah, zaman dulu lebih aman: tv belum banyak, online social media belum ada, internet blm ada. Orangtua dulu tidak punya kompetitor sebagai pendidik, kredibilitas orang tua dan guru di mata anak tidak ada saingannya, tidak ada pembanding, sehingga anak mudah setuju dengan pendapat orangtuanya dan jika anak tidak setuju pun tidak berani mengungkapkan ketidaksetujuannya. Anak sekarang lebih kritis dan berani mengungkapkan pendapatnya. Lingkungan dapat mengambil anak jika pengaruhnya lebih besar.
Acara tv zaman ini dapat merusak pikiran dan jiwa, bahkan acara berita juga tidak lepas memberikan pengaruh buruk dan dapat membuat hati resah, pesimis, dst bahkan bagi orang dewasa, apalagi untuk anak-anak. Contoh: berita-berita tentang kejadian buruk yang terjadi pada orang lain. Tapi jika masih ada yang baik dari acara tv bisa diambil yang baiknya saja.
Teladan dalam Islam salah satu unsur wajib, tapi bukan satu2nya. Contohnya: anak ustadz yang terjerat narkoba, orang tua pekerja kasar yang hidup prihatin anaknya hidup banyak gaya, anak nabi Nuh yang durhaka. Teladan saja tidak cukup. Jika tidak memiliki ilmu parenting maka kemungkinan untuk tidak menikmati dan tidak bahagia menjadi orang tua menjadi lebih besar. Contoh: ketika baru punya gadget baru yang belum terbiasa maka menjadi stress dalam mengoperasikannya, tidak punya skill yang dibutuhkan untuk mengoperasikannya. Permasalahannya bukan pada emosi, tetapi karena tidak punya skill dan tidak bisa mempengaruhi anak. Anak yang melakukan kesalahan kemudian orangtuanya terlalu banyak ngomel, dari pembicaraannya melakukan labeling jelek kepada anak, hasilnya anak jadi resisten dan benci kepada orangtuanya, malah senang melakukan apa yang dilarang. Anak usia tk dan sd permasalahan orangtuanya lebih banyak lelah fisik saja, ketika usia remaja permasalahannya sudah menguras emosi.
Point penting: mencari ilmu parenting.
Cara menyuruh anak adalah sedikit bicara banyak bertindak, diberikan pengertian atas konsekuensi di awal, setelah sudah kejadian tidak ada omongan (omelan) lagi.
Point penting: konsekuensi dijelaskan diawal.
Buku kuning karangan Ihsan itu berisi sop yang dibuat selama 3 tahun dan berasal dari hasil observasi.
Banyak ayah yang tidak mau diajak belajar ilmu parenting karena menganggap dirinya sudah mengerjakan kewajiban mencari nafkah dan urusan anak adalah urusan ibunya. Yang seperti ini dikiaskan dengan kewajiban dalam rukun islam, jadi jika sudah membayar zakat maka tidak wajib lagi puasa, sholat, dll.
Ayah sering dianggap lebih sabar dari ibu terhadap anak karena intensitas interaksinya lebih sedikit dari ibu, terutama full-time mother. Contoh: coba ayah mengurus anak 7 hari 7 malam tanpa bantuan ibu samasekali dan tanpa bantuan asisten rumah tangga. Jadi diharapkan pengertian ayah untuk memberikan asisten dan jika tidak mampu maka ayah yang menjadi asisten ibu. Contoh ayah yang tidak pengertian: ibunya ke majlis ta’lim membawa 3 orang anaknya yang masih balita, ayahnya pergi mancing.
“Setiap anak ada dalam keadaan fitrah”, Fitrah yang dimaksud adalah menyukai kebaikan jadi tidak kosong (netral) seperti teori tabula rasa. Oleh karena itu istilah yang digunakan adalah tumbuh kembang anak, yaitu menumbuhkan dan mengembangkan kebaikan, bukan menciptakan kebaikan. Rujukan ayat lainnya adalah ketika dalam alam Rahim ada perjanjian calon manusia dengan Allah (QS Al-A’raf). Awalnya anak adalah anugrah, maka berikutnya adalah peran nurture (pengasuhan) dari orangtuanya “fa abawahu”.
Orang tua menginginkan anak untuk menjadi: soleh, lebih spesifiknya lagi adalah: jujur, kreatif, patuh, disiplin.
1. Jujur
Anak pada dasarnya sangat jujur, dan pernah karena kejujurannya yang polos hingga perkataannya membuat malu orangtua dihadapan orang lain.
2. Kreatif
Contoh anak balita bangun tidur tidak ada yang nganggur, diam saja selama jangka waktu yang lama karena bingung ingin melakukan apa. Catatan: jika anak mulai bingung ingin melakukan apa, tidak tau apa yang diinginkannya dan banyak bosan, dapat menjadi tanda-tanda lampu kuning bahwa pengasuhannya ada yang salah. Manfaat gadget lebih sedikit daripada bermain bebas, kreativitasnya bisa mati dan tidak bisa lagi bermain bebas. Catatan: perlu lebih banyak “main diluar” untuk menumbuhkembangkan kreatifitas anak.
3. Patuh
Anak yang diurus dengan cara yang baik akan menjadi anak yang patuh, jika anak tidak patuh berarti tidak diurus, atau cara mengurusnya salah. Contoh: anak yang sudah dinasihati orang tua tetapi masih melakukan kenakalan karena bosan dengan nasihat orangtuanya. Oleh karena itu nasihat saja tidak cukup tetapi harus dibentuk fikrohnya, yaitu akal dan pikiran.
4. Disiplin
Bayi paling disiplin, melakukan sesuatu pada waktunya. Maka jika ada anak yang tidak disiplin itu adalah kesalahan pengasuhan. Catatan: anak malas bangun pagi karena orangtuanya malas bangun pagi.
Point penting yang harus dilakukan: mengajak anak berbicara dari hati ke hati, melakukan komunikasi dua arah secara berkala, diajak bicara yaitu bertukar pikiran, bukan hanya dinasihati dengan komunikasi satu arah.
Goal yang diinginkan adalah anak menjadi nyaman (betah) untuk duduk bersama dengan orangtuanya. Anak yang tidak betah duduk bersama orangtuanya bisa jadi dikarenakan: terus menerus dinasihati, dibanding-bandingkan, diceramahi, dst. Memberikan nasihat kepada anak adalah wajib bagi orang tua, tetapi jika caranya salah malah akan menghancurkan. Hal ini juga bisa diterapkan dalam komunikasi antar suami istri, tidak ada yang suka mendengarkan “ceramah”. Jika cara menyampaikan nasihatnya salah walaupun isi nasihatnya benar, maka orang tidak bisa menerima dengan baik.
Solusi cara menyampaikan nasihat dengan baik adalah dengan cara “perlakuan dan perkataan penuh cinta dari orangtua warisan terindah untuk anak kita”.
Terlalu banyak nasihat tidak dapat ditampung, tumpah, menjadi sia-sia. Semakin besar anak semakin banyak seharusnya diajak berbicara dua arah, bukan melakukan komunikasi satu arah (nasihat) saja. Anak yang sering diajak berbicara punya daya tahan mental yang lebih baik terhadap pengaruh-pengaruh buruk. Anak yang sering curhat kepada orangtuanya berarti ia memiliki kepercayaan kepada orangtuanya dan orangtua akan menjadi referensi utama. Anak yang introvert atau extrovert diluar rumah, keduanya harus tidak bisa diam dirumah, sering ngomong.
Point penting yang tidak boleh dilakukan: omelan panjang.
Tentang batasan: batasan perlu dilakukan, tetapi tidak boleh mengekang, semua boleh dilakukan tetapi ada batasannya. Contoh: boleh melakukan suatu hal jika sudah selesai melakukan hal lain, atau jika sudah sampai pada waktu tertentu. Orang yang bahagia adalah yang banyak ngomong, jika tidak bisa ngomong menjadi stress.
Tentang pengaruh gadget (internet, smartphone) tidak boleh diberikan secara bebas pada anak-anak yang belum dewasa karena itu adalah jendela dunia, jika diberikan secara bebas tanpa pengawasan maka berarti melepaskan anak tanpa pengawasan ke dunia, seperti: naik pesawat sendiri, naik mobil sendiri, dst. Sama logikanya dengan SIM hanya diberikan pada umur tertentu yang dianggap sudah dewasa, karena tanggung jawab membawa kendaraan hanya mampu ditanggung oleh orang yang sudah dewasa. Anak jangan terlalu banyak diberikan kemudahan, dan tidak perlu juga diberikan kesusahan, karena jika anak tidak dikekang maka akan menemukan kesusahan sendiri.
Point penting yang harus dilakukan: tidak memberikan terlalu banyak kemudahan dan tidak mengekang. Berikan anak ruang untuk melakukan kreatifitas, jangan terlalu peduli dengan rumah yang berantakan, atau dan anak yang kotor. Biarkan melakukan hal-hal yang diinginkan tapi tetap diawasi agar tidak celaka, yang dilarang bukan menggunakan pisau tapi yang dilarang adalah berdarah.
Point penting yang tidak boleh dilakukan: membohongi anak, tidak boleh memberikan keinginan anak yang diminta dengan tangisan dan ancaman dari anak. Orang tua harus tega dan tegas, tetapi tidak boleh kasar.
Anak yang bermasalah adalah karena orangtua kurang perhatian, perhatian yang dimaksud dapat dilakukan dengan komunikasi dua arah seperti yang dijelaskan sebelumnya, bukan dengan memberikan barang-barang materi yang diinginkan oleh anak. Pengaruh-pengaruh lain seperti teman dan pergaulan tidak akan dapat merusak anak jika orangtuanya sudah mendidik dengan baik.
Tidak bisa menyalahkan internet, tv, lingkungan, makhluk halus atas masalah yang terjadi pada anak.
Jika dalam komunikasi dua arah dengan anak menghadapi pendapatnya yang tidak kita setujui, tidak boleh langsung disalahkan.
Poin penting yang harus dilakukan: sediakan waktu untuk anak. Tidak ada metode apapun yang dapat berhasil jika tidak diberikan waktu. Hitung jumlah waktu yang fokus diberikan untuk anak, perhatian penuh pada anak. Dapat dilakukan dengan melakukan aktivitas-aktivitas bersama tetapi dengan fokus pada anak. Bedakan mengawasi dengan memperhatikan. Contoh mengawasi yaitu menyuapi anak, membiarkan anak main tanpa diperhatikan. Sampai usia sd seharusnya anak ditemani, bukan disuruh. Anak harus diberikan waktu yang mencukupi untuk diperhatikan. Menyediakan waktu untuk anak, bukan bersama anak, dan menjadi orangtua yang berkualitas dengan mementingkan praktek bukan sekedar teori.
Memberikan barang-barang materi pada anak perlu dibatasi, tetapi memberikan waktu adalah kewajiban. Lebih baik mendidik anak untuk menjadi mandiri, contohnya: biarkan anak belajar bekerja untuk mendapatkan keinginannya.
Program abah Ihsan: 1821: keluarga kumpul, connect to family. Waktunya tidak terikat dan dapat disesuaikan dengan kondisi, yang penting cukup 3 jam dalam sehari.
Pengaruh orangtua pada anak hingga umur 12 tahun sebesar 100%, 12-15 tahun sebesar 60%, 15-18 tahun sebesar 40%, dan 10% pada umur 18 tahun keatas.

Catatan tambahan: seminar isinya lebih banyak membangkitkan emosi dan menjelaskan kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan orang tua, solusi belum banyak dipaparkan, dan dirujuk untuk mencari solusi lebih lanjut dari buku2 karangan Abah Ihsan. Porsi besar dari seminar digunakan untuk menjelaskan kondisi kesalahan-kesalahan parenting dengan cara dan gaya yang lucu dan mudah dipahami masyarakat umum.
Catatan tambahan kedua: pembicara yang sukses bukan yang menguasai segala hal tetapi menguasai beberapa hal dan mampu melakukan delivery yang baik di depan publik sehingga beberapa hal yang dikuasainya itu dapat ditransfer seluruhnya kepada peserta.




Saturday, October 31, 2015

PASCA: Penelitian Terdahulu: Accounting Literacy and Poverty Eradication

Accounting Literacy and Poverty Eradication; Preliminary Case studies in Egypt and Indonesia Authors: Murniati Mukhlisin1 & Luqyan Tamanni2 Paper presented at Thematic Workshop on Financial Literacy, Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, 25-26 February 2015/5-6 Jamadil Awal 1436H Abstract This study seeks to design a system of accounting records that families and clients of microfinance can utilize to help them make sound economic decisions and in communicating with other agencies. Using ethnography approach through secondary sources, this research aims at analysing poverty eradication models that have been implemented in both countries to understand how to develop accounting literacy that can be applied by clients and families in order to address rural poverty. By having a system of accounting records product that can be easily understood by the families and clients will help them to better manage their finances and consequently improve their life. This aspect has not been addressed in previous studies. Accounting language and records education helps individuals in controlling and directing their activities during the available fund for elevation to target the most urgent areas needed for intervention. It helps improving their business skills and would install confidence and build the self-esteem necessary to secure permanent improvement. Hence the aim is to design detail accounting and management records and budgets contents focus for supervising and instructing individuals on the best course of action. Key words: Poverty, Accounting Literacy, Egypt, Indonesia

PASCA: Penelitian Terdahulu: Consumerism in World History

Peter N. Stearns (2001). Consumerism in World History: The Global Transformation of Desire . Menjelaskan sejarah definisi konsumerisme: (1) consumerist movement dan (2) gaya hidup materialisme. Membahas konsumerisme sebagai suatu fenomena internasional dan sebagai suatu fenomena sejarah, dengan menjelaskan tentang : (1) kehidupan masyarakat sebelum konsumerisme dan bagaimana perubahan terjadi, (2) asal-usul konsumerisme modern di masyarakat barat, (3) sejauh mana konsumerisme mempengaruhi dan melemahkan kebudayaan tradisional lokal, (4) konsumerisme di Rusia, Asia Timur, Afrika dan dunia Islam di Timur Tengah, (5) isu-isu kontemporer dan evaluasi konsumerisme. “This ground-breaking study is the first of its kind to deal with consumerism both as an international and historical phenomenon.” the book presents: • human societies before consumerism and how they have changed • the origins of modern consumerism in Western society • the extent to which consumerism undercuts traditional regional cultures • consumerism in Russia, East Asia, Africa and the Islamic Middle East • contemporary issues and evaluations of consumerism. CONCLUSIONS The combination of three components – manipulation, fulfillment of social and personal needs, and habituation – serves as consumerism’s incubator and ongoing support. Shopping may offer some intrinsic pleasures, but there are reasons for its growing role in human life. Three question marks, particularly, apply to consumerism’s prospects during the early twenty-first century. Religious fervor can of course coexist with consumerism, but there are inevitable tensions. Will religion provide an alternative to consumer interests, and if so where, and to what extent? The second issue involves the new surge of protest against multinational corporations and global trade policies. Where will this lead? The third issue, related to both the others, involves the growing economic gap that has opened, worldwide, between the relatively affluent and the increasingly poor. The gap has widened steadily during the past two decades. Where will the growing inequality trend lead? Will it generate new forms of protest, or will it simply to continue to create a divide, within societies as well as internationally, between those who can and those who cannot significantly participate in modern history’s new toys? First, is consumerism making the world too homogeneous, at undue cost to regional identities and expressions? Second, will the spread of consumerism usher in other historical changes, and of what magnitude? And third, wherever it has hit or will alight, is consumerism a good thing, in terms of human values? We have seen that consumerism can affect more than buying habits and personal and family life.