Saturday, November 19, 2016

Sharing Session with Pasca Tazkia (Pak MSA)

Meeting the Challenges in Human Capital Development for Islamic Finance Industry: A Tazkia Experience
By. Dr. M. Syafii Antonio M.Ec. (Sharia Council of IDB)
14 May 2016

Islamic Economics is different from Islamic Finance
Islamic economics is a more complete set: entrepreneurs, executives, accountants, scholars (academicians), comdev, bankers, etc. While Islamic Finance focused more on Islamic finance industry: bank, insurance, etc.
1. Believe before action: become ibadah, for non muslims also has to believe Islamic economics is a better solution.
Strategic value of Tazkia: as a legacy for the next generation of Tazkia, so people can change but hopefully the value will continue
2. Knowledge integration: sharia + finance: they should know sharia and also finance in a person: hard to find person who is articulate in finance but speak Arabic. Learns sharia deeply but also have experience working in finance in industry and speaks Arabic. This is the challenge in Indonesia and also many countries.
3. Balancing the skill and competence: Practitioners should teach more in class, bring experience in finance and blend it with sharia knowledge.
Conventional + Insertion (ayatisasi dan haditisasi) + Modification + Islamic
Insertion: finding if the conventional practices is relevant with Islamic values
4. Hard and soft competencies: we only focus on hard competencies so far, thus make so many cases of frauds in Islamic finance industry especially banks. We were focusing on behavior like product knowledge, customer service, competency development, etc; but we are forgetting on attitude: values, standards, judgments, motives, ethics, beliefs. Cases of investments on-balance-sheet or off-balance-sheet. Pro LM (Prophetic Leadership Management) program is one way to overcome this problem. Soft competencies: integrity (believe tauhid, honesty, halal oriented); trustworthy (amanah and reliability means wealth is also amanah, emotional and physical fitness make healthy life to , accountability); competency for professionalism and quality (knowledge+itqan for quality driven+time management: best quality walaupun lama, sehingga menjadi one of the best: success will commit to those who commit to quality); communicative for visionary leadership
5. Developing sense of social and economic responsibility: one of the problem is lack of social and economic responsibility. Bank ke desa dan masyarakat, perlu karena masyarakat miskin uang juga miskin iman sehingga menjadi target mudah jika didekati oleh misionaris.
6. Learning and education model: matriculation for English, Arabic, math, plus ibadah. Mental blocks for being entrepreneurs and get out of one’s comfort zone of corporate employees.

Sharing Session with Pasca Tazkia (Pak Wiku)

Persiapan kuliah S3: Islamic Finance
Sebelum masuk S3 disyaratkan sudah punya judul dan topik karena dari situ akan ditentukan pembimbingnya.
“Because Victory loves Preparation”: paling ideal 1 tahun, paling cepat 6 bulan: perlu dipikirkan keluarga.
Biasanya S3 minimal 3 tahun
1. Niat
Pengalaman: dari mulai niat sampai dapat 5-6 tahun.
2. Topik riset
Paling mudah: meneruskan dari S2, apalagi jika S2 fresh, maka tinggal mempertajam topik bab 2. Tetapi tidak perlu ideal karena disana akan dibongkar lagi.
Tujuan topik ini menentukan professor yang akan kita tuju, karena professor biasanya mau yg spesifik sesuai keahliannya dan tidak mau topik lain.
3. Tujuan universitas: apply sesuai dengan professor ada dimana, atau ada juga yang menentukan dari tujuan universitas dan baru mencari profesornya. Finance biasanya masuk di business school.
4. Dokumen dan berkas: transkrip ijazah S1, S2, tes Bahasa inggris, CV, surat rekomendasi (Bahasa inggris) ke siapa perlu dipertimbangkan karena akan mempengaruhi penilaian. Untuk mengajukan beasiswa harus mencari universitas dan professor dulu. Dokumen: ijazah, sertifikat Bahasa inggris, letter of recommendation, motivation letter, proposal, cv.
a. Aplikasi universitas: pengalaman mengirim ke 20 profesor yang dibalas 10-15. Persiapan aplikasi: Menyusun proposal riset: harus Bahasa inggris yang baik dan benar, di proofread dlu jangan sampai ada salah spelling. Judul, nama, abstraksi, kata kunci: 2500-3000 kata (3-4 halaman) dan simple format (1-2 halaman), sudah ada perkiraan data dan metodologi, significancy of research: apa yang unik dan baru dari penelitian ini?, ada beberapa yang mensyaratkan adanya research plan: activitiy plan for 3-4 years dalam excel dan dimasukkan dalam research proposal, contoh: perkuliahan, survey, penulisan, conference tiap tahun, referensi antara 15-20 atau ada yg 10-13: rekomendasinya adalah memasukkan paper dari calon supervisor karena menunjukkan ketertarikan dengan penelitian profesor.
b. Mencari professor / calon supervisor. Tips mencari professor Islamic finance: (1) google nama univ plus kata kunci (Islamic finance, banking, accounting, dst), (2) search di web univ tujuan dan masukkan keyword, (3) www.ssrn.com untuk download paper, ada yang bisa didonlot beberapa dan ada nama plus alamat email penulis. Profesor: profil dan research interest, paper yang pernah ditulis, profil mahasiswa bimbingan. Email: perkenalan, ttg paper professor, ttg proposal paper kita (+ CV), apakah ingin menjadi pembimbing. Jika sudah mengirim email pertama, blm direspond smpai 2 minggu bisa mengirim lagi untuk menanyakan apakah ada respon.
c. Mengumpulkan informasi mengenai syarat pendaftaran di univ tujuan: S3 disana disebut HDR (higher degree research / postgraduate research). IPK minimal 3, aman diatas 3.5. Ada univ yang mensyaratkan cari professor dulu, dan ada yang dicarikan oleh univ, jadi harus cari informasi dulu. Di pendaftaran univ bisa menyebutkan funding “sedang mencari beasiswa” dan jika blm dpt beasiswa tetapi sudah diterima oleh univ bisa di”defer”shg statusnya sudah diterima sbg mahasiswa tetapi sedang menunggu funding. Shg mencari univ yang menerima menjadi mahasiswa menjadi prioritas. Biasanya masuk tahun September, oktober.
d. Mengumpulkan berkas / document: paspor, dst dalam bentuk softcopy
e. Tes Bahasa: IELTS di inggris, australi, negara2 persemakmuran / TOEFL di amerika
5. Biaya kuliah / beasiswa: maksimal LPDP 40 tahun, dikti dan kemenag 45 tahun.
6. Apply
- Surat rekomendasi boleh diketik sendiri dan hanya meminta tanda tangan dari, contoh: dosen pembimbing tesis, rektor kampus S2 kita. Dengan kata2 yang menjelaskan karakter2 positif calon mahasiswa.
- IELTS: persiapan paling cepat 3 bulan belajar intensif. Toefl sedikit lebih mudah dari IELTS. Perbandingan nilai Toefl 600 = ielts 7, 550 = 6.5, 500 = 6. Toefl direkam, essay diketik. IELTS essay tulis tangan, speaking langsung dengan penguji.
- Urutan langkah: ambil sertifikat IELTS/TOEFL, mencari univ yang menerima, mencari beasiswa.
- S2 bisa mencari beasiswa LPDP dulu baru mencari LOA (letter of acceptance dari univ yang dituju), kalau S3 harus LOA dulu.
- Untuk kesehatan ke luar negri: surat keterangan bebas TB (imunisasi?). Surat2 keterangan dari RS.
- Jika niat S3, banyak2 bikin paper jurnal atau conference, submit jangan dekat2 deadline.
- LPDP tidak ada kuota, tapi yang memenuhi syarat diterima.
- Wawancara psikolog: pertanyaan datar dan bolak balik dengan tujuan mengetahui konsistensi (internal drive).
- Peranan untuk Indonesia yang simple2 dan tidak terlalu muluk2, seperti kegiatan sosial, dst.
- Buka pendaftaran januari, paling sepi: oktober intake, paling padat.
- Tunjangan biaya hidup LPDP: maksimal 2 orang anggota keluarga.
- Kampus yang tidak ada di list LPDP masih bisa masuk jika professor ybs merupakan ahli di bidang tsb.

Pasca Tazkia, Dosen: Wiku Suryomurti, MSi
6 Agustus 2016

Personal Finance: An Interdisciplinary Profession (Summary)

Jane Schuchardt, Dorothy C. Bagwell, William C. Bailey, Sharon A. DeVaney,
John E. Grable, Irene E. Leech, Jean M. Lown, Deanna L. Sharpe, and Jing J. Xiao

Financial Counseling and Planning Volume 18, Issue 1 2007

A. Introduction
AFCPE 2006 annual conference

B. The emergence of personal finance
Personal finance can be traced back about 200 years as family and consumer sciences specialty with little attention from mainstream economists and business faculty.
This is a unique moment in history to establish an independent area of scholarship that welcomes the contributions of economists, psychologists, sociologists, and others.
Questions for scholars interested in the study of personal finance:
1. Is personal finance a sub-discipline within consumer and family economics, or is the study of personal finance based on multiple disciplines and is itself a profession?
2. How can this work be communicated effectively to economics and finance scholars interested in personal finance topics?
3. Is personal finance, as an academic area of study, part of the broader finance discipline, a focus within family and consumer sciences, or a stand-alone academic profession?
4. How can a clearly defined body of knowledge be established?
5. How can university administrators and faculty be encouraged to support, through tenure and promotion, scholars who publish in personal finance journals?
6. How can theories and conceptual frameworks specific to personal finance be specified for use in grounding research?
7. How can theoretical approaches used in finance, behavioral finance, psychology, and other disciplines inform personal finance research?

C. Defining collective scholarship
Eight collective beliefs provide the foundation for this interdisciplinary profession:
1. Academics, research, and practical experience work together to inform professional financial counselors and educators.
2. The profession empowers people to meet their financial goals, resolve their financial problems, and improve their quality of life.
3. Relationships and personal interactions form the foundation for maximization of individual and community wealth.
4. Strong, healthy relationships and human and social capital make wealth more than just money.
5. Counseling and education are the tools for constructive change that can equip people to make wise decisions and achieve financial security.
6. With quality information, people are capable of making decisions in their best interest.
7. Education, though highly valued, cannot solve all problems.
8. Well-informed public policies can encourage household wealth.
Table 1. Professional issues reviewed for financial educators, financial counselors, and financial planners.

D. Theoretical frameworks
Profession of personal finance is based on theories from several disciplines: family studies, economics, psychology, sociology.
1. Human ecological model
2. Family management systems
3. Discounted utility model
4. Life cycle hypothesis of savings
5. Behavioral life cycle hypothesis
6. Theory of reasoned action and theory of planned behavior
7. Trans-theoretical model of change
8. Household finance

E. Naming the interdisciplinary profession
Several potential names were discussed. Ultimately, attention focused on two: Household Behavioral Finance and Personal Finance.
In summary, the authors of this commentary found reason to put forth Personal Finance as the recommended name for the interdisciplinary profession. Academics and the public are already familiar with and actively use the term. In general, the term conveys its primary focus—financial concerns on a personal level. As currently used, the term connotes both practice and scientific inquiry.

F. Call to action
First, personal finance needs to be defined through more organized activities outside usual forums.
Second, it should be emphasized that the mission of this profession is different from the study of personal finance in business and economics schools and departments to promote financial well-being of consumers and families through education, counseling, service, and research.
Third, the efforts to meet the needs of people working in this interdisciplinary profession should be increased.
Fourth, researchers and practitioners, which include both service providers and educators, need to connect in productive ways.
Fifth, personal finance researchers must connect to researchers outside the personal finance profession.
Finally, this work needs to be timely and appropriately provided to decision makers as related policies are framed and implemented.
AFCPE® must continue to take a key leadership role in organizing and mobilizing its membership to prioritize and take action on these strategies.

Sunday, November 6, 2016

Makin makmur, makin pintar, makin religius

Empat Sosok Muslim Indonesia dan Personifikasi Merek


Matriks
Vertikal from low functional / emotional value to high: duniawi, product benefit
Horizontal from low spiritual value to high: akhirati, compliance to

Islamic values

1. Apathist: low duniawi, low akhirati
2. Rationalist: high duniawi, low akhirati
3. Conformist: low duniawi, high akhirati
4. Universalist: high duniawi, high akhirati

1. Apathist
low duniawi, low akhirati
"Emang gue pikirin"
Sosok ini adalah tipe konsumen yang memiliki pengetahuan, wawasan, dan sering kali tingkat kesejahteraan ekonomi yang masih rendah. Di samping itu, konsumen ini memiliki kepatuhan dalam menjalankan nilai-nilai Islam yang juga rendah. Konsumen ini apatis dan cenderung mengatakan "emang gue pikirin". Hal ini bisa dimengerti, karena mereka ini pada umumnya masih bergumul dengan basic needs. Wawasan yang terbatas, dan sumber ekonomi yang tidak terlalu berlebih terkadang membuat mereka merasa bahwa pilihan produk yang bisa mereka dapatkan sangat terbatas. Terkadang mereka berkata "Jangankan mencari yang halal, mencari yang haram saja sulit."

2. Rationalist
high duniawi, low akhirati
"Gue dapat apa?"
Sosok ini adalah tipe konsumen yang memiliki pengetahuan, open-minded, dan wawasan global, tetapi memiliki tingkat kepatuhan pada nilai-nilai Islam yang lebih rendah. Mereka sangat kritis dan pragmatis dalam melakukan pemlihan produk berdasarkan parameter kemanfaatannya. Manfaat yang mereka cari mencakup manfaat fungsional maupun emosional. Di sisi lain, terkadang mereka memandang bahwa ritual agama sebagai hal yang "kuno" dan ketinggalan zaman. Terdapat kecenderungan segmen ini ingin dianggap pintar atau cerdas sehingga promosi yang bersifat menggurui terutama jika berisi dengan dalil-dalil agama cenderung tidak membuat mereka tertarik.

3. Conformist
low duniawi, high akhirati
"Pokoknya harus Islam"
Sosok ini adalah tipe konsumen muslim yang umumnya sangat taat beribadah dan menerapkan nilai-nilai Islam secara normatif. Karena keterbatasan wawasan dan sikap yang konservatif/tradisional, sosok konsumen ini cenderung kurang membuka diri (less open-minded, less inclusive) terhadap nilai-nilai di luar Islam khususnya nilai-nilai Barat. Sosok conformist yang ekstrim terbentuk oleh doktrin yang kuat mengenai ancaman bahaya budaya di luar budaya Islam terhadap akhlak dan juga keimanan. Bagi mereka hidup di akhirat yang merupakan hidup yang panjang pantas diperjuangkan sehingga terkadang mereka ikhlas jika harus menderita di dunia karena itu hanya sementara saja. Bagi mereka, penilaian manusia atau orang lain tidak penting. Sebagai orang tua, mereka pada umumnya bersifat otoriter dan berbicara satu arah dengan asumsi orangtua lebih paham dari anak-anak.

4. Universalist
high duniawi, high akhirati
"Sosok konsumen muslim ini di satu sisi memiliki pengetahuan / wawasan luas, pola pikir global, dan melek teknologi; namun di sisi lain secara teguh menjalankan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mereka memahami dan menerapkan nilai-nilai Islam secara substantif, bukan normatif. Mereka lebih mau menerima perbedaan dan cenderung menjunjung tinggi nilai-nilai yang bersifat universal. Mereka biasanya tidak malu untuk berbeda, tetapi di sisi lain mereka cenderung menerima perbedaan orang lain. Singkatnya mereka adalah sosok yang toleran, open-minded, dan inklusif terhadap nilai-nilai di luar Islam. Konsumen ini sangat religius namun juga sangat rasional, dan mampu memberikan penilaian apakah sebuah produk Islami atau tidak. Sosok ini dilihat sebagai sosok yang seimbang dalam menggapai sukses duniawi dan sukses di akhirat. Umumnya segmen ini menganggap bahwa urusan duniawi juga merupakan sarana untuk mencapai kesuksesan di akhirat, kesuksesan dunia dan akhirat bukan dua kata yang terpisah dengan kata "atau", melainkan terhubung dengan kata "dan".

Sumber:
Yuswohadi, Dewi Madyani, Iryan Ali Herdiansyah, Ikhwan Alim (2014) Marketing to the Middle Class Muslim: Kenali Perubahannya, Pahami Perilakunya, Petakan Strateginya. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Saturday, July 2, 2016

PASCA: Jangan Terkecoh oleh Harta dan Jangan Lalai Terhadap Perintah Allah SWT

Saat harta dijadikan landasan dan simbol kesuksesan, maka yang terjadi adalah upaya menghalalkan segala cara untuk memperoleh dan menumpuk harta. Pada saat yang sama, penggunaan harta cenderung berorientasi untuk bisa memenuhi segala nafsu dan ambisi.
Egoisme manusia dalam menyikapi, mendapatkan, dan membelanjakan harta kekayaan sering kali melampaui batasan etika, moral, bahkan kewajaran. Mereka bisa sangat tamak, curang, dan tidak memiliki sensitivitas terhadap orang-orang miskin. Harta kekayaan yang mereka peroleh hanyalah demi memenuhi dua hal yang sesungguhnya tidak akan pernah terpuaskan.
Pertama, demi kesenangan dan / atau kemewahan.
Kedua, demi mempertahankan dan / atau menambah harta kekayaan agar gaya hidup bersenang-senang dan bermewah-mewah bisa terus berlangsung. Jika memungkinkan, menguasai sarana atau milik orang lain demi meningkatkan gengsi atau derajat sosial. Akibat yang terjadi adalah orang-orang kaya hanya mementingkan kepentingan sendiri. Si kaya menganggap pembiaran terhadap orang-orang yang berada dalam kelaparan dan kemiskinan merupakan tindakan yang benar.
Gaya hidup bersenang-senang atau bermewah-mewah merupakan kehidupan yang berlebihan - melebihi dari apa yang sesungguhnya mereka butuhkan. Memiliki banyak mobil (mewah) tetapi tidak sesuai dengan kebutuhan; mempunyai banyak perhiasan emas dan / atau berlian, namun sekadar untuk menumpuk kekayaan atau memamerkannya; menghiasi ruangan rumah dengan barang pecah-belah bermutu tinggi; membeli hewan peliharaan dengan harga yang sangat mahal; dan seterusnya. Tidak lupa, mereka pun menghiasi dinding-dinding rumah dengan lukisan yang fantastis harganya, hingga jutaan rupiah. Sedangkan lantai rumah diperindah dengan permadani yang harganya selangit.
Begitulah! Mereka benar-benar memenuhi "kebutuhan" tertentu yang mereka ciptakan sendiri. Demikian pula dengan "kebutuhan" terhadap seks bebas, kehidupan malam, dan gaya hidup bebas lainnya. Demi menikmati sesuatu, bersenang-senang, atau meningkatkan gengsi sosial, mereka menjadikan orang-orang agar dapat melayani gaya hidup mereka dan menopang tujuan-tujuan pribadi mereka.
QS 4: 14
Kalau pun mereka "berbaik hati" meminjamkan uang kepada orang atau pihak tertentu, biasanya mereka selalu menentukan nilai lebih (bunga) dari uang yang dipinjamkan. Bisa juga karena ada pamrih atau motif politis di balik itu. Tidak ada kata "berderma", tidak ada "keikhlasan". Bagi mereka, "pertolongan" harus selalu merujuk pertimbangan "untung-rugi" tanpa peduli bahwa orang-orang yang membutuhkan pertolongan adalah kaum miskin yang kelaparan.

Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec. dan Tim TAZKIA. 2010. Ensiklopedia Leadership & Manajemen Muhammad SAW “The Super Leader Super Manager” Bisnis dan Kewirausahaan. Tazkia Publishing, Jakarta. Hlm 27-28.