Saturday, November 19, 2016

Sharing Session with Pasca Tazkia (Pak MSA)

Meeting the Challenges in Human Capital Development for Islamic Finance Industry: A Tazkia Experience
By. Dr. M. Syafii Antonio M.Ec. (Sharia Council of IDB)
14 May 2016

Islamic Economics is different from Islamic Finance
Islamic economics is a more complete set: entrepreneurs, executives, accountants, scholars (academicians), comdev, bankers, etc. While Islamic Finance focused more on Islamic finance industry: bank, insurance, etc.
1. Believe before action: become ibadah, for non muslims also has to believe Islamic economics is a better solution.
Strategic value of Tazkia: as a legacy for the next generation of Tazkia, so people can change but hopefully the value will continue
2. Knowledge integration: sharia + finance: they should know sharia and also finance in a person: hard to find person who is articulate in finance but speak Arabic. Learns sharia deeply but also have experience working in finance in industry and speaks Arabic. This is the challenge in Indonesia and also many countries.
3. Balancing the skill and competence: Practitioners should teach more in class, bring experience in finance and blend it with sharia knowledge.
Conventional + Insertion (ayatisasi dan haditisasi) + Modification + Islamic
Insertion: finding if the conventional practices is relevant with Islamic values
4. Hard and soft competencies: we only focus on hard competencies so far, thus make so many cases of frauds in Islamic finance industry especially banks. We were focusing on behavior like product knowledge, customer service, competency development, etc; but we are forgetting on attitude: values, standards, judgments, motives, ethics, beliefs. Cases of investments on-balance-sheet or off-balance-sheet. Pro LM (Prophetic Leadership Management) program is one way to overcome this problem. Soft competencies: integrity (believe tauhid, honesty, halal oriented); trustworthy (amanah and reliability means wealth is also amanah, emotional and physical fitness make healthy life to , accountability); competency for professionalism and quality (knowledge+itqan for quality driven+time management: best quality walaupun lama, sehingga menjadi one of the best: success will commit to those who commit to quality); communicative for visionary leadership
5. Developing sense of social and economic responsibility: one of the problem is lack of social and economic responsibility. Bank ke desa dan masyarakat, perlu karena masyarakat miskin uang juga miskin iman sehingga menjadi target mudah jika didekati oleh misionaris.
6. Learning and education model: matriculation for English, Arabic, math, plus ibadah. Mental blocks for being entrepreneurs and get out of one’s comfort zone of corporate employees.

Sharing Session with Pasca Tazkia (Pak Wiku)

Persiapan kuliah S3: Islamic Finance
Sebelum masuk S3 disyaratkan sudah punya judul dan topik karena dari situ akan ditentukan pembimbingnya.
“Because Victory loves Preparation”: paling ideal 1 tahun, paling cepat 6 bulan: perlu dipikirkan keluarga.
Biasanya S3 minimal 3 tahun
1. Niat
Pengalaman: dari mulai niat sampai dapat 5-6 tahun.
2. Topik riset
Paling mudah: meneruskan dari S2, apalagi jika S2 fresh, maka tinggal mempertajam topik bab 2. Tetapi tidak perlu ideal karena disana akan dibongkar lagi.
Tujuan topik ini menentukan professor yang akan kita tuju, karena professor biasanya mau yg spesifik sesuai keahliannya dan tidak mau topik lain.
3. Tujuan universitas: apply sesuai dengan professor ada dimana, atau ada juga yang menentukan dari tujuan universitas dan baru mencari profesornya. Finance biasanya masuk di business school.
4. Dokumen dan berkas: transkrip ijazah S1, S2, tes Bahasa inggris, CV, surat rekomendasi (Bahasa inggris) ke siapa perlu dipertimbangkan karena akan mempengaruhi penilaian. Untuk mengajukan beasiswa harus mencari universitas dan professor dulu. Dokumen: ijazah, sertifikat Bahasa inggris, letter of recommendation, motivation letter, proposal, cv.
a. Aplikasi universitas: pengalaman mengirim ke 20 profesor yang dibalas 10-15. Persiapan aplikasi: Menyusun proposal riset: harus Bahasa inggris yang baik dan benar, di proofread dlu jangan sampai ada salah spelling. Judul, nama, abstraksi, kata kunci: 2500-3000 kata (3-4 halaman) dan simple format (1-2 halaman), sudah ada perkiraan data dan metodologi, significancy of research: apa yang unik dan baru dari penelitian ini?, ada beberapa yang mensyaratkan adanya research plan: activitiy plan for 3-4 years dalam excel dan dimasukkan dalam research proposal, contoh: perkuliahan, survey, penulisan, conference tiap tahun, referensi antara 15-20 atau ada yg 10-13: rekomendasinya adalah memasukkan paper dari calon supervisor karena menunjukkan ketertarikan dengan penelitian profesor.
b. Mencari professor / calon supervisor. Tips mencari professor Islamic finance: (1) google nama univ plus kata kunci (Islamic finance, banking, accounting, dst), (2) search di web univ tujuan dan masukkan keyword, (3) www.ssrn.com untuk download paper, ada yang bisa didonlot beberapa dan ada nama plus alamat email penulis. Profesor: profil dan research interest, paper yang pernah ditulis, profil mahasiswa bimbingan. Email: perkenalan, ttg paper professor, ttg proposal paper kita (+ CV), apakah ingin menjadi pembimbing. Jika sudah mengirim email pertama, blm direspond smpai 2 minggu bisa mengirim lagi untuk menanyakan apakah ada respon.
c. Mengumpulkan informasi mengenai syarat pendaftaran di univ tujuan: S3 disana disebut HDR (higher degree research / postgraduate research). IPK minimal 3, aman diatas 3.5. Ada univ yang mensyaratkan cari professor dulu, dan ada yang dicarikan oleh univ, jadi harus cari informasi dulu. Di pendaftaran univ bisa menyebutkan funding “sedang mencari beasiswa” dan jika blm dpt beasiswa tetapi sudah diterima oleh univ bisa di”defer”shg statusnya sudah diterima sbg mahasiswa tetapi sedang menunggu funding. Shg mencari univ yang menerima menjadi mahasiswa menjadi prioritas. Biasanya masuk tahun September, oktober.
d. Mengumpulkan berkas / document: paspor, dst dalam bentuk softcopy
e. Tes Bahasa: IELTS di inggris, australi, negara2 persemakmuran / TOEFL di amerika
5. Biaya kuliah / beasiswa: maksimal LPDP 40 tahun, dikti dan kemenag 45 tahun.
6. Apply
- Surat rekomendasi boleh diketik sendiri dan hanya meminta tanda tangan dari, contoh: dosen pembimbing tesis, rektor kampus S2 kita. Dengan kata2 yang menjelaskan karakter2 positif calon mahasiswa.
- IELTS: persiapan paling cepat 3 bulan belajar intensif. Toefl sedikit lebih mudah dari IELTS. Perbandingan nilai Toefl 600 = ielts 7, 550 = 6.5, 500 = 6. Toefl direkam, essay diketik. IELTS essay tulis tangan, speaking langsung dengan penguji.
- Urutan langkah: ambil sertifikat IELTS/TOEFL, mencari univ yang menerima, mencari beasiswa.
- S2 bisa mencari beasiswa LPDP dulu baru mencari LOA (letter of acceptance dari univ yang dituju), kalau S3 harus LOA dulu.
- Untuk kesehatan ke luar negri: surat keterangan bebas TB (imunisasi?). Surat2 keterangan dari RS.
- Jika niat S3, banyak2 bikin paper jurnal atau conference, submit jangan dekat2 deadline.
- LPDP tidak ada kuota, tapi yang memenuhi syarat diterima.
- Wawancara psikolog: pertanyaan datar dan bolak balik dengan tujuan mengetahui konsistensi (internal drive).
- Peranan untuk Indonesia yang simple2 dan tidak terlalu muluk2, seperti kegiatan sosial, dst.
- Buka pendaftaran januari, paling sepi: oktober intake, paling padat.
- Tunjangan biaya hidup LPDP: maksimal 2 orang anggota keluarga.
- Kampus yang tidak ada di list LPDP masih bisa masuk jika professor ybs merupakan ahli di bidang tsb.

Pasca Tazkia, Dosen: Wiku Suryomurti, MSi
6 Agustus 2016

Personal Finance: An Interdisciplinary Profession (Summary)

Jane Schuchardt, Dorothy C. Bagwell, William C. Bailey, Sharon A. DeVaney,
John E. Grable, Irene E. Leech, Jean M. Lown, Deanna L. Sharpe, and Jing J. Xiao

Financial Counseling and Planning Volume 18, Issue 1 2007

A. Introduction
AFCPE 2006 annual conference

B. The emergence of personal finance
Personal finance can be traced back about 200 years as family and consumer sciences specialty with little attention from mainstream economists and business faculty.
This is a unique moment in history to establish an independent area of scholarship that welcomes the contributions of economists, psychologists, sociologists, and others.
Questions for scholars interested in the study of personal finance:
1. Is personal finance a sub-discipline within consumer and family economics, or is the study of personal finance based on multiple disciplines and is itself a profession?
2. How can this work be communicated effectively to economics and finance scholars interested in personal finance topics?
3. Is personal finance, as an academic area of study, part of the broader finance discipline, a focus within family and consumer sciences, or a stand-alone academic profession?
4. How can a clearly defined body of knowledge be established?
5. How can university administrators and faculty be encouraged to support, through tenure and promotion, scholars who publish in personal finance journals?
6. How can theories and conceptual frameworks specific to personal finance be specified for use in grounding research?
7. How can theoretical approaches used in finance, behavioral finance, psychology, and other disciplines inform personal finance research?

C. Defining collective scholarship
Eight collective beliefs provide the foundation for this interdisciplinary profession:
1. Academics, research, and practical experience work together to inform professional financial counselors and educators.
2. The profession empowers people to meet their financial goals, resolve their financial problems, and improve their quality of life.
3. Relationships and personal interactions form the foundation for maximization of individual and community wealth.
4. Strong, healthy relationships and human and social capital make wealth more than just money.
5. Counseling and education are the tools for constructive change that can equip people to make wise decisions and achieve financial security.
6. With quality information, people are capable of making decisions in their best interest.
7. Education, though highly valued, cannot solve all problems.
8. Well-informed public policies can encourage household wealth.
Table 1. Professional issues reviewed for financial educators, financial counselors, and financial planners.

D. Theoretical frameworks
Profession of personal finance is based on theories from several disciplines: family studies, economics, psychology, sociology.
1. Human ecological model
2. Family management systems
3. Discounted utility model
4. Life cycle hypothesis of savings
5. Behavioral life cycle hypothesis
6. Theory of reasoned action and theory of planned behavior
7. Trans-theoretical model of change
8. Household finance

E. Naming the interdisciplinary profession
Several potential names were discussed. Ultimately, attention focused on two: Household Behavioral Finance and Personal Finance.
In summary, the authors of this commentary found reason to put forth Personal Finance as the recommended name for the interdisciplinary profession. Academics and the public are already familiar with and actively use the term. In general, the term conveys its primary focus—financial concerns on a personal level. As currently used, the term connotes both practice and scientific inquiry.

F. Call to action
First, personal finance needs to be defined through more organized activities outside usual forums.
Second, it should be emphasized that the mission of this profession is different from the study of personal finance in business and economics schools and departments to promote financial well-being of consumers and families through education, counseling, service, and research.
Third, the efforts to meet the needs of people working in this interdisciplinary profession should be increased.
Fourth, researchers and practitioners, which include both service providers and educators, need to connect in productive ways.
Fifth, personal finance researchers must connect to researchers outside the personal finance profession.
Finally, this work needs to be timely and appropriately provided to decision makers as related policies are framed and implemented.
AFCPE® must continue to take a key leadership role in organizing and mobilizing its membership to prioritize and take action on these strategies.

Sunday, November 6, 2016

Makin makmur, makin pintar, makin religius

Empat Sosok Muslim Indonesia dan Personifikasi Merek


Matriks
Vertikal from low functional / emotional value to high: duniawi, product benefit
Horizontal from low spiritual value to high: akhirati, compliance to

Islamic values

1. Apathist: low duniawi, low akhirati
2. Rationalist: high duniawi, low akhirati
3. Conformist: low duniawi, high akhirati
4. Universalist: high duniawi, high akhirati

1. Apathist
low duniawi, low akhirati
"Emang gue pikirin"
Sosok ini adalah tipe konsumen yang memiliki pengetahuan, wawasan, dan sering kali tingkat kesejahteraan ekonomi yang masih rendah. Di samping itu, konsumen ini memiliki kepatuhan dalam menjalankan nilai-nilai Islam yang juga rendah. Konsumen ini apatis dan cenderung mengatakan "emang gue pikirin". Hal ini bisa dimengerti, karena mereka ini pada umumnya masih bergumul dengan basic needs. Wawasan yang terbatas, dan sumber ekonomi yang tidak terlalu berlebih terkadang membuat mereka merasa bahwa pilihan produk yang bisa mereka dapatkan sangat terbatas. Terkadang mereka berkata "Jangankan mencari yang halal, mencari yang haram saja sulit."

2. Rationalist
high duniawi, low akhirati
"Gue dapat apa?"
Sosok ini adalah tipe konsumen yang memiliki pengetahuan, open-minded, dan wawasan global, tetapi memiliki tingkat kepatuhan pada nilai-nilai Islam yang lebih rendah. Mereka sangat kritis dan pragmatis dalam melakukan pemlihan produk berdasarkan parameter kemanfaatannya. Manfaat yang mereka cari mencakup manfaat fungsional maupun emosional. Di sisi lain, terkadang mereka memandang bahwa ritual agama sebagai hal yang "kuno" dan ketinggalan zaman. Terdapat kecenderungan segmen ini ingin dianggap pintar atau cerdas sehingga promosi yang bersifat menggurui terutama jika berisi dengan dalil-dalil agama cenderung tidak membuat mereka tertarik.

3. Conformist
low duniawi, high akhirati
"Pokoknya harus Islam"
Sosok ini adalah tipe konsumen muslim yang umumnya sangat taat beribadah dan menerapkan nilai-nilai Islam secara normatif. Karena keterbatasan wawasan dan sikap yang konservatif/tradisional, sosok konsumen ini cenderung kurang membuka diri (less open-minded, less inclusive) terhadap nilai-nilai di luar Islam khususnya nilai-nilai Barat. Sosok conformist yang ekstrim terbentuk oleh doktrin yang kuat mengenai ancaman bahaya budaya di luar budaya Islam terhadap akhlak dan juga keimanan. Bagi mereka hidup di akhirat yang merupakan hidup yang panjang pantas diperjuangkan sehingga terkadang mereka ikhlas jika harus menderita di dunia karena itu hanya sementara saja. Bagi mereka, penilaian manusia atau orang lain tidak penting. Sebagai orang tua, mereka pada umumnya bersifat otoriter dan berbicara satu arah dengan asumsi orangtua lebih paham dari anak-anak.

4. Universalist
high duniawi, high akhirati
"Sosok konsumen muslim ini di satu sisi memiliki pengetahuan / wawasan luas, pola pikir global, dan melek teknologi; namun di sisi lain secara teguh menjalankan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mereka memahami dan menerapkan nilai-nilai Islam secara substantif, bukan normatif. Mereka lebih mau menerima perbedaan dan cenderung menjunjung tinggi nilai-nilai yang bersifat universal. Mereka biasanya tidak malu untuk berbeda, tetapi di sisi lain mereka cenderung menerima perbedaan orang lain. Singkatnya mereka adalah sosok yang toleran, open-minded, dan inklusif terhadap nilai-nilai di luar Islam. Konsumen ini sangat religius namun juga sangat rasional, dan mampu memberikan penilaian apakah sebuah produk Islami atau tidak. Sosok ini dilihat sebagai sosok yang seimbang dalam menggapai sukses duniawi dan sukses di akhirat. Umumnya segmen ini menganggap bahwa urusan duniawi juga merupakan sarana untuk mencapai kesuksesan di akhirat, kesuksesan dunia dan akhirat bukan dua kata yang terpisah dengan kata "atau", melainkan terhubung dengan kata "dan".

Sumber:
Yuswohadi, Dewi Madyani, Iryan Ali Herdiansyah, Ikhwan Alim (2014) Marketing to the Middle Class Muslim: Kenali Perubahannya, Pahami Perilakunya, Petakan Strateginya. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Saturday, July 2, 2016

PASCA: Jangan Terkecoh oleh Harta dan Jangan Lalai Terhadap Perintah Allah SWT

Saat harta dijadikan landasan dan simbol kesuksesan, maka yang terjadi adalah upaya menghalalkan segala cara untuk memperoleh dan menumpuk harta. Pada saat yang sama, penggunaan harta cenderung berorientasi untuk bisa memenuhi segala nafsu dan ambisi.
Egoisme manusia dalam menyikapi, mendapatkan, dan membelanjakan harta kekayaan sering kali melampaui batasan etika, moral, bahkan kewajaran. Mereka bisa sangat tamak, curang, dan tidak memiliki sensitivitas terhadap orang-orang miskin. Harta kekayaan yang mereka peroleh hanyalah demi memenuhi dua hal yang sesungguhnya tidak akan pernah terpuaskan.
Pertama, demi kesenangan dan / atau kemewahan.
Kedua, demi mempertahankan dan / atau menambah harta kekayaan agar gaya hidup bersenang-senang dan bermewah-mewah bisa terus berlangsung. Jika memungkinkan, menguasai sarana atau milik orang lain demi meningkatkan gengsi atau derajat sosial. Akibat yang terjadi adalah orang-orang kaya hanya mementingkan kepentingan sendiri. Si kaya menganggap pembiaran terhadap orang-orang yang berada dalam kelaparan dan kemiskinan merupakan tindakan yang benar.
Gaya hidup bersenang-senang atau bermewah-mewah merupakan kehidupan yang berlebihan - melebihi dari apa yang sesungguhnya mereka butuhkan. Memiliki banyak mobil (mewah) tetapi tidak sesuai dengan kebutuhan; mempunyai banyak perhiasan emas dan / atau berlian, namun sekadar untuk menumpuk kekayaan atau memamerkannya; menghiasi ruangan rumah dengan barang pecah-belah bermutu tinggi; membeli hewan peliharaan dengan harga yang sangat mahal; dan seterusnya. Tidak lupa, mereka pun menghiasi dinding-dinding rumah dengan lukisan yang fantastis harganya, hingga jutaan rupiah. Sedangkan lantai rumah diperindah dengan permadani yang harganya selangit.
Begitulah! Mereka benar-benar memenuhi "kebutuhan" tertentu yang mereka ciptakan sendiri. Demikian pula dengan "kebutuhan" terhadap seks bebas, kehidupan malam, dan gaya hidup bebas lainnya. Demi menikmati sesuatu, bersenang-senang, atau meningkatkan gengsi sosial, mereka menjadikan orang-orang agar dapat melayani gaya hidup mereka dan menopang tujuan-tujuan pribadi mereka.
QS 4: 14
Kalau pun mereka "berbaik hati" meminjamkan uang kepada orang atau pihak tertentu, biasanya mereka selalu menentukan nilai lebih (bunga) dari uang yang dipinjamkan. Bisa juga karena ada pamrih atau motif politis di balik itu. Tidak ada kata "berderma", tidak ada "keikhlasan". Bagi mereka, "pertolongan" harus selalu merujuk pertimbangan "untung-rugi" tanpa peduli bahwa orang-orang yang membutuhkan pertolongan adalah kaum miskin yang kelaparan.

Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec. dan Tim TAZKIA. 2010. Ensiklopedia Leadership & Manajemen Muhammad SAW “The Super Leader Super Manager” Bisnis dan Kewirausahaan. Tazkia Publishing, Jakarta. Hlm 27-28.

PASCA: hadits At-Tirmidzi no 2417 & 2354

2417. Abdullah bin Abdurrahman menyampaikan kepada kami dari al-Aswad bin Amir, dari Abu Bakar bin Ayyasy , dari Al-A’masy, dari Sa’id bin Abdullah bin Juraij, dari Abu Barzah al-Aslami bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kedua telapak kaki seorang hamba belum akan berpindah pada Hari Kiamat sampai ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang ilmunya untuk apa dia amalkan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan ke mana dia infakkan, serta tentang tubuhnya untuk apa dia pergunakan.”
Abu Isa berkata, “Hadits ini hasan shahih. Sa’id bin Abdullah bin Juraij adalah orang Bashrah dan maula dari Abu Basrah al-Aslami, sedangkan nama Abu Barzah al-Aslami adalah Nadhlah bin Ubaid.” (hlm 803)

2354. Abu Kuraib menyampaikan kepada kami dari al-Muharibi, dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang Muslim yang fakir masuk surga setengah hari lebih dahulu sebelum orang-orang kaya, selisihnya lima ratus tahun.”
Abu Isa berkata, “Hadits ini hasan shahih.” (hlm 784)

Source: Abu Isa Muhammad bin Isa at-Tirmidzi. Ensiklopedia Hadits 6; Jami’ at-Tirmidzi. Terjemahan oleh Tim Darussunnah, Misbakhul Khaer, Solihin. Diterbitkan oleh Penerbit Almahira, Jakarta (2013).

PASCA: tafsir QS Yusuf (12): 47-49

“Dia berkata, “Kamu bercocok tanam tujuh tahun sebagaimana biasa, maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya kecuali sedikit dari apa yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras.”

Tafsir al-Mishbah :
Mendengar pertanyaan yang diajukan atas nama Raja dan pemuka-pemuka masyarakat itu, tanpa menunggu – sesuai dengan harapan penanya – langsung saja dia, yakni Nabi Yusuf as berkata seakan-akan berdialog dengan mereka semua. Karena itu, beliau menggunakan bentuk jamak, “Mimpi memerintahkan kamu wahai masyarakat Mesir, melalui Raja, agar kamu terus-menerus bercocok tanam selama tujuh tahun sebagaimana biasa kamu bercocok tanam, yakni dengan memperhatikan keadaan cuaca, jenis tanaman yang ditanam, pengairan dan sebagainya, atau selama tujuh tahun berturut-turut dengan bersungguh-sungguh. Maka apa yang kamu tuai dari hasil panen sepanjang masa itu hendaklah kamu biarkan di bulirnya agar dia tetap segar tidak rusak, karena biasanya gandum Mesir hanya bertahan dua tahun – demikian pakar tafsir Abu Hayyan – kecuali sedikit yaitu yang tidak perlu kamu simpan dan biarkan di bulirnya yaitu yang kamu butuhkan untuk kamu makan. Kemudian sesudah masa tujuh tahun itu, akan datang tujuh tahun yang amat sulit, akibat terjadinya paceklik di seluruh negeri yang menghabiskan apa yang kamu simpan unuk menghadapinya, yakni untuk menghadapi tahun sulit itu yang dilambangkan oleh tujuh bulir gandum yang kering itu kecuali sedikit dari apa, yakni bibit gandum yang kamu simpan. Itulah takwil mimpi Raja.”
Lebih jauh Nabi Yusuf as melanjutkan, “Kemudian setelah paceklik itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan dengan cukup dan pada masa itu mereka akan hidup sejahtera yang ditandai antara lain bahwa ketika itu mereka terus-menerus memeras sekian banyak hal seperti aneka buah yang menghasilkan minuman, memeras susu binatang dan sebagainya.”
Kata yughats, apabila dipahami dari kata ghaits / hujan, maka terjemahannya adalah diberi hujan. Dan jika ia berasal dari kata ghauts yang berarti pertolongan, maka ia berarti perolehan manfaat yang sangat dibutuhkan guna menampik datangnya mudharat. Dari kata ini lahir istilah istighatsah.
Memperhatikan jawaban Nabi Yusuf as ini, agaknya kita dapat berkata bahwa beliau memahami tujuh ekor sapi sebagai tujuh tahun masa pertanian.Boleh jadi karena sapi digunakan untuk membajak, kegemukan sapi adalah lambang kesuburan, sedang sapi kurus adalah masa sulit di bidang pertanian, yakni masa paceklik.Bulir-bulir gandum lambang pangan yang tersedia. Setiap bulir sama dengan setahun. Demikian juga sebaliknya.
Mimpi Raja ini merupakan anugerah Allah SWT kepada masyarakat Mesir ketika itu.Boleh jadi karena Rajanya yang berlaku adil – walau tidak mempercayai keesaan Allah.Keadilan itu menghasilkan kesejahteraan lahiriah buat mereka. Rujuklah ke uraian penulis pada ayat 117 surah Hud, untuk memahami lebih jauh tentang persoalan ini.
Thabathaba’i mengkritik ulama-ulama yang memahami mimpi Raja itu secara sederhana, yakni mereka yang hanya memahaminya sebagai gambaran tentang apa yang akan terjadi pada dua kali tujuh tahun depan. Memang, redaksi penjelasan Nabi Yusuf as bukan redaksi perintah, tetapi redaksi berita. Namun demikian, apa yang dikemukakan Thabathaba’i dapat diterima, karena sekian banyak redaksi berbentuk berita yang bertujuan perintah. Ulama itu menilai bahwa mimpi tersebut adalah isyarat kepada Raja untuk mengambil langkah-langkah guna menyelamatkan masyarakatnya dari krisis pangan. Yaitu hendaklah dia menggemukkan tujuh ekor sapi agar dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus dan menyimpan sebagian besar dari bahan pangan yang telah dituai tetap dalam bulirnya agar tetap segar dan tidak rusak oleh faktor cuaca dan sebagainya. Dengan demikian, menghadapinya, yaitu hendaklah bersungguh-sungguh menanam serta menyimpan sebagian besar hasil panen.
Thabathaba’i, walau memahami ayat 49 di atas sebagai informasi baru tentang apa yang akan terjadi sesudah tujuh tahun sulit, tetapi itu pun dipahaminya dari mimpi tersebut. Dalam arti, jika tujuh tahun sulit itu telah berlalu, maka sesudah itu situasi akan pulih, dan ketika itu tidak perlu lagi mengencangkan ikat pinggang, atau membanting tulang dalam bekerja atau menyimpan hasil panen sebagaimana halnya pada tujuh tahun pertama. Ini karena keadaan telah normal kembali. Itu pula sebabnya, menurut Thabathaba’i dalam mimpi Raja tidak disebut kata tujuh ketika menyatakan bulir-bulir kering, karena masa sesudah tujuh tahun sulit itu akan berjalan normal bukan hanya sepanjang tujuh tahun.

Tafsir Depag & UII:
47. Dengan segala kemurahan hati Yusuf menerangkan ta’bir mimpi raja itu, seolah-olah Yusuf menyampaikan kepada raja dan pembesar-pembesarnya, katanya: “Wahai raja dan pembesar-pembesar negara semuanya, kamu akan menghadapi suatu masa tujuh tahun lamanya penuh dengan segala kemakmuran dan keamanan. Ternak berkembang biak, tumbuh-tumbuhan subur, dan semua orang akan merasa senang dan bahagia. Maka galakkanlah rakyat bertanam dalam masa tujuh tahun itu.Hasil dari tanaman itu harus kamu simpan, gandum disimpan dengan tangkai-tangkainya supaya tahan lama.Sebagian kecil kamu keluarkan untuk dimakan sekedar keperluan saja.
48. Sehabis masa yang makmur itu akan datang masa yang penuh kesengsaraan dan penderitaan selama tujuh tahun pula. Pada waktu itu ternak habis musnah, tanaman-tanaman tidak berbuah, udara panas, musim kemarau panjang.Sumber-sumber air menjadi kering dan rakyat menderita kekurangan makanan. Semua simpanan makanan akan habis, kecuali tinggal sedikit untuk kamu jadikan benih.
49. Kemudian sesudah berlalu masa kesulitan dan kesengsaraan itu, maka datanglah masa hidup makmur, aman dan sentosa. Di masa itu bumi menjadi subur, hujan turun sangat lebatnya, manusia kelihatan beramai-ramai memeras anggur dengan aman dan gembira.Mereka telah duduk bersantai menikmati buah-buahan hasil kebunnya bersama anak-anak dan keluarganya.Itulah ta’bir mimpi raja itu saya sampaikan kepadamu untuk saudara sampaikan kepada raja dan pembesar-pembesarnya.

Sources:
- M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Volume 6. Jakarta: Lentera Hati, 2002. Hlm 471-473
- Al Qur’an dan Tafsirnya: Jilid IV Juz 10-11-12. Naskah asli Milik Departemen Agama Republik Indonesia dengan perbaikan. Cetak Ulang oleh Universitas Islam Indonesia (1995). Penulis: Tim Tashih Departemen Agama & Universitas Islam Indonesia. Pelaksana cetak Ulang: PT Dana Bhakti Wakaf, Yogyakarta, Indonesia. Hlm 648

PASCA: tafsir QS At-Takatsur (102): 8

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu ).

Tafsir Depag & UII: dalam ayat ini Allah SWT, lebih memperkuat lagi celaan-Nya terhadap mereka, bahwa sesungguhnya mereka akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan-kenikmatan yang mereka megah-megahkan di dunia, apa yang kamu perbuat dengan nikmat-nikmat itu. Apakah kamu telah menunaikan hak Allah daripadanya, atau apakah kamu menjaga batas-batas hukum Allah yang telah ditentukan dalam bersenang-senang dengan nikmat tersebut.Jika kamu tidak melakukannya, ketahuilah bahwa nikmat-nikmat itu adalah puncak kecelakaan di hari akhirat.Telah diriwayatkan bahwa Umar ra. Bertanya kepada Nabi Muhammad SAW: “Nikmat apakah yang ditanyakan kepada kami, Ya Rasulullah, padahal kami telah diusir dari kampung halaman kami dan harta kami?”. Nabi SAW menjawab: “Naungan-naungan rumah, pohon-pohon, gubuk-gubuk yang melindungi kamu dari udara panas dan dingin dan air yang sejuk di hari yang panas .” Dan telah diriwayatkan pula dari Nabi Muhammad SAW, beliau berkata: “Barangsiapa yang bangun pagi dalam keadaan aman sentausa dalam keluarganya, sehat walafiat badannya serta mempunyai bekal hidup untuk harinya, maka seolah-olah dunia dengan segala kekayaannya telah diserahkan kepadanya.

Tafsir al-Mishbah :
“Kemudian, pasti kamu akan ditanyai pada hari itu tentang an-na’im.”
Setelah ayat-ayat yang lalu mengecam dan memperingatkan mereka yang bersaing secara tidak sehat memperbanyak kenikmatan duniawi, ayat di atas memperingatkan bahwa kenikmatan apapun bentuknya pasti akan dimintakan pertanggungjawaban. Atau setelah ayat yang lalu menggambarkan ancaman yang menanti mereka karena hanya memperhatikan kenikmatan duniawi, ayat di atas mengingatkan mereka bahwa sikap tersebut akan mereka pertanggungjawabkan dan kelak mereka akan ditanyai tentang sikap mereka menyangkut kenikmatan ukhrawi. Apapun hubungannya, ayat di atas bagaikan menyatakan: Kemudian, Aku bersumpah bahwa pasti kamu semua wahai manusia akan ditanyai pada hari itu tentang an-na’im yakni aneka kenikmatan duniawi yang kamu raih, atau kenikmatan ukhrawi yang kamu abaikan.
Kata la tus’alunna terambil dari kata sa’ala yang digandengkan dengan huruf lam yang berfungsi sebagai isyarat adanya sumpah dan nun yang digunakan untuk menunjukkan kepastian serta penekanan. Sedang kata sa’ala dapat berarti meminta, baik materi maupun informasi.Yang dimaksud bukan permintaan materi, bukan juga informasi dalam pengertian yang sebenarnya, tetapi pertanggungjawaban.Kata tersebut berbentuk pasif dalam arti bahwa pelaku yang meminta pertanggungjawaban itu tidak disebutkan.Ini untuk mengarahkan perhatian pendengar kepada pertanggungjawaban itu – tanpa mempersoalkan siapa pun yang melakukannya.
Kata an-na’im biasa diterjemahkan kenikmatan. Sementara ulama menyebut beberapa riwayat yang menjelaskan maksud kata ini, seperti angin sepoi, air sejuk, alas kaki, sampai kepada al-Qur’an dan kehadiran Rasul SAW. Sahabat Nabi SA, Anas Ibn Malik ra menyatakan bahwa ketika turunnya ayat di atas seorang yang sangat miskin berdiri di hadapan Nabi SAW sambil berkata: “Apakah ada suatu nikmat yang kumiliki?” Nabi menjawab: “Ya, naungan, rumput dan air yang sejuk” (kesemuanya adalah nikmat yang engkau peroleh).
Jika kita menelusuri penggunaan al-Qur’an tentang kata-kata yang seakar dengan kata na’im, ditemukan bentuk-bentuk ni’mah, na’mah, na’maa’, an’um. Tentu saja maknanya tidak sama. Kata na’mah (dengan fathah pada huruf nuun) yang digunakan al-Qur’an dalam dua ayat (QS ad-Dukhan (44): 27 dan al-Muzammil (73): 11) dan keduanya dalam konteks pembicaraan tentang orang-orang kafir yang memperoleh limpahan anugerah atau nikmat material yang mereka tidak syukuri. Sedang kata ni’mah (dengan kasrah pada huruf nun) yang terulang sebanyak 34 kali, pada umumnya digunakan untuk menggambarkan anugerah Allah kepada hamba-hamba-Nya yang sadar atau diharapkan dapat sadar, baik nikmat tersebut bersifat material maupun spiritual. Bahkan sementara ulama membatasinya dalam bidang spiritual keagamaan. Atau paling tidak, pada umumnya kata ni’mah dalam al-Qur’an digunakan dalam arti petunjuk keagamaan (perhatikan QS al-Ma’idah (5): 3 dan QS adh-Dhuha (93): 11.
Kata na’im terulang dalam al-Qur’an sebanyak 17 kali, 8 di antaranya dengan redaksi jannaat an-na’im (surga-surga yang penuh kenikmatan), 3 dengan redaksi jannatu na’im (surga yang penuh kenikmatan) dalam bentuk tunggal dan 6 sisanya digandengkan dengan berbagai kata tetapi seluruhnya digunakan dalam konteks kenikmatan surgawi di akhirat kelak (lihat misalnya QS al-Infithaar (82): 13-14 atau QS al-Insaan (76): 20. Atas dasar itu rasanya kurang tepat memahami kata na’im pada ayat yang ditafsirkan ini dalam arti kenikmatan yang diperoleh manusia di dunia – baik besar maupun kecil. Kata na’im di sini agaknya lebih tepat dipahami pula dalam konteks kenikmatan ukhrawi sehingga ayat terakhir surah ini memperingatkan kepada mereka yang bersaing secara tidak sehat dalam rangka memperoleh dan memperbanyak harta benda, anak, pengikut dan kedudukan – memperingatkan mereka – bahwa kelak mereka akan diminta untuk mempertanggungjawabkan sikap mereka terhadap kenikmatan ukhrawi, mereka akan ditanyai: Bagaimana sikap kamu di dunia menyangkut kenikmatan-kenikmatan ukhrawi? Apakah kamu percaya atau tidak?” Yang percaya tentu tidak akan bersaing memperebutkan dan memperbanyak kenikmatan duniawi yang kecil itu bila dibandingkan dengan kenikmatan ukhrawi. Yang percaya tentu akan berlomba memperebutkan dan memperbanyak kenikmatan ukhrawi.
Seseorang yang menyadari bahwa ada kenikmatan yang melebihi kenikmatan duniawi tentu tidak akan mengarahkan seluruh pandangan dan usahanya semata-mata hanya kepada kenikmatan duniawi yang sifatnya sementara itu, bahkan seseorang yang menyadari betapa besar kenikmatan ukhrawi itu akan bersedia mengorbankan kenikmatan duniawi yang dimiliki dan dirasakannya demi memperoleh kenikmatan ukhrawi itu. Demikian awal ayat surah ini berbicara tentang perlombaan menumpuk kenikmatan duniawi, dan akhirnya memperingatkan mereka tentang tanggung jawab kepemilikan harta itu bahkan mengingatkan mereka tentang kenikmatan ukhrawi yang tiada taranya.Demikian, Maha Benar Allah dalam segala firmannya.Wa Allaah A’lam.

Sources:
- Al Qur’an dan Tafsirnya: Jilid X Juz 28-29-30. Naskah asli Milik Departemen Agama Republik Indonesia dengan perbaikan. Cetak Ulang oleh Universitas Islam Indonesia (1995). Penulis: Tim Tashih Departemen Agama & Universitas Islam Indonesia. Pelaksana cetak Ulang: PT Dana Bhakti Wakaf, Yogyakarta, Indonesia. Hlm 795.
- M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Volume 15. Jakarta: Lentera Hati, 2002. Hlm 490-492

Keterangan:
Abu Nizhan, 2011. Al-Qur’an Tematis: Panduan Praktis Memahami Ayat-Ayat Al-Qur’an. Penerbit Mizan, Bandung, Indonesia. Hlm 236. Hal-hal yang Ditanyakan Ketika Dihisab:
Perihal Kekafiran dan Kemusyrikan, Apa saja yang dikerjakan di dunia (QS 15: 92-93), Nikmat yang telah diberikan, Ditanya tentang Panca Indera

Tuesday, June 28, 2016

NEGERI TANPA AYAH

๐ŸŒ€ NEGERI TANPA AYAH ๐ŸŒ€
๐Ÿ”ธ by : Ust Bendri Jaisyurrahman (@ajobendri)

⚽ ๐Ÿƒ 1| Jika memiliki anak sudah ngaku-ngaku jadi AYAH, maka sama anehnya dengan orang yang punya bola ngaku-ngaku jadi pemain bola

๐Ÿฃ 2| AYAH itu gelar untuk lelaki yg mau dan pandai mengasuh anak bukan sekedar 'membuat' anak

๐ŸŒ— 3| Jika AYAH mau terlibat mengasuh anak bersama ibu, maka separuh permasalahan negeri ini teratasi

๐Ÿ’ฐ 4| AYAH yang tugasnya cuma ngasih uang, menyamakan dirinya dengan mesin ATM. Didatangi saat anak butuh saja

๐Ÿ’” 5| Akibat hilangnya fungsi tarbiyah dari AYAH, maka banyak AYAH yg tidak tahu kapan anak lelakinya pertama kali mimpi basah

⛅ 6| Sementara anak dituntut sholat shubuh padahal ia dalam keadaan junub. Sholatnya tidak sah. Dimana tanggung jawab AYAH ?

๐Ÿ’ฅ 7| Jika ada anak durhaka, tentu ada juga AYAH durhaka. Ini istilah dari umar bin khattab

๐Ÿ‘Ž 8| AYAH durhaka bukan yg bisa dikutuk jadi batu oleh anaknya. Tetapi AYAH yg menuntut anaknya shalih dan shalihah namun tak memberikan hak anak di masa kecilnya

๐Ÿ™‡ 9| AYAH ingin didoakan masuk surga oleh anaknya, tapi tak pernah berdoa untuk anaknya

๐Ÿ‘‘ 10| AYAH ingin dimuliakan oleh anaknya tapi tak mau memuliakan anaknya

๐ŸŒ 11| Negeri ini hampir kehilangan AYAH. Semua pengajar anak di usia dini diisi oleh kaum ibu. Pantaslah negeri kita dicap fatherless country

๐Ÿ‡ 12| Padahal keberanian, kemandirian dan ketegasan harus diajarkan di usia dini. Dimana AYAH sang pengajar utama ?

๐Ÿ’ป 13| Dunia AYAH saat ini hanyalah Kotak. Yakni koran, televisi dan komputer. AYAH malu untuk mengasuh anak apalagi jika masih bayi

๐Ÿ‘ซ 14| Banyak anak yg sudah merasa yatim sebelum waktunya sebab AYAH dirasakan tak hadir dalam kehidupannya

๐Ÿ“– 15| Semangat quran mengenai pengasuhan justru mengedepankan AYAH sebagai tokoh. Kita kenal Lukman, Ibrahim, Ya'qub, Imron. Mereka adalah contoh AYAH yg peduli

๐Ÿ‘‰๐Ÿ‘จ 16| Ibnul Qoyyim dalam kitab tuhfatul maudud berkata: Jika terjadi kerusakan pada anak penyebab utamanya adalah AYAH

๐Ÿ‘จ 17| Ingatlah! Seorang anak bernasab kepada AYAHnya bukan ibu. Nasab yg merujuk pada anak menunjukkan kepada siapa Allah meminta pertanggungjawaban kelak

๐Ÿ’Ž 18| Rasulullah yg mulia sejak kecil ditinggal mati oleh AYAHnya. Tapi nilai-nilai keAYAHan tak pernah hilang didapat dari sosok kakek dan pamannya

๐Ÿ’– 19| Nabi Ibrahim adalah AYAH yg super sibuk. Jarang pulang. Tapi dia tetap bisa mengasuh anak meski dari jauh. Terbukti 2 anaknya menjadi nabi

๐Ÿ’œ 20| Generasi sahabat menjadi generasi gemilang karena AYAH amat terlibat dalam mengasuh anak bersama ibu. Mereka digelari umat terbaik.

๐Ÿ“š 21| Di dalam quran ternyata terdapat 17 dialog pengasuhan. 14 diantaranya yaitu antara AYAH dan anak. Ternyata AYAH lebih banyak disebut

๐Ÿ’ž 22| Mari ajak AYAH untuk terlibat dalam pengasuhan baik di rumah, sekolah dan masjid

๐ŸŽฏ 23| Harus ada sosokp AYAH yg mau jadi guru TK dan TPA. Agar anak kita belajar kisah Umar yg tegas secara benar dan tepat. Bukan ibu yg berkisah tapi AYAH

๐Ÿ  24| AYAH pengasuh harus hadir di masjid. Agar anak merasa tentram berlama-lama di dalamnya. Bukan was was atau merasa terancam dengan hardikan

๐ŸŒ‡ 25| Jadikan anak terhormat di masjid. Agar ia menjadi generasi masjid. Dan AYAH yang membantunya merasa nyaman di masjid

๐ŸŒน 26| Ibu memang madrasah pertama seorang anak. Dan AYAH yang menjadi kepala sekolahnya

๐Ÿ˜Ž 27| AYAH kepala sekolah bertugas menentukan visi pengasuhan bagi anak sekaligus mengevaluasinya. Selain juga membuat nyaman suasana sekolah yakni ibunya

๐Ÿ‘ฎ 28| Jika AYAH hanya mengurusi TV rusak, keran hilang, genteng bocor di dalam rumah, ini bukan AYAH 'kepala sekolah' tapi AYAH 'penjaga sekolah'

๐Ÿง 29| Ibarat burung yang punya dua sayap. Anak membutuhkan kedua-duanya untuk terbang tinggi ke angkasa. Kedua sayap itu adalah AYAH dan ibunya

๐ŸŒบ 30| Ibu mengasah kepekaan rasa, AYAH memberi makna terhadap logika. Kedua-duanya dibutuhkan oleh anak

๐ŸŒป 31| Jika ibu tak ada, anak jadi kering cinta. Jika AYAH tak ada, anak tak punya kecerdasan logika

๐Ÿ€ 32| AYAH mengajarkan anak menjadi pemimpin yg tegas. Ibu membimbingnya menjadi pemimpin yg peduli. Tegas dan peduli itu sikap utama

๐Ÿ’ 33| Hak anak adalah mendapatkan pengasuh yg lengkap. AYAH terlibat, ibu apalagi

๐Ÿ’ฆ 34| Mari penuhi hak anak untuk melibatkan AYAH dalam pengasuhan. Semoga negeri ini tak lagi kehilangan AYAH

๐Ÿ€๐ŸŒป๐Ÿ’ฆ 35| Silahkan share jika berkenan agar makin banyak AYAH yang peduli dengan urusan pengasuhan.

PERAN IBU DALAM MENDIDIK ANAK PEREMPUAN

Resume Diskusi GROUP HSMN

30 April 2015

๐Ÿ‘‘ Narsum : Ust. Bendri Jaisyurrahman
๐Ÿ“„Tema : PERAN IBU DALAM MENDIDIK ANAK PEREMPUAN
⌚ hari kamis, jam 19.30-21.00
๐ŸŽค moderator :
Sari dan Tia
๐Ÿ“ notulen : bunda Fitri

๐Ÿ€ Profile Narsum ๐Ÿ€

Nama : Bendri Jaisyurrahman
Alamat : Jl. Lubang Buaya Gg. Baru RT 011/03 No 45 Kelurahan Bambu Apus Cipayung Jaktim
twitter : @ajobendri
Status : Menikah (1 istri 4 anak)
Motto : Senyum, Semangat dan Tulus serta Yakinlah ALLAH mencintaimu meski kamu tak harapkan cintaNYA

๐Ÿ‘‰Pendidikan :
1. Mahad Al Hikmah Jakarta
2. FISIP UI
3. Mahad Utsman bin Affan

๐Ÿ‘‰ Pengalaman :
1⃣ Konselor Remaja Yayasan Kita dan Buah Hati
2⃣ Pembimbing Program Pemilihan Dai Cilik (PILDACIL) LATIVI
3⃣ Pembimbing Program Menuju Bintang Ramadhan TVONE
4⃣ Narasumber dalam Program Magic Daddy Radio D-FM 104,7 FM
5⃣ Narasumber dalam program Untukmu Ibu Indonesia TVRI
6⃣ Direktur Pelaksana Rumah Sholeh
7⃣ Kontributor cahayasiroh.com
8⃣ Narasumber tetap di Radio Dakta 107 FM dalam program AYAH hebat
9⃣ Narasumber dalam Program Curhat AyahBunda di Spacetoon
๐Ÿ”Ÿ Narasumber dalam Program Ruang Keluarga di DAAI TV
1⃣1⃣ Pembimbing Rumah Karantina PILDACIL ANTV 2011
1⃣2⃣ Dosen di Universitas Islam Negeri Jakarta, PGTK Ar Risalah dan STAI Bani Saleh
1⃣3⃣ Konsultan dan Supervisor program drama anak dan keluarga TVRI
1⃣4⃣ Juri Hafidz Quran 2014 Trans7

๐Ÿ‘‰ Aktivitas saat ini :
๐Ÿ”นMuballigh
๐Ÿ”นKonselor Anak, Keluarga dan Pernikahan
๐Ÿ”นManajer Operasional YAYASAN LANGKAH KITA
๐Ÿ”น Pembina SAHAJA (Sahabat Anak dan Remaja) dan Q-Gen (Quranic Generation)
๐Ÿ”นKontributor dan Penggagas Lembaga SAHABAT AYAH
๐Ÿ”นPengajar di Ar Rahman Pre Wedding Academy
๐Ÿ”นPengurus MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) cab. DKI Jakarta
๐Ÿ”นPenggerak Aliansi Cinta Keluarga Indonesia
๐Ÿ”นPengasuh Majelis AYAH
๐Ÿ”นDirektur Kokoh Keluarga Indonesia

Mendidik Anak Wanita (bagian 1)

Pendidikan mengenai anak wanita pada dasarnya adalah pendidikan seksualitas (tarbiyah jinsiyah) di dalam Islam. Hal ini terkait bahwa pendidikan seksualitas di dalam Islam mengatur tentang bagaimana seorang wanita menjadi wanita seutuhnya baik secara biologis, psikologis maupun fisiologis yang nampak dari bagaimana ia berbicara, berjalan, bersikap saat marah dan aktivitas lainnya

Itulah kenapa pendidikan anak wanita dan lelaki tidak boleh sama. Sebab lelaki itu tidak sama dengan perempuan (ali imran : 36). Jika kita menyamakannya kemungkinannya ada dua : salah satunya yakni laki atau perempuan itu rusak. Atau dua duanya yg rusak. Itulah kenapa mendidik anak wanita amatlah khas yg berbeda dgn anak lelaki berdasarkan kajian quran dan sunnah.

Pada bagian kali ini maka saya lebih membahas tentang role model ortu guna mendidik anak wanita. Maksudnya adalah siapakah yg berhak kita jadikan contoh atau figur sebagai wanita yg akan dididik oleh ortu? Dalam hal ini mau tak mau kita merujuk kepada panduan kita sebagai muslim yakni kriteria wanita menurut quran dan hadits. Jadi kriteria bahwa kita sukses mendidik anak wanita bukan berdasarkan Yayasan Putri Indonesia atau Miss Universe Foundation, majalah time dan sejenisnya. Cukuplah Islam menjadi panduan kita untuk mengukur.

Berdasarkan hadits yang disampaikan kepada kita maka tergambarlah wanita terbaik versi Islam itu ada empat. Sesuai sabdanya : Wanita yang paling utama dan tertinggi di surga itu ada empat yakni maryam binti imran, khadijah binti khuwailid, fathimah binti muhammad dan asiyah binti muzahim (HR. Tirmidzi)

Perhatikan hadits tersebut. Ternyata wanita terbaik yg seharusnya jadi role model indikator kesuksesan kita dalam mendidik anak wanita bukanlah margareth teacher, hillary clinton, bunda theresa, kartini dan yg lainnya. Hanya empat yg rasul sebut. Itu artinya tugas kita sebagai ortu adalah mendidik anak wanita menjadi seperti empat wanita tadi. Masalahnya, apakah kita sebagai orangtua tau dengan detail kisah keempat wanita tadi? Jangan-jangan kisah barbie, frozen dan sejenisnya lebih panjang kita ceritakan kepada mereka dibandingkan keempat wanita tersebut. Wajarlah kalau anak wanita kita malah semakin jauh dari karakter wanita tersebut.

Karena itu tugas, ibu ibu disini adalah membaca dan menghayati kisah keempat wanita tersebut. Sebab mereka lah rujukan kita dalam mendidik anak wanita kita. Jika sudah, saya akan membahas point penting dari karakter dasar anak wanita berdasarkan contoh dari keempat wanita tersebut. Selamat men searching ๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜Š

Mendidik Anak Wanita (bagian 2)

--ajarkan kesucian--

Mari coba kita gali profil dari keempat wanita yg disebutkan dalam hadits tadi. Yg jelas keempat wanita itu ternyata bukan tipe wanita yg punya prestasi segudang atau kecantikan menawan atau kepintaran di atas rata-rata. Keempat wanita tersebut boleh dibilang hanya wanita 'biasa' jika dilihat dari prestasi publik kekinian. Namun mengapa mereka digelari wanita terbaik? Disinilah kita coba ambil pelajaran penting tentang hakikat pendidikan anak wanita. Yang memang tidak diorbitkan menjadi manusia dengan segudang prestasi dan penghargaan namun ada yg lebih penting dari itu semua yang menjadikannya sebagai wanita terbaik di hadapan Allah.

Yang pertama, adalah keempat wanita tersebut dikenal dan digelari sebagai wanita suci atau ath thohiroh. Maryam digelari oleh Allah sebagai wanita suci dalam quran surat ali imran ayat 42. Khadijah istri rasul pun demikian. Mendapat gelar ath thohiroh dari masyarakat meskipun ia sudah janda. Begitu juga dengan fathimah dan asiyah.

Itu artinya ciri khas pendidikan anak wanita sedari dini adalah mengajarkan tentang pentingnya kesucian. Ya, kesucian. Dan quran tidak menyebutnya dengan istilah keperawanan (al bakirah). Sebab yang diinginkan bukan sekedar perawan tapi suci. Suci terkait dengan aspek adab dan sikap. Sementara perawan hanya terkait dengan kokohnya selaput dara di liang kemaluan.

Jika kesucian yang kita ajarkan, kelak ketika ia sudah menikah atau bahkan janda sekalipun, ia akan tetap jaga adab kepada lelaki yg ia temui. Tidak sembarangan disentuh, apalagi agresif menggoda. Misalnya 'menembak' langsung kepada lawan jenis. Ini bukan ciri wanita suci. Bagaimana dengan bunda khadijah yang kabarnya 'melamar' rasulullah lebih dulu? Ketahuilah saat khadijah punya perasaan cinta kepada muhammad, ia tidak agresif, kasih kode dengan pura-pura jatuhin pulpen atau buku di depan muhammad layaknya sinetron murahan di tv. Tidak sama sekali. Ia nyatakan dengan cara yg suci lewat pihak yg amanah yakni nufaisah. Maka kesuciannya tetap terjaga meskipun janda.

Inilah hakikat kesucian. Muncul dalam sikap pemalu, jaga adab di area publik dan tak berkeinginan menonjolkan diri. Beda jika kita hanya ajarkan keperawanan. Bahkan banyak remaja wanita yg begitu 'cerdas' nya dengan pacaran cukup dengan ciuman bibir dan petting. Dengan dalih yg penting masih perawan. Bagian bawah tak disentuh. Namun bagian atas telah ternoda. Naudzubillah. Inilah kesalahan pengasuhan anak wanita. Yakni salah terminologi istilah.

Maka, pendidikan dasar anak wanita adalah menjaga kesucian sedari dini. Dengan sifat tersebut ia akan menjadi wanita yg dimuliakan bukan hanya oleh penduduk dunia namun juga penduduk langit. Apa saja yg bisa kita lakukan agar ia bisa menjaga kesucian? Kita sambung kapan-kapan hehe (pegel nulisnya soalnya)

Salam,

bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

Tanya jawab :

1⃣pertanyaan pertama
Tanya ustad. Mengajarkan kesucian utk anak itu apakah beda dg mengajarkan mjd pemberani?(berani dlm mengubgkapkan pendapat, berekspresi, dll)

1⃣ Tentu beda. Pada dasarnya nilai keberanian adalah nilai umum yg wajib dimiliki setiap anak. Dalam hal ini juga wanita. Hanya saja penekanan kesucian ini menjadi karakter dasar. Dimana hakikat dasarnya adalah ia memiliki kemampuan utk menjaga diri dari pengaruh buruk lingkungan luar atau bisa juga dorongan dari dalam. Itulah kenapa kesucian bagi wanita akan bermuara kepada ketegasan. Di antaranya berani utk menolak lelaki yg sembarangan menyentuhnya. Sebagaimana yg dilakukan maryam yg tak pernah disentuh oleh lelaki asing. Maka mengajarkan kesucian butuh sosok ayah yg mengajarkan ketegasan. Inilah hikmah kenapa maryam sedari dini meski ditinggal mati oleh imran, tetap diaeuh oleh sosok lelaki yakni nabi zakaria, agar ia jadi wanita yg tegas ✅

๐Ÿ‘‰Pertanyaan lanjutan :
Bisakah tetap menjaga kesucian tetapi juga percaya diri.
๐Ÿ‘ณTentu bisa. Sebab dasar dari kesucian adalah bangga akan dirinya. Makanya ia tak sembarangan digoda lelaki lain. Memahami bahwa sebagai wanita ia begitu mulia sehingga menjaga muruah dan kehormatannya agar tak dilecehkan. Dengan demikian sikap yg muncul bukanlah cerminan minder, melainkan kepercayaan diri sebagai wanita muslimah yg diistimewakan dalam Islam. Alhasil, saat ia berbusana muslimah ia jalani dengan penuh semangat dan rasa terhormat. Hal inilah yg dilakukan oleh wanita zaman rasul saat turun perintah hijab (al ahzab ayat 59). Mereka berlomba memakai sampai mengambil kain ordeng di rumah hingga menyisakan satu lobang di mata. Mereka berjalan layaknya bawa terpal. Namun mereka tetap percaya diri ✅

2⃣ Pertanyaan kedua:
Apa yang membedakan antara pendikan u anak wanita dg anak laki2

2⃣ Coba lihat surat ali imran ayat 33, Tadabburi bersama sama yuk..Emang idealnya ngomong nih. Karena penjelasannya panjang hehe..
"Sesungguhnya Allah telah memilih adam, nuh, keluarga ibrahim dan keluarga imran atas segala ummat"
Dalam ayat ini hanya ibrahim dan imran yg diberi gelar keluarga. Dimana pesannya keluarga yg sukses itu hanyalah ibrahim dan imran. Namun utk adam dan nuh tetap banyak pelajaran sebagai ortu (kita bahas kapan kapan ya) Nah, mempersingkat waktu. Keluarga ibrahim ini mewakili pengasuhan anak lelaki sebab semua anaknya lelaki yang diantaranya adalah ismail dan ishaq. Sementara imran mewakili pengasuhan anak perempuan sebab anaknya maryam perempuan satu-satunya. Kesimpulannya belajar mendidik anak lelaki lihatlah keluarga ibrahim. Mendidik anak wanita lihatlah keluarga imran. Dimana bedanya? Baik kita urai sebentar ya..
1. Ibrahim dipuji sebagai keluarga terbaik sebab punya dua anak yg dibanggakan yakni ismail dan ishaq
2. Imran disebut keluarga terbaik sebab punya anak wanita yg dimuliakan yakni maryam
3. Maka mendidik anak lelaki didiklah jadi ismail dan ishaq Dan mendidik anak wanita didik jadi maryam
Siapa ismail dan ishaq? Mereka adalah nabi. Itu artinya kesuksesan pendidikan anak lelaki adalah jika menjadikan anaknya menjadi NABI
mungkin gak di zaman sekarang? Tentu gak mungkin..Sebab udah gak ada nabi, Maka kenabian sebagai wujud prestasi lelaki zaman sekarang diwujudkan dalam dua hal :
1. Didik anak lelaki menjadi ulama sebab ulama itu pewaris nabi. Nah, ulama ini dalam bahasa arab bukan sekedar ustadz namun maknanya adalah ahli ilmu. Artinya kalau dia ahli matematika, politik, media, seni juga disebut ulama kalau ahli
2. Jadikan anak lelaki itu punya jiwa iqomatuddin (43:12) Artinya kalau dia ahli dalam bidang sesuatu akan percuma kalau gak punya ghiroh agama. Maka buat ia punya ghiroh agama. Nah ini penekanan anak lelaki. Teknis mendidiknya kapan kapan. Kok jadi bahas lelakinya? Hehe
Nah utk wanita lihatlah maryam. Ternyata ia bukan nabi. Namun ia mencetak nabi yakni isa. Kesimpulannya wanita dididik utk menjadi pemeran utama tapi beroeran mencetak pemeran utama. Sebagaimana maryam. Maka disinilah pepatah berlaku : dibalik lelaki hebat ada...mantan yg menyesal...ups...salah..Maksudnya ada wanita di belakangnya. Kira kira perbedaan dasarnya disitu. Kalau saya uraikan lagi kepanjangan. Utk sementara itu dulu ya.,, teknisnya kapan kapan. Tulisannya berseri ✅

3⃣Pertanyaan ketiga:
๐Ÿ™‹ sari (admin grup 10)
Tanya ustadz..utk menjaga kesucian isni kan pasti ortu harus mendidik anak sejak dini ya butk memakai jilbab.nah bagaimana ustadz kalau ortu dulu yg blm paham akan perintah jilbab, alhamdulillah skrg sudah paham dan mnyuruh anaknya utk memakai jilbab. tp anaknya sampai skrg blm juga mau memakai jilbab..skrg anaknya sudah besar..nah bagaimana ya ustadz agar si anak sadar bahwa jilbab itu kewajiban dan perintah dr Allah?jazakallah khair ustadz..

3⃣ Ok utk pertanyaan ketiga ini terkait dakwah ke anak. Ada tahapan sebelum mengajak anak, yakni mengikat hatinya. Anak yg tak punya emotional bonding dgn ortu maka mudah melawan. Itulah kenapa fokus perbaikan kepada anak jika pernah khilah adalah perbaikan ikatan hati. Utk bisa menjalin ikatan batin dgn anak maka baca tulisan lama saya di bawah ini ๐Ÿ‘‡

MENGIKAT HATI ANAK, MENJALIN EMOTIONAL BONDING
(TIPS PARENTING)
by : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

1| Salah satu tugas pengasuhan adalah membuat ikatan
emosi yang kuat antara ortu dan anak yang dikenal
dengan istilah emotional bonding

2| Ikatan emosi atau batin ini berpengaruh bagi anak
dalam menjalani masa-masa sulit semasa hidup sekalipun
tak ada ortu di sisi

3| Tak selamanya ortu mendampingi hidup anak. Ia harus
tumbuh mandiri dengan potensinya. Emotional bonding
yang kuat terhadap ortu sebagai pengarah

4| Setidaknya ada beberapa masa kehidupan dalam diri
anak dimana ia alami krisis : pra sekolah, pra puber,
pubertas, pra nikah dan nikah

5| Di masa-masa tersebutlah ia butuh bimbingan dan
arahan. Maka meski tak ada ortu di sisi, nasehat-nasehat
dan teladan ortu tetap dijaga selama masih ada ikatan
batin

6| Hal ini lah yang dialami oleh Nabi Yusuf muda saat
terpesona dengan kecantikan zulaikha dan diajak berbuat
mesum. Ia punya hasrat

7| Hasratnya hampir saja menjerumuskannya seandainya
Allah tak berikan 'pertanda'. Seperti yang terdapat
dalam surat Yusuf : 24. Sila dibaca
'Pertanda' yg dimaksud adalah nasehat ayahnya yang
tiba-tiba muncul saat ia hampir saja terpedaya oleh
nafsunya. Ini kata ibnu katsir

9| Bayangkan! Nabi yusuf yang terpisah jauh oleh
ayahnya, terjaga diri dari bujukan setan. Tak jadi berbuat
zina. Tersebab ikatan batin dengan ayahnya

10| Itu pula yang diharapkan dari anak kita. Jauh terpisah
namun menjaga kehormatan keluarga karena nasehat
indah ortu yang tertanam dalam jiwa

11| Saat krisis jiwa melanda, tak kemana-mana cari
solusi. Yakin ada ortu yang siap membantu cari jalan
keluar. Percaya sepenuhnya

12| Seorang wanita yang sedang konflik dengan suaminya,
akan curhat ke ayahnya. Bukan ke lelaki lain. Rumah
tangga terselamatkan. Sebab ada father bonding

13| Anak yg tak punya emotional bonding maka tak
percaya dengan ortunya. Lebih dengar kata temannya
sekalipun buruk

14| Bagaimana menciptakan emotional bonding dengan
anak? Usia dini jangan diabaikan. Bermula dari bayi dalam
kandungan. Ayah bunda terlibat bersama

15| Saat bayi dalam kandungan, jadikan suara ayah-bunda
nya yg lebih banyak didengar. Ajak ia bicara sambil
mengusap perut bunda

16| Saat anak lahir, sambutlah anak dalam pelukan yang
hangat. Hadapkan wajah kita ke hadapannya. agar
perlahan di scan dalam memorinya

17| Usia 0-2 tahun adalah fase pengikatan. Disinilah fase
dimana ayah-bunda harus jadi aktor utama dalam
pengasuhan. Bukan yg lain

18| Di fase inilah Allah perintahkan ibu untuk memberinya
ASI. Yang bukan sekedar susunya, namun juga belaian
yang dibutuhkan anak
19| Betapa banyak ibu yang lebih sering menitipkan ASI
nya pada botol. Tak memberinya langsung dari puting.
Sehingga anak sehat namun jiwanya kosong
20| Fase ini juga seorang ayah harus banyak terlibat
mengasuh. Luangkan waktu tuk ganti pampers, gendong
anak sambil cerita, bacakan quran, dll

21| Dalam usia 0-2 tahun jangan terburu-buru kenalkan
anak pada media meskipun isinya bagus. Sebab emosi
belum terikat sepenuhnya

22| Jika ingin ajarkan anak tentang quran, jangan dari
kaset. Akan lebih elok jika ortunya yang menyuarakan
sekalipun belum fasih. Agar tercipta ikatan batin

23| Sekalipun ada pengasuh lain, peran mereka hanya
membantu. Bukan tokoh sentral. Agar ikatan yang
terjalin bukan kepada mereka namun kepada ortunya

24| Keluarkan segala energi: suara, bahasa tubuh, dan
ekspresi muka agar terekam kuat dalam memori anak.
Inilah yang menjadi dasar munculnya ikatan hati

25| Bagaimana jika anak sudah melewati usia 2 th
sementara kita terlambat melakukan upaya emotional
bonding ?

26| Jika anak sudah melewati usia 2 tahun, bisakah kita
ciptakan emotional bonding dengannya? Masih sangat
bisa. Asal kita bisa membaca golden moment

27| Golden moment ini adalah situasi dimana anak benar-
benar butuh hadirnya kita. Bisa tanpa sengaja atau juga
kita rekayasa

28| Golden moment yang dimaksud minimal ada dua :
yakni saat anak sedih dan saat anak unjuk prestasi.
Hadirlah dengan sungguh-sungguh di dua waktu ini

29| Saat anak sedih, ia butuh sandaran jiwa. Butuh ada
yang memeluk dan dengarkan curhatnya. Hadirlah segera.
Jangan sampai orang lain yang ambil alih

30| Tak pekanya ortu saat anak sedih malah buat ikatan
hati makin rapuh. Kepercayaan menurun. Anak lari
kepada sosok lain

31| Dan hadirlah saat anak unjuk prestasi : baca puisi di
skolah, ambil raport, menari, dan sejenisnya. Ini adalah
persembahan untuk ortu dari anak

32| Saat unjuk prestasi, yang anak butuhkan adalah tepuk
tangan dan apresiasi ortunya. Jika ortu tak hadir,
rusaklah kepercayaan anak

33| Kehadiran ortu dalam kegiatan mereka adalah
pengakuan eksistensi anak. Ortu yang cerdas, akan
paksakan diri tuk hadir. Demi tercipta emotional bonding

34| Semoga kita bisa menjadi ortu yg mampu jalin
emotional bonding dengan anak kita. Agar anak
terdampingi selamanya meski kita tiada. Salam cinta
(bendri jaisyurrahman)
Kesimpulannya sebagaimana pepatah arab : al ihsan yu'jizul insan (kebaikan akan menaklukkan hati manusia). Maka, berbuat baik kepada anak lebih banyak agar anak mau diajak utk taat kepada Allah
Wallahu a'lam ✅

4⃣Pertanyaan keempat :
Aslm, ustadz, anak sy perempuan usia 4 tahun. Bgmn contoh konkrit mengenalkan ke4 sosok wanita utama tsb, krn anak2 kdg msh lbh tertarik pd gambar drpd kisah lisan..

4⃣ Yg pertama kali ibu lakukan adalah membaca dulu kisah sejarah keempat wanita tersebut, Kemudian ibu coba kemas dalam sebuah cerita berseri yg menarik sebagaimana kisah frozen, barbie dikemas. Atau jika anak sudah terlanjur ngefans dgn figur wanita lain, berikan sentuhan cerita tadi agar anak tau tentang keunggulan wanita tadi. Utk selanjutnya, berdoalah semoga ada penerbit yg cukup cerdas menampilkan profil wanita tersebut dalam sebuah buku yg menarik. ✅
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Terimakasih atas waktu yg diberikan ya ustadz. Semoga mnjd amal yg bermanfaat utk kita semua. Kita akhiri dg membaca Hamdalah dan doa kafarotul majlis "Alhamdulillahirobbil'alamiin
Subhanaka Allahumma Wabihamdika Asyyhaduallaillahailla anta astaghfiruka wa'atubuilaih".

Saya yg bertugas mohon maaf atas segala kekurangan.Wassalammu'alaikum warohmatullahiwabarokatuh
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
๐Ÿ”…๐Ÿ”†๐Ÿ”…๐Ÿ”†HSMN๐Ÿ”†๐Ÿ”…๐Ÿ”†๐Ÿ”…
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
๐Ÿ‘ฅfacebook.com/hsmuslimnusantara

๐Ÿ“ท instagram: @hsmuslimnusantara
๐Ÿค twitter: @hs_muslim_n

๐ŸŒ web:
hsmuslimnusantara.org

TERGANTUNG BAGAIMANA KEPALA SEKOLAHNYA??

TERGANTUNG BAGAIMANA KEPALA SEKOLAHNYA??

by. Bendri Jaisyurrahman

Untuk kali ini, ijinkan saya bicara kepada ayah dari hati ke hati...
Dalam konteks pengasuhan, sekolah pertama bagi anak adalah Ibu. Ibu adalah sekolah pertama dan terbaik bagi anak, krn secara psikologis: Ibu memberikan rasa nyaman bagi anak agar betah berlama-lama di dekatnya, menjadi tempat utk curhat dan diskusi tentang banyak hal terutama menanamkan nilai-nilai agar anak menjadi tangguh menghadapi tantangan kehidupan.

Sulit bagi Ibu untuk fokus mendidik anak dan membuat mereka nyaman secara psikologis jika ia tidak mendapat dukungan, apalagi jika hanyut dalam perasaannya sendiri dan mudah stress.

Ibu yg stress akan mudah emosi dan kurang sabar menghadapi anak-anak. Inilah gejala awal munculnya 'mother distrust' di mana anak jadi tidak betah di rumah dan merasa bhw Ibu adalah sosok yg tidak mengenakkan.

Semua fungsi dan tugas Ibu sbg. guru pertama dan utama akan dapat dipenuhi jika peran sbg Kepala Sekolah yg dipikul Ayah berjalan maksimal.

Mother distrust muncul lagi-lagi krn peran ayah sbg. Kepala Sekolah; hilang atau sangat kurang. Ayah lah yg seharusnya berpikir utk membuat anak menjadi betah bersama ibunya, dalam hal ini: apakah kebutuhan psikologis Ibu. Ibu akan bisa memberikan rasa nyaman kepada keluarga jika ruang bathin nya nyaman. Dan.... Ayah-lah yg berkewajiban menyamankan ruang bathin Ibu. Ada ruang dan waktu bagi Ibu utk mencurahkan isi hatinya, misalnya: tidak hanya dibebani oleh pusingnya kenaikan harga2 di luar.

Menurut penelitian, perempuan (makhluk berkromosom XX) yg jiwanya sehat butuh mengeluarkan 20 ribu kata per hari. Ibu yg jarang diajak ngobrol santai oleh suaminya, maka bahasa tubuh dan nada bicaranya tidak mengenakkan. Menyusui anak akan resah, tak sabar dgn kelakuan anak, bahkan cenderung menjadikan anak sbg. sasaran pelimpahan emosi yg tdk semestinya. Jadi, endapan permasalahan dgn sang ayah dimanifestasikan dlm bentuk amarah yg tidak jelas kepada anak-anak.

Terkadang, ada Ibu yg tetap sabar kepada anak2nya meskipun Ayah tak memberi ruang bagi jiwanya..., tapi manifestasi ekstrim nya dalam bentuk penyakit fisik yg sulit sembuh

Maka tugas wajib ayah adalah memberikan ruang, waktu dan suasana setiap hari bagi Ibu utk bicara sbg. upaya utk selalu menyehatkan jiwanya, mendengar keluh kesahnya. Rangkul Ibu untuk marah dan menangis kepada Ayah saja agar sehat jiwanya, agar Ibu bisa selalu memberikan bunga cinta utk anak-anaknya.

Ibu yg sehat jiwanya dapat menjalankan tugasnya sebagai sekolah terbaik bagi putra-putri nya. Ia bisa tahan berjam-jam mendengar keluhan anak2nya. Ia mudah memaafkan anaknya. Ia menjadi madrasah yg baik utk menanamkan nilai-nilai Robbany..., dan hal ini harus didukung oleh ayah yg memperhatikan bathinnya, disamping kesehatan fisiknya. Ibu harus sehat luar dalam.

Ayah yg hebat, berawal dari suami yg hebat, yg mengerti jiwa dan kebutuhan pasangan. Singkatnya, bahagiakan pasangan kita, krn ia adalah madrasah utama bagi anak-anak kita.

Sumber: Twitter @ajobendri

Mengenal dan memahami perbedaan otak pria dan wanita

๐Ÿ‘ถ๐Ÿ‘ฆ๐Ÿ‘ง๐Ÿ‘ด๐Ÿ‘ต๐Ÿ‘ฉ๐Ÿ‘จ๐Ÿ‘ถ
Fakta menarik tentang otak serta perbedaan antara laki-laki dan perempuan
๐Ÿ‘ถ๐Ÿ‘ฆ๐Ÿ‘ง๐Ÿ‘จ๐Ÿ‘ฉ๐Ÿ‘ด๐Ÿ‘ต๐Ÿ‘ถ

Seminar yang diadakan komite SDIT Darul Quran Mulia Serpong itu bertajuk
"Mengenal dan memahami perbedaan otak pria dan wanita."

Dalam benak saya sudah terbayang cerebrum, otak kecil, amygdala atau istilah biologis lainnya. Dan wow…ternyata saya salah besar! dr. Aisyah Dahlan membungkus apik materi dan menyuguhkan fakta baru yang unik. Cerdas dan humoris, tak heran para peserta betah berlama-lama duduk hingga akhir acara. Karena saya datang agak terlambat mungkin banyak materi pembuka yang terlewat. Sambil momong si kecil, kurang lebih seperti ini beberapa point yang bisa saya sampaikan.

1. Anatomi cerdas
Di dalam cerdas ada banyak pintar yang saling terhubung. Maka tak bisa dikatakan cerdas jika seseorang bisa dengan mudah menyelesaikan soal trigonometri tetapi tak bisa membuat telor ceplok atau mie instan (Lhoh??). Tenang, cerdas ini bisa dilatih kok, misalnya dengan banyak belajar sering latihan, jalan-jalan dan silaturahim.

2. Otak kiri mengatur bagian tubuh sebelah kanan, bekerja untuk mengingat kata-kata, matematika, verbal, logis, fakta, analisa, syair, nyanyian, lineal, detail dan lebih teratur. Sedang otak kanan cenderung kepada kreatif, warna,artistik, visualisasi, intuisi, gagasan, khayalan, holistik, music, bentuk dan ruang.

3. Otak kiri pada perempuan berkembang lebih cepat daripada laki-laki
Pada usia 0-6 tahun otak kanan dan kiri perempuan tumbuh dengan kecepatan yang berimbang. Sedangkan pada laki-laki otak kanan berkembang lebih cepat daripada perempuan. Meski demikian, otak kanan laki-laki berkembang lebih cepat daripada otak kiri perempuan.. Tak heran jika pada usia sekolah banyak perempuan mendapat ranking di kelasnya, lebih cepat kemampuan membaca dan menulisnya. Anak laki-laki yang mungkin merasa kurang dalam lisan, kesenian dan matematika merasa terintimidasi dan akhirnya lebih senang membuat kekacauan dan keributan. Semoga dengan mengetahui fakta ini bunda lebih bisa memahami anak laki-lakinya dan tidak membedakan dengan saudara perempuannya.

4. Pada usia 6-12 tahun otak kanan dan kiri laki-laki akan mulai berkembang dan baru berkembang beriringan menginjak usia 18 tahun. Pada usia itulah laki-laki akan menduduki posisi penting semisal ketua senat, ketua BEM, memimpin orasi dan lain sebagainya. Sedang perempuan akan kembali ke fitrah yakni menjadi seksi konsumsi, bendahara, sekretaris, dan sebagainya. Mungkin inilah yang menjadi alasan mengapa di beberapa negara di luar negeri anak laki-laki dan perempuan belajar di tempat terpisah. Anak laki-laki akan belajar dengan praktik secara langsung menggunakan komputer, robotic, dll sedang anak perempuan akan cukup meski belajar hanya dengan kertas dan buku.

5. Otak perempuan terhubung lebih baik dan otak pria dibuat untuk pekerjaan khusus.
DR. Rober Groski, ahli neurologi dari Universitas California, Los Angeles menemukan bahwa corpus collosum pada otak perempuan lebih tebal daripada laki-laki sehingga perempuan mampu mengerjakan berbagai pekerjaan yang tidak saling berhubungan dalam satu waktu. Kita sering menyebutnya multitasking. Maka wajar jika seorang ibu bisa saja menggoreng tempe sambil menyuapi si kecil dan menemani kakak belajar sembali sesekali melirik smart phonenya. Berbeda dengan laki-laki yang hanya bisa menekuni satu hal. Dan ketika ia sedang berkonsentrasi, tanpa disadari pendengaranya akan menurun. Menurun ya, bukan berkurang. Jika anak laki-laki atau suami bunda tak menyahut panggilan ketika ia sedang serius maka saatnya bunda bilang, “Wow…laki banget!” hehe. Stop memanggil berulang-ulang karena hanya akan menghabiskan energi. Datangi dan colek bahunya saja mungkin lebih efektif. Mungkin hal ini berkaitan pula dengan sudut pandang. Perempuan memliki sudut pandang yang lebar sedang laki-laki bersudut pandang lurus namun panjang.

6. Letak emosi
Pada laki-laki umumnya terletak di sebelah kanan yang berarti perasaan dapat bekerja secara terpisah dari fungsi-fungsi otak yang lain. Contoh laki-laki berdebat dengan kata-kata di otak kiri tanpa emosional. Pada perempuan, titik emosi tersebar pada kedua belahan otak. Perasaannya menjadi lebih aktif serempak bersama dengan fungsi otak lain. Contoh : perempuan bisa menangis ketika mengganti ban yang kempes

7. Otak kanan perempuan tersusun untuk bereaksi dengan orang dan wajah-wajah sedang otak laki-laki pada benda dan bentuknya. Jika suami lebih senang mengotak-atik laptopnya ketimbang melihat wajah anda, bukan berarti wajah anda tidak cantik bund! (menghibur diri dan curhat, hehe).

8. Cara menyimak laki-laki dan perempuan
Di sepuluh menit pertama, perempuan bisa berkali-kali berubah ekkspresi. Contoh ketika secara tak sengaja bertemu dengan teman sekolahnya di pusat perbelanjaan. Pasti sangat hebring dengan ucapan semisal “Ehh Apa kabar??” “Ah Masa sih??”” Iya gitu??” “Hihi bisa aja jeng” dan ucapan yang senada diikuti dengan mimik serta gestur yang berubah-ubah pula. Laki-laki cenderung datar dan kurang ekspresif. Maka lebih bijak bagi para bunda untuk menunggu selama 10 menit sebelum mengajak suami mengobrol sepulang kerja.

9. Perempuan menginginkan hubungan dan kerjasama laki-laki menginginkan kekuasaaan kedudukan dan bersaing.
Pernahkan anda melihat seorang laki-laki dalam suatu seminar berkata pada temannya, “Ke kamar mandi yuk..!” hoho pasti tidak. Laki-laki akan fokus, ke kamar mandi ya ke kamar mandi. Perempuan yang memang menyukai hubungan biasanya mengajak temannya pergi ke toilet. Belum kalau sedang mengantri, melihat teman sebaya yang juga sedang mengantri di sebelah pasti tak tahan untuk bilang, “dari mana mbak?” :-D

10. Wanita menghargai hubungan dan laki-laki menghargai pekerjaan
Jika wanita tidak bahagia dalam hubungan keluarga maka ia tak dapat berkonsentrasi pada pekerjaannya, sebaliknya laki-laki tidak dapat memusatkan perhatiannya pada keluarganya jika ia tak bahagia dalam pekerjaannya

11. Beberapa perbedaan laki-laki dan perempuan
- Laki-laki lebih suka berterus terang sedang perempuan tidak. Contoh : “Bunda marah ya?” “Enggak!”
- Laki-laki bicara apa adanya, perempuan dengan perasaan
- Bila curhat, perempuan hanya ingin di dengar, laki-laki menawarkan solusi
- Perempuan mungkin kesulitan membaca peta atau petunjuk jalan, laki-laki tahu arah dengan pasti
- Berbelanja adalah kegembiraan bagi wanita namun sebuah teror bagi laki-laki
- Perempuan butuh bicara jika tertekan sedang laki-laki tidak

Itulah perbedaan mendasar antara laki-laki dan perempuan. Allah jadikan berbeda untuk saling melengkapi agar tercipta sakinah mawaddah warahmah.
๐Ÿ‘ถ๐Ÿ‘ฆ๐Ÿ‘ง๐Ÿ‘จ๐Ÿ‘ฉ๐Ÿ‘ด๐Ÿ‘ต๐Ÿ‘ถ

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS 30:21)

Kutipan Seminar di SDIT Darul Qur'an mulia
Narasumber: dr. Aisyah Dahlan

Saturday, March 26, 2016

Resume Buku tentang Konsumsi Islami (8) Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam

Mustafa Edwin Nasution, M.Sc., MAEP, Ph.D., Ir. Budi Setyanto, M.Si., Nurul Huda, SE., MM., M.Si., Muhammad Arief Mufraeni, Lc., M.Si., Bey Sapta Utama, SE., M.Si. menulis Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam (2010). Buku ini merupakan buku teks ekonomi Islam.

Perilaku konsumsi Islami berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan Hadits perlu didasarkan atas rasionalitas yang disempurnakan yang mengintegrasikan keyakinan kepada kebenaran yang melampaui rasionalitas manusia yang sangat terbatas ini.(60)
Akibat dari rasionalitas konsumsi yang lebih mendukung individualisme dan self interest, maka keseimbangan umum tidak dapat dicapai. Yang terjadi adalah munculnya berbagai ketimpangan dalam berbagai persoalan sosioekonomi. Untuk itu perlu menginjeksikan nilai-nilai (values) dalam sektor konsumsi sehingga tidak membahayakan bagi keselamatan manusia itu sendiri.(61)
Konsep an-nafs al-muthmainah. Jiwa yang tenang ini tentu saja tidak berarti jiwa yang mengabaikan tuntutan aspek material dari kehidupan. Tentu saja ia tetap memerlukan semua pemenuhan kebutuhan fisiologis jasmani termasuk juga kenyamanan-kenyamanan (comforts). Pemuasan kebutuhan harus dibarengi dengan adanya kekuatan moral, ketiadaan tekanan batin (tension) dan adanya keharmonisan hubungan antar sesama manusia dalam sebuah masyarakat. Disinilah perlu diinjeksikan sikap hidup peduli kepada nasib orang lain (al-iitsar). Sikap ini tentu akan meniadakan berbagai varian dari pola konsumsi materialistis seperti conspicuous consumption. Konsumsi model ini secara agama tidak mendapatkan dasar pijakan dan secara ekonomi berbahaya karena hanya menguras devisa negara dan secara sosial merenggangkan keharmonisan hidup bermasyarakat.

Konsep Maslahah dalam Perilaku Konsumen Islami
Maslahah adalah sifat atau kemampuan barang dan jasa yang mendukung elemen-elemen dan tujuan dasar dari kehidupan manusia di muka bumi ini.(62) Semua aktivitas yang memiliki maslahah bagi umat manusia, disebut “needs” atau kebutuhan. Dan semua kebutuhan ini harus dipenuhi.
Mencukupi kebutuhan –dan bukan memenuhi kepuasan / keinginan- adalah tujuan dari aktivitas ekonomi
Mencukupi kebutuhan –dan bukan memenuhi kepuasan / keinginan- adalah tujuan dari aktivitas ekonomi
Mencukupi kebutuhan –dan bukan memenuhi kepuasan / keinginan- adalah tujuan dari aktivitas ekonomi Islami, dan usaha pencapaian tujuan itu adalah salah satu kewajiban dalam beragama.
Adapun sifat-sifat maslahah sebagai berikut:
- Maslahah bersifat subjektif dalam arti bahwa setiap individu menjadi hakin bagi masing-masing dalam menentukan apakah suatu perbuatan merupakan suatu maslahah atau bukan bagi dirinya. Namun, berbeda dengan konsep utility, kriteria maslahah telah ditetapkan oleh syariah dan sifatnya mengikat bagi semua individu. Misalnya, bila seseorang mempertimbangkan bunga bank memberi maslahah bagi diri dan usahanya, namun syariah telah menetapkan keharaman bunga bank, maka penilaian individu tersebut menjadi gugur.
- Maslahah orang per orang akan konsisten dengan maslahah orang banyak. Konsep ini sangat berbeda dengan konsep Pareto Optimum, yaitu keadaan optimal dimana seseorang tidak dapat meningkatkan tingkat kepuasan atau kesejahteraannya tanpa menyebabkan penurunan kepuasan atau kesejahteraan orang lain.
- Konsep maslahah mendasari semua aktivitas ekonomi dalam masyarakat, baik itu produksi, konsumsi, maupun dalam pertukaran dan distribusi.
Maslahah terbagi 2: 1) yang menyangkut kehidupan dunia dan akhirat, dan 2) yang menyangkut kehidupan akhirat saja.
Individu Islam memiliki 2 jenis pilihan:
1. Berapa bagian pendapatannya yang akan dialokasikan untuk maslahah1 dan maslahah2.
2. Bagaimana memilih didalam maslahah1: berapa bagian pendapatannya yang akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan dunia dan berapa bagian untuk kebutuhan akhirat.
Pada tingkat pendapatan tertentu
Penjelasan tingkatan maslahah(64)
Nasihat Abu Bakar untuk tidak menghabiskan bekal untuk beberapa hari dalam satu hari saja.
Nasihat Muawiyah “pengaturan belanja yang baik itu merupakan setengah usaha, dan dia dianggap sebagai setengah mata pencaharian”. Umat Islam dalam mencari harta sampai membelanjakannya tetap berpedoman bahwa itu semua merupakan bagian dari ibadah.
Konsumsi barang impor untuk kebutuhan dan barang mewah memperburuk neraca transaksi.
Islam memperkenalkan konsep israf dan tabzir. Islam membentuk jiwa dan pribadi yang beriman, bertakwa, bersyukur, dan menerima.(65)
Pola hidup konsumtivisme tidak pantas untuk pribadi yang beriman dan bertakwa. Gaya hidup yang cocok adalah simple living (hidup sederhana) dalam pengertian yang benar secara syar’i.
Pengeluaran rumah tangga muslim lebih mengutamakan kebutuhan pokok sehingga sesuai dengan tujuan syariat. Kebutuhan pokok ada 3:
1. Primer: nafkah pokok yang dapat mewujudkan 5 tujuan syariat yaitu memelihara jiwa, akal, agama, keturunan, dan kehormatan. Tanpa kebutuhan primer kehidupan manusia tidak akan berlangsung. Meliputi kebutuhan akan makan, minum, tempat tinggal, kesehatan, rasa aman, pengetahuan, dan pernikahan.
2. Sekunder: kebutuhan manusia untuk memudahkan kehidupan, agar terhindar dari kesulitan.
3. Pelengkap: kebutuhan yang dapat menciptakan kebaikan dan kesejahteraan dalam kehidupan manusia.
Ibu rumah tangga yang umumnya merupakan manajer rumah tangga, mesti disiplin dalam menempati skala prioritas kebutuhan tadi, sesuai dengan pendapatan yang diperoleh suaminya.
Jika sudah memenuhi semua kebutuhan, Islam tetap mengharamkan pengeluaran yang berlebih-lebihan dan terkesan mewah, karena dapat mendatangkan kerusakan dan kebinasaan. QS al-Israa ayat 16. (66)
Untuk mencegah gaya hidup mewah, pembelanjaan yang tidak mendatangkan manfaat materiil maupun spiritual diharamkan. Terutama untuk barang haram dan yang mengarah pada bid’ah dan kebiasaan buruk.
Tidak pula membuat kikir. Islam mengajarkan sikap pertengahan dalam mengeluarkan harta, tidak berlebihan dan tidak pula kikir. QS Al Furqan: 67 dan QS Al Israa: 29.
Pembagian rezeki telah ditentukan batasan, kadar, dan jenisnya.

Resume Buku tentang Konsumsi Islami (7) Ekonomi Rumah Tangga Muslim

Syahatah (1998) menjabarkan aturan bekerja dan berusaha, aturan pembelanjaan, dan aturan menyimpan dan menabung dalam rumah tangga muslim. Poin-poin didalamnya yang relevan dengan permasalahan konsumerisme adalah sebagai berikut: seimbang antara pendapatan dan pengeluaran, membelanjakan harta untuk kebaikan, mengutamakan pengeluaran untuk hal yang primer, menghindari pembelanjaan untuk barang mewah, menghindari pembelanjaan yang tidak disyariatkan, bersikap tengah-tengah dalam pembelanjaan, menyimpan kelebihan setelah kebutuhan primer terpenuhi, menyimpan kelebihan untuk menghadapi kesulitan, hak harta generasi mendatang, tidak menimbun harta, pengembangan harta harus dilakukan dengan baik dan halal, serta melatih anak bekerja.

Resume Buku tentang Konsumsi Islami (6) Maqashid Syariah

Nurizal Ismail (2014). Maqashid Syariah dalam Ekonomi Islam. Yogyakarta: Smart WR.

Definisi Harta (mal)

Secara etimologi, harta dalam Islam dikenal dengan kata mal, yang berarti condong, kecendrungan, dan kemiringan. Kecendrungan manusia untuk mencintai harta merupakan tabiatnya seperti yang dijelaskan dalam surah al-‘Adiyat, 8: “Sesungguhnya manusia sangat cinta kepada harta”. Adapun secara terminologi beberapa ulama telah mendefinisikannya secara jelas dan lugas.
1. Menurut ulama Hanafiyyah, harta adalah sesuatu yang kecendrungan kepadanya tabiat manusia yang memungkinkan penyimpanannya untuk dipergunakan pada masa dibutuhkan.
2. Menurut ulama Malikiyyah, harta adalah sesuatu yang mengakibatkan atasnya kepemilikan, yang pemilik memisahkannya dari yang lainnya apabila mengambilnya dari tempatnya.
3. Menurut ulama Hanabilah, harta adalah sesuatu yang dibolehkan pemanfaatannya secara bebas atau di setiap keadaan apapun.
4. Menurut Jumhur ulama, harta adalah sesuatu yang mempunyai nilai materi diantara manusia, yang dibolehkan pemanfaatannya secara syariah dalam keadaan lapang dan ada pilihan, bukan dalam keadaan sempit dan bahaya.

Dari beberapa definisi dapat diambil kesimpulan bahwa harta adalah sesuatu yang mempunyai nilai materi yang dapat dimiliki, dimanfaatkan dan disimpan menurut ketentuan-ketentuan syariah Islam. Harta yang dimaksudkan dengan dapat dimiliki adalah bahwa harta itu harus dicari oleh manusia dengan bekerja, berdagang atau memberikan jasa kepada orang lain. Sedang yang dimaksud dengan sesuatu yang dapat dimanfaatkan adalah harta yang dapat digunakan manusia untuk kehidupannya seperti untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekundernya. Adapun yang dimaksudkan dengan dapat disimpan adalah harta yang dapat digunakan untuk kebutuhan akan datang dengan cara menyimpannya baik dalam bentuk tabungan atau investasi.

Hakikat Harta dalam Islam

Dari definisi diatas menjelaskan bahwa harta mempunyai posisi penting dalam kehidupan manusia. Untuk mendapatkannya manusia perlu bekerja dan yang selanjutnya dimanfaatkan untuk saat ini maupun untuk masa depannya. Tahapan seperti ini sudah banyak diketahui oleh kita sebagai manusia, tetapi terkadang kita terlupa apa sebenarnya hakikat harta dalam kehidupan manusia. Dalam Islam, ada beberapa poin-poin penting tentang harta yang harus benar-benar dapat dipahami maknanya secara mendalam.

1. Harta mutlak milik Allah SWT
Di dalam al-Qur’an telah banyak dijelaskan bahwa Allah SWT adalah pemilik mutlak seluruh kekayaan yang ada di langit maupun di bumi. Dijelaskan dalam Surah al-Maidah, 120: “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada didalamnya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Selanjutnya, manusia sebagai khalifah Allah SWT diberikan hak untuk memanfaatkannya dengan penuh amanah. Menurut Rodney Wilson, basis kepemilikan harta dalam Islam adalah kepemilikan dengan amanah (ownership by trusteeship), dengan Allah SWT sebagai pemilik mutlak kekayaan dan Manusia sebagai wakil-Nya di bumi ini. Karena harta sebagai amanah, maka manusia sebagai pemegang amanah tersebut akan mempertanggungjawabkan di akhirat nanti. Dalam sebuah riwayat Abu Daud, Rasulullah bersabda: “Seseorang pada hari akhir nanti pasti akan ditanya tentang empat hal: usianya untuk apa dihabiskan, jasmaninya untuk apa dipergunakan, hartanya darimana didapatkan dan untuk apa dipergunakan, serta ilmunya untuk apa dipergunakan.”
2. Harta sebagai nikmat Allah SWT
Harta yang diberikan sebagai amanah adalah sebuah nikmat yang patut disyukuri oleh manusia. Para ulama dahulu telah banyak berbicara tentang nikmat. Nikmat menurut Imam Ghazali terbagi menjadi 2, yaitu nikmat yang mutlak dalam segala keadaan dan nikmat yang muqayyad dalam segala keadaan. Kategori pertama seperti kebahagiaan akhirat dan keimanan. Sedangkan yang kedua kebanyakan berhubungan dengan kebahagiaan harta benda. Ibnu Qayim al-Jauziyah membaginya menjadi 3 macam, yaitu: 1) nikmat yang sedang di tangan; 2) nikmat yang diharapkan datangnya; dan 3) nikmat yang tidak disadari. Nikmat yang pertama adalah nikmat yang sedang dinikmati semasa hidup seperti harta, kesehatan, kedudukan, dan sebagainya. Bentuk yang kedua seperti kenaikan pangkat dan gaji, sukses dalam ilmu, perdagangan dan usaha. Yang terakhir adalah nikmat tubuh yang diberikan kepada kita yang sampai pada saat ini masih dapat digerakkan.
Nikmat adalah sesuatu yang halal dan baik yang diberikan oleh Allah SWT, sebagaimana yang dijelaskan dalam Surah al-Baqarah, 168: “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagimu.” Namun ketika nikmat harta yang dianugrahkanNya tidak disyukuri oleh hambanya bahkan malah mengingkarinya, maka azab Allah sangat pedih, sebagaimana di dalam firmanNya dalam Surah Ibrahim, 14: “dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku".
3. Harta sebagai pilar utama dakwah
Harta atau kekayaan yang dimiliki oleh manusia diharapkan dapat digunakan untuk jalan dakwah, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW, sahabat-sahabat, dan tabi’in. Di masa Rasulullah SAW, sahabatnya Abu Bakar as-Siddiq rela mengorbankan hampir semua kekayaannya untuk mempertahankan Islam dan orang-orang miskin yang pada masa itu Islam masih mendapat ancaman dari pihak-pihak yang tidak menginginkan kedatangan Islam.
4. Harta sebagai ladang amal di akhirat nanti
Dalam Islam, manusia tidak hanya hidup di dunia saja, melainkan akan menghadapi kehidupan yang kekal di akhirat nanti. Namun, hal tersebut banyak dilupakan oleh sebagian manusia. Padahal kita telah diperintahkan untuk mencapai pahala akhirat dari apa yang telah dianugerahkan Allah sebagaimana firmanNya dalam Surah al-Qashash, 77: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Dari ayat ini sangat jelas bahwa segala kekayaan yang telah dianugerahkan kepada kita adalah ladang untuk mendapatkan pahala di akhirat nanti. Kekayaan atau harta yang kita dapat dan kemudian kita gunakan adalah untuk mencapai falah (kesuksesan dunia dan akhirat). Kompensasi pahala tersebut dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad SAW: ”Apabila anak Adam telah meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga perkara yakni: shadaqah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya dan anak yang shaleh yang mendoakan kedua orangtuanya (HR Muslim no 1631 dari Hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu). Ketiga perkara ini memerlukan harta untuk mendukungnya. Untuk memberikan shadaqah jariyah maka diperlukan kekayaan dengan cara bekerja. Begitu juga dengan ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang masuk dalam kategori pengeluaran pendidikan yang berasal dari kekayaan yang diterima oleh kita. Sungguh indah Islam menjelaskan hakikat harta yang digunakan manusia dalam rangka pemenuhan kebutuhannya dunia maupun akhirat. Jika semua mengerti secara mendalam arti dari harta tersebut niscaya keadilan di dunia dapat tercapai karena salah satu sumber permasalahan di dunia ini adalah ketimpangan kepemilikan harta yang beredar di antara manusia.

2. Perintah untuk Membelanjakan Harta

Di samping Allah SWT menganjurkan manusia untuk bekerja, Allah SWT juga memerintahkannya untuk membelanjakan kekayaan yang dimilikinya pada jalan Allah yang memberikan manfaat kepada dirinya, keluarganya dan orang lain. Islam menjelaskan secara terperinci langkah-langkah dalam membelanjakan harta. Langkah pertama dalam pembelanjaan kekayaan dengan tidak berbuat boros (mubazir) sebagaimana yang terdapat pada Surah al-Furqan, 67: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” Bahkan orang-orang yang berlaku boros diumpamakan sebagai saudaranya syaitan sebagaimana ditegaskan pada Surah al-Isra, 26-27: “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”
Langkah kedua adalah membelanjakan hartanya untuk membantu orang-orang yang memang memerlukannya seperti orang-orang fakir dan miskin dengan memberikan sedekah, infak, zakat dan wakaf. Pada harta yang kaya itu ada hak bagi orang-orang yang miskin. Hal ini disebut dalam Surah al-Maarij, 24-25: “dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta),”. Kemudian dianjurkan pemberian tersebut dilakukan kepada kerabat-kerabat terdekat dahulu yang lebih memerlukan dan selanjutnya kepada yang lainnya sebagaimana yang disebutkan dalam Surah al-Isra, 26: “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.”
Langkah ketiga adalah melakukan persiapan-persiapan untuk masa depan karena manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang diperolehnya esok, namun demikian mereka diwajibkan berusaha, Allah SWT dalam Surah Lukman, 34 berfirman: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Melakukan penyimpanan (saving) harta adalah salah bentuk usaha pembelanjaan atau konsumsi yang akan digunakan pada masa akan datang. Nabi Yusuf as telah memerintahkan raja untuk melakukan penyimpanan (saving) untuk menghadapi masa paceklik yang sangat sulit berdasarkan mimpi sang raja mengenai 7 ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh 7 ekor sapi betina yang kurus dan 7 tangkai gandum yang hijau dan kering. Kisah ini berdasarkan pada Surah Yusuf, 47-48: “Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.”

5.3. Prinsip-prinsip Dasar Konsumsi

Konsumsi yang sehat dan layak tidak hanya akan menjamin kelangsungan pembangunan yang akan menguntungkan generasi yang akan datang, tetapi juga mencegah kecendrungan inflasi. Islam telah mengatur aturan-aturan yang jelas mengenai konsumsi ini, yang optimal dan menghindari kerugian (mafsadah) bagi dirinya maupun orang lain. Dalam mencapai tujuan-tujuan konsumsi tersebut, perlunya pengetahuan akan prinsip-prinsip dasar konsumsi dalam Islam, yaitu:
1. Prinsip Halal
Seorang Muslim dianjurkan untuk makan hanya makanan yang halal (halal dan diijinkan) dan tidak mengambil apa yang haram (melanggar hukum dan dilarang). Al-Quran mengatakan: “Makanlah dari apa yang Allah telah berikan pada Anda sebagai makanan halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah di dalam Dia kamu percaya..” (Al-Maidah: 88). Pada ayat lain disebutkan tentang larangan barang haram, sebagaimana firman Allah: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya…” (Al-Maidah: 3). Prinsip halal dan haram juga berlaku untuk jenis-jenis pengeluaran selain makanan. Para pengikut Islam diharuskan untuk menghabiskan pendapatannya kepada sesuatu yang halal dan menjauhi sesuatu yang haram seperti anggur, narkotika, pelacur, perjudian, kemewahan, dll. Selain dari zatnya yang halal, maka prosesnya pun harus dilakukan dengan cara yang halal.
2. Prinsip kebersihan dan kebajikan
Dalam al-Quran banyak sekali ayat-ayat memerintahkan kepada manusia untuk melihat kepada kebersihan dan kebajikan dalam konsumsi. Firman Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepadaNya.” (Al-Baqarah: 172). Ayat ini menjelaskan dengan melakukan konsumsi dengan cara-cara yang baik merupakan suatu bentuk ketaatan kepada Allah SWT yang direalisasikan dalam syariat Islam. Sedang kata thayyibah menurut Yusuf Ali berarti hal yang baik (good thing), hal yang baik dan murni (good and pure thing) dan hal yang bersih dan murni (clean and pure thing). Karena Islam jelas memandang bahwa konsumsi terhadap sesuatu harus melihat aspek-aspek kebersihan, kebaikan dan kebajikan, sehingga dapat tercapai maslahatnya.
3. Prinsip moderat
Prinsip moderat berarti seseorang harus mengambil makanan dan minuman dengan menghindari kelebihan atau kekurangan dalam konsumsi. Dalam Surah al-a’raf, 31 berbunyi: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
Prinsip moderat ini berlaku tidak hanya pengeluaran konsumsi barang dan jasa, melainkan pengeluaran untuk charity, dan hubungan antara pengeluaran dan tabungan. Prinsip moderat ini sangat berhubungan dengan permasalahan ekonomi yaitu kelangkaan (scarcity) yang dihadapi oleh manusia. Karena itu tujuan dari prinsip moderasi adalah untuk menghindari terjadinya kelangkaan barang yang beredar di masyarakat. Penerapannya dapat direalisasikan dengan penghematan dalam konsumsi, yang bertujuan keseimbangan ekonomi. Menunaikan nafkah untuk diri sendiri dan keluarga, sosial dan kebutuhan masa akan datang.

Skala Prioritas Konsumsi dalam Tinjauan Maqashid Syariah
Dalam berkonsumsi seorang Muslim harus mempertimbangkan aspek-aspek yang membawa manfaat (maslahat) dan bukan kerugian (mafsadah). Hal ini berhubungan dengan kajian maqashid syariah yang terdiri dari dharuriyat, hajiyat, dan tahsiniyat. Dalam konsumsi, ketiga elemen ini merupakan skala prioritas yang harus dilakukan oleh manusia dalam konsumsi Dharuriyat merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh manusia, yaitu kebutuhan akan pemeliharaan agama, jiwa, keturunan, akal dan harta. Contoh-contoh kebutuhan dharuriyat dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Kebutuhan dalam menjaga agama seperti memperdalam ilmu keagamaan, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya.
2. Kebutuhan dalam menjaga jiwa seperti sandang, pangan, papan, eksistensi diri dan kesehatan.
3. Kebutuhan dalam menjaga keturunan seperti pengeluaran perkawinan dan keluarga.
4. Kebutuhan dalam menjaga akal seperti pengeluaran pendidikan.
5. Kebutuhan dalam menjaga harta seperti pengeluaran tabungan, investasi dan asuransi.
Sedang dalam hajiyat memberikan kemudahan-kemudahan dalam memenuhi kebutuhan manusia. Fungsi hajiyat adalah untuk menghilangkan kesempitan dan kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan dasar (dharuriyat) manusia. Contohnya, pengeluaran zakat, infak dan sedekah merupakan kebutuhan yang dapat merealisasikan aspek ritual (hifzh ad-din). Ketiga, tahsiniyat atau kamaliyat adalah segala sesuatu yang tujuan tidak untuk merealisasikan maqashid al-khamsah dan tahsiniyat melainkan untuk menjaga kehormatan dari maqashid al-khamsah itu sendiri. Pada tingkatan ini lebih difokuskan kepada etika manusia dalam berkonsumsi dengan landasan nilai-nilai Islam.
Beberapa ulama Islam dahulu telah memberikan penjelasan mengenai skala prioritas dalam konsumsi. Omar (2009) dalam tulisannya yang berjudul “Infaq Model based on Al-Shaybani’s Levels of al-Kasb”. Level pengeluaran berkesesuaian dengan konsep al-kasb nya Syaibani, yaitu: 1) Fard al-‘ayn, 2) Mandub, dan 3) Mubah. Pada tingkatan pertama, pengeluarannya mencakup kebutuhan dasar (untuk diri sendiri, anggota keluarganya dan orang tuanya), penyelesaian hutang dan tabungan. Tingkatan kedua dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan dasar dari kerabat dekat, tetangganya dalam bentuk bantuan. Adapun yang terakhir adalah pengeluaran di luar kerabat dekat yang diwujudkan dalam zakat, infaq, sedekah dan kebajikan-kebajikan yang lainnya. Dari pemikirannya dihasilkan model infaq secara umum yaitu: IQ = f ( Ifa + Imd + Imb). Maka Ifa adalah Fard al-‘ayn (kewajiban) Infaq, Imd adalah mandub (rekomendasi) infaq dan Imb adalah mubah (dibolehkan).
Ismail (2012) dalam tesisnya yang berjudul “Ibn Sina’s Economic Ideas” juga menyinggung tentang model infaq (pengeluaran) yang berasal dari pemikiran Ibnu Sina. Menurut Ibnu pengeluaran dibagi menjadi tiga. Pertama, infaq (pengeluaran) untuk manusia ittu sendiri dan keluarganya dengan tidak melakukan kekikiran, kelalaian dan pemborosan. Pengeluaran ini disebut dengan infaq ijtima’I atau ‘am.
Kedua infaq (pengeluaran) untuk pintu-pintu kebajikan (al-ma’ruf abwab), shodaqoh, dan zakat. Pengeluarannya disebut dengan infaq dini atau khas. Ketiga, al-iddikhar (tabungan) untuk kejadian-kejadian dimasa akan datang. Dari pemikirannya dihasilkan model infaq teori secara umum yaitu: IQ = f ( Ii + Id + Iid). Maka Ii adalah infaq ijtima’I, Id adalah infaq dini dan Iid adalah al-iddikhar.
Dapat disimpulkan bahwa infaq mewujudkan individu, sosial, material, dimensi spiritual, moral dan hukum dalam pengambilan keputusan dan perilaku pengeluaran individu. Tingkatan pemenuhan kebutuhan oleh Syaibani menjelaskan pentingnya skala prioritas yang didahului oleh suatu yang wajib, mandub, dan mubah. Begitu juga dengan pengeluaran model Ibnu Sina yang memprioritaskan pengeluaran diri sendiri dan kemudian dilanjutkan kepada pemenuhan pengeluaran karena agama dan tabungan masa depan. Keduanya mempunyai ide yang sama bahwa dalam melakukan konsumsi harus memperhatikan skala prioritas. Elemen-elemen pengeluaran ini selaras dengan elemen-elemen maqashid syariah yang lima, yang harus dipenuhi sebagai kebutuhan dasar dalam hidup. Kemudian juga hajiyat dan tahsiniyat yang menjadi pemeliharaan dan memperindah kebutuhan-kebutuhan dasar manusia. Karena itu dalam konsumsi Islam prioritas maslahat harus menjadi perhatian oleh manusia Muslim, sehingga tujuan-tujuan syariah (maqashid syariah) dapat dilaksanakan dengan baik dan benar.

Kesimpulan
Konsumsi merupakan pengeluaran yang didapat dari pendapatan yang diterima oleh seseorang. Pendapatan dapat diterima melalui banyak jalur seperti dengan pekerjaan, perdagangan atau warisan. Islam telah mengatur bagaimana seharusnya seorang muslim dalam memperoleh hartanya dan bagaimana mengeluarkannya. Hasil yang diterima dan dirasakan dari konsumsi adalah manfaat atau kegunaan dari barang dan jasa, yang dalam Islam dikenal dengan konsep maslahat (manfaat). Konsep ini berhubungan dengan konsep dasar maqashid syariah yang telah diasaskan oleh para ulama terdahulu. Beberapa pemikiran tentang yang dihasilkan oleh Syaibani dan Ibnu Sina juga menjelaskan tentang skala prioritas dalam konsumsi yang berkesesuaian dengan maqashid syariah.

Resume Buku tentang Konsumsi Islami (5) Pemikiran Ekonomi Ulama Klasik

Ikhwan Abidin Basri, MA yang menulis Menguak Pemikiran Ekonomi Ulama Klasik (2007).

Teori Konsumsi Menurut Imam As Syaibani
Ajaran Islam datang untuk mengubah gaya hidup (lifestyle) yang berlebihan, flamboyant, arogan, dan pamer menjadi sebuah gaya hidup yang sederhana, bersahaja dan zuhud. Gaya hidup yang ditawarkan oleh Islam ini tidak memungkinkan pelakunya mengekspolitasi sumber-sumber daya alam secara berlebihan dan mubazir.
Imam Muhammad bin Al Hasan Assyaibani membagi kebutuhan pokok fisik menjadi empat seraya menulis “Kemudian Allah menciptakan anak cucu Adam dengan suatu ciptaan di mana tubuh (fisik) mereka tidak akan dapat hidup kecuali dengan empat perkara yaitu makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal (rumah)”
Hirarki Konsumsi Menurut Imam As Syaibani
Secara global Imam Assyaibani nelihat tiga tingkatan dalam konsumsi. Dua tingkatan yang pertama memiliki rentang wilayah bawah dan atas. Artinya, pada tingkatan tersebut dimulai dari tingkat bawah kemudian naik ke atas.
Tingkatan konsumsi yang pertama adalah Al-Mutadanni. Tahapan ini dimulai dengan tingkat konsumsi sama dengan nol. Artinya tidak melakukan konsumsi apa-apa. Gaya hidup dengan kecenderungan konsumsi nol adalah bunuh diri dan haram hukumnya dalam Islam. Di samping itu Rasulullah juga bersabda bahwa sesungguhnya diri kita memiliki hak yang harus kita penuhi yaitu dengan memberinya makan dan minum agar dapat hidup dan menjalankan kewajiban ibadah. Diawali dengan kosumsi sama dengan nol , tahapan ini meningkat ke atas mencapai level sedikit di atas di mana konsumsi dilakukan hanya sebatas mengganjal perut dengan kadar yang memungkinkan orang melakukan ibadah dan ketaatan. Menurut beliau tahapan ini hukumnya fardhu ‘ain karena dengan memenuhi hak jasmani ini, individu dapat menjalankan ibadah meskipun dalam keadaan yang lemah. Karena itu maka individu masih dituntut untuk meningkatkan nutrisinya melebihi kadar sada arramq dengan menambahkan menu yang lebih tinggi lagi sehingga tingkat kesehatan dan kekuatan jasmaninya terjaga dengan baik. Namun wilayah konsumsi yang brada di atas level sad arramq bersifat sunnah, bukan fardhu ‘ain.
Tingkatan kedua dalam kategorisasi Imam Assyaibani adalah kecukupan (kifayah). Tahapan ini dimulai dari batas teratas tingkatan pertama dan berakhir pada derajat sarof. Dalam hal ini ada satu hal yang sangat menarik yaitu Imam Assyaibani secara tegas menentukan batas bawah dengan istilah yang diambil dari Alqur’an yaitu taqtir (kikir) batas bawah dan Sarof (berlebihan) pada batas atas. Keseluruhan wilayah tingkatan kedua ini hukumnya mubah. Sekalipun demikian, beliau sendiri cenderung mengutamakan pemenuhan tuntutan konsumsi pada batas bawah dari tingkatan kifayah. Inilah gaya hidup sederhana yang dicontohkan oleh para Nabi dan orang-orang sholeh. Dengan pola konsumsi seperti ini dapat dilihat bahwa fungsi konsumsi dalam model Imam Assyaibani merupakan bagian kecil dari keseluruhan pendapatan. Pola konsumsi ini juga sangat berbeda dari pola konvensional baik model Keynesian maupun lainnya seperti permanent income hypnothesis yang memperlihatkan porsi besar konsumsi dalam permintaan agregat.
Tingkatan konsumsi ketiga menurut Imam Assyaibani adalah Israf (berlebih-lebihan). Tingkatan ini dimulai dari ujung atas dari tingkatan kedua. Keseluruhan wilayah ini tidak diperbolehkan bagi hamba yang beriman dan yang menyerahkan dirinya kepada Allah. Pada masa itu gaya hidup berlebih-lebihan tampak dalam pola makan dan berpakaian. Karena itulah beliau menyoroti keduanya dengan sorotaan tajam. Sorotan ini merupakan kritikan beliau terhadap perilaku sebagian masyarakat yang dinilai telah menyimpang dari pola konsumsi yang Islami.
Gaya Hidup Sederhana Menurut Imam As Syaibani
Dalam menggambarkan fenomena Sarof (berlebih-lebihan dalam konsumsi) beliau menulis :
“Karena dengan makan berlebih-lebihan itu hanyalah untuk memenuhi manfaat dirinya sendiri padahal tidak ada gunanya sama sekali makan melebihi kenyang, justru malah berbahaya. Orang yang berbuat demikian seperti orang yang membuang makanan ke tempat sampah bahkan lebih buruk dari itu. Di samping itu, orang yang makan melebihi hajatnya pada hakekatnya ia telah menahan hak orang lain di dalamnya. Sekiranya ia berikan kelebihannya itu untuk orang laindengan gratis atau dengan imbalan, niscaya orang yang lapar akan dapat mengisi perutnya. Karena itu dengan menahannya, ia telah melanggar hak orang lain.”
Dengan demikian makan dan berpakaian berlebihan tidaklah dipandang hanya pada batas pribadi saja. Ia adalah aksi pribadi yang berdampak ekonomi dan sosial. Berdampak ekonomi karena mengakibatkan sumber daya mengalami mis-alokasi sehingga sebagian masyarakat mampu menikmatinya secara berlebihan dan tak terbatas, namun sebagian lainnya tidak kebagian sama sekali. Hal ini berhubungan dengan pemerataan dan distribusi pendapatan. Kedua, dalam sebuah perekonomian Islam, keharmonisan hubungan antar individu harus dipertahankan dengan cara di luar mekanisme pasar yang normal, misalnya dengan mendorong ZISWAF. Faktor-faktor redistribusi inilah yang sebenarnya hilang dari sistem kapitalisme, namun sangat dianjurkan dalam Islam.
Falsafah dan Urgensi Ekonomi Islam Menurut Imam Al Ghazali
Tujuan hidup seorang muslim adalah untuk menggapai keridhoan Allah dan mencapai keselamatan di akhirat. Sedangkan salah satu sarana dan media untuk mencapai tujuan tersebut adalah harta yang halal dan kegiatan ekonomi. Hakekat hubungan ini adalah hubungan antara sarana dan tujuan. (hlm 113)
Dalam pandangan Al Ghazali metode yang paling tepat untuk mencapai tujuan adalah menggunakan wasilah ini (harta dan semua kegiatan ekonomi) secukupnya saja (al-qodr al-kafi). Ini berarti bahwa dalam rangka melakukan aktivitas ekonomi untuk memakmurkan dunia manusia harus membatasi wasilahnya hanya pada batas-batas dhoruriyat saja. Penekanan ini terjadi karena dominasi sufisme dalam diri al Ghazali. (hlm 114)
Beliau hendak menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang amat erat antara ilmu (dan tentunya pendidikan secara umum) dengan masyarakat, dunia usaha, industri dan keterampilan dalam rangka mewujudkan suatu keseimbangan (equilibrium) global multidimensional. Hal ini penting untuk menegakkan kewibawaan umat dan mengendalikan arah peradaban supaya tidak melenceng ke arah materialisme seperti yang terjadi dalam falsafah kehidupan Barat modern. Ilmu-ilmu yang dikembangkan di barat dilandasi oleh falsafah materialisme anti Tuhan sehingga tidak membawa kepada keimanan, malahan mengajak kepada kekufuran dan atheisme. (hlm 116-117)
TEORI KONSUMSI (hlm 117-123)
Hakekat Konsumsi
Kebutuhan dan Keinginan
Tingkatan Konsumsi


Allamah Al Maqrizi
Inflasi dan Strata Sosial Masyarakat Mesir (hlm 166-168): pelajaran dari hiperinflasi di Mesir dan pembagian yang terkena dampak inflasi terburuk dan yang tidak merasakan dampak inflasi padahal pada hakikatnya purchasing power mereka menurun karena inflasi meningkat, tetapi karena memang nominalnya banyak tidak terlalu terasa.
Konsumerisme yang dimaksudkan dalam penelitian ini, yaitu jika mengkonsumsi melebihi kebutuhan dan banyak mengkonsumsi barang mewah menyebabkan harta beredar di kalangan tertentu saja (kalangan menengah keatas) dan meningkatkan inflasi dan pada akhirnya semua kalangan terkena dampaknya.