Wednesday, March 1, 2017

Motivasi: zona waktu

New York 3 jam lebih awal dari California, Tapi tidak berarti California lambat, atau New York cepat. Keduanya bekerja sesuai "Zona Waktu"nya masing-masing.

Seseorang masih sendiri. Seseorang menikah dan menunggu 10 tahun utk memiliki momongan. Ada juga yang memiliki momongan dalam setahun usia pernikahannya.

Seseorang lulus kuliah di usia 22th, tapi menunggu 5 tahun utk mendapatkan pekerjaan tetap; yang lainnya lulus di usia 27th dan langsung bekerja.

Seseorang menjadi CEO di usia 25 dan meninggal di usia 50 saat yg lain menjadi CEO di usia 50 dan hidup hingga usia 90th.

Setiap orang bekerja sesuai "Zona Waktu"nya masing-masing.

Seseorang bisa mencapai banyak hal dengan kecepatannya masing-masing.
Bekerjalah sesuai "Zona Waktu"mu.

Kolegamu, teman-teman, adik kelasmu mungkin "tampak" lebih maju. Mungkin yang lainnya "tampak" di belakangmu.

Setiap orang di dunia ini berlari di perlombaannya sendiri, jalurnya sendiri, dlm waktunya masing-masing. Allah punya rencana berbeda untuk masing-masing orang. Waktu berbeda utk setiap orang. Obama pensiun dr presiden di usia nya yg ke 55, dan Trump maju di usianya ke 70.

Jangan iri kepada mereka atau mengejeknya...

Itu "Zona Waktu" mereka.
Kamu pun berada di "Zona Waktu"mu sendiri!

Kamu tidak terlambat. Kamu tidak lebih cepat. Kamu sangat sangat tepat waktu! Tetaplah kejar keberkahan Allah…agar sampai pada muara kebahagiaan di surgaNya..

Kamu di "Zona Waktu"mu!

Semoga Allah selalu Ridho dengan segala aktivitas kita..amiin

Sumber: viral copas di grup wa, entah darimana sumber awalnya :D

Wednesday, February 8, 2017

Penelitian: Kuliah Umum Metolit Kualitatif

Kuliah Umum Pascasarjana STEI Tazkia
Penggunaan Metode Kualitatif untuk Penelitian Bidang Ekonomi Islam

Paradigma, dipahami dengan 4 hal: … (dalam file presentasi)

Positivisme identik dan cenderung dengan metode kuantitatif. 3 penelitian lain identic dengan kualitatif. Penelitian diusahakan menggambarkan keinginan sendiri, tetapi harus disertai dengan alasan yang ilmiah.

Positivisme: paradigma mainstream saat ini menggunakan realitas sosial yang obyektif, sudah biasa. Hakikat manusia adalah makhluk rasional yang mengetahui informasi dan dapat memutuskan sesuai informasi yang dimiliki. Ilmu pengetahuan dicari dengan prosedur ketat, contohnya harus prosedur sem. Dicari dengan deduktif, nomothetic, bebas nilai; nomothetic dapat disimpulkan, bebas nilai yaitu tanpa komentar negatif atau positif, hanya menyampaikan fakta.

Interpretivisme: realitas sosial subyektif. Manusia yang menciptakan dunia dan memberikan maknanya sendiri. Ilmu pengetahuan lokal tidak dapat digeneralisir, tidak bebas nilai, menemukan makna. Tidak bisa digunakan untuk mewakili, memprediksi, dsb. Realitas hanya mengukur yang fisik dan psikologis yang dapat diukur.

Kritikal: realitas sosial obyektif dan subyektif. Contoh kritikal adalah feminism. Paradigma ini berasal dari ketidakadilan dan mengkritisi.

Posmodernisme: realitas konstruktif. Contoh judul dekonstruksi pemikiran x mengenai sesuatu. Teori, penjelasan, dsb dikritisi. Contoh penggunaan skala likert peluncuran minuman jenis baru pada orang2 dengan budaya yang tidak berani menolak secara terus terang. Posmodernisme menembus batas: contohnya mengkritisi istilah akuntansi menggunakan sudut pandang linguistic ditambah dengan psikologis atas Bahasa.

Metaparadigma: ketika melakukan penelitian kuantitatif, gunakan sudut pandang kuantitatif. Ketika melakukan penelitian kualitatif, gunakan sudut pandang kualitatif. Pengklasifikasian harus disertai penjelasan yang memadai.

Ekonomi positif: apa adanya. Ekonomi normatif: yang seharusnya. Tindakan ekonomi juga harus dilakukan dengan art.
Studi Islam terdiri dari teologik, interdisipliner, integrasi wahyu dan ilmu.
Ekonomi Islam seharusnya bagian dari ilmu yang merupakan integrasi wahyu dan ilmu.
Kebenaran yang dihasilkan adalah kebenaran manusia yang berusaha mendekati kebenaran absolut walaupun tidak akan pernah mampu dicapai.
Kuantitatif: banyak tapi tidak dalam. Kualitatif sedikit tapi mendalam. Penelitian ilmiah kualitatif tetap harus menyampaikan dan menyajikan fakta tanpa komentar yang menggeneralisir. Mixed method dibolehkan. Kuantitatif detil di proposal, sudah ada jawaban sementara. Sementara di kualitatif, sebaiknya menghindari hipotesa dan usahakan melakukan wawancara secara tidak terstruktur tetapi dengan tujuan untuk menggali fakta yang sebenar-benarnya. Tidak ada hipotesa agar dapat membuka pandangan terhadap penemuan baru.
Penelitian pustaka: pada skripsi, tesis, dan stand alone literature. Contoh menggambarkan dan membandingkan fenomena sosial di suatu wilayah tertentu.
Contoh penelitian ekonomi Islam: perilaku produksi, perilaku konsumsi, distribusi kesejahteraan, perilaku bisnis, lembaga keuangan perbankan.
Paradigma dan etika ekonomi Islam: kesatuan (unity, tauhid), keseimbangan (equilibrium, adl), kebebasan (free will, khalifah), tanggung jawab.

Dr. Asfi Manzilati, SE., ME.