Saturday, March 6, 2010

Teori Produksi Islami

Pendahuluan

Pembahasan teori produksi berkaitan erat dengan pembahasan mengenai perilaku perusahaan dalam membeli input dan menggunakannya untuk produksi serta mendistribusikan kepada konsumen, serta cara untuk memaksimalkan keuntungan maupun mengoptimalkan efisiensi produksinya. Oleh karena itu materi dalam makalah ini sangat berkaitan dengan pembahasan teori penawaran dan teori permintaan baik secara konvensional maupun Islami. Kemudian setelah membahas teori produksi dapat dilanjutkan dengan membahas proses selanjutnya dalam siklus ekonomi yaitu proses distribusi dan konsumsi.
Tingkat kesejahteraan suatu kaum diukur dari tingkat produktifitasnya bukan dari tingkat konsumsinya. Hal ini sejalan dengan perintah Allah SWT dan anjuran Nabi SAW bahwa manusia tidaklah sama dengan makhluk lainnya, manusia harus bisa merubah nasibnya sendiri dengan selalu berikhtiar dan berdoa.

Daftar Isi

Pendahuluan
Daftar Isi
Teori Produksi Islami
A. Definisi produksi
B. Tujuan dan Motivasi Produksi
C. Cakupan Teori Produksi
D. Fungsi Produksi
D.1. Produk total, produk rata-rata dan marjinal
D.2. Fungsi produksi dengan dua input variabel
E. Analisis Biaya
E.1. Analisis biaya jangka pendek
E.2. Analisis biaya jangka panjang
E.3. Dampak sistem bunga VS bagi hasil dalam analisis biaya
E.4 Memaksimalkan keuntungan
F. Kesimpulan
Daftar Pustaka

Teori Produksi Islami

A. Definisi Produksi

a. Menurut teori produksi konvensional :
Produksi adalah usaha untuk menciptakan atau menambah faedah ekonomi suatu benda dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sedangkan orang, badan usaha, atau organisasi yang menghasilkan barang dan jasa disebut produsen. teori produksi ditujukan untuk memberikan pemahaman tentang perilaku perusahaan dalam membeli dan menggunakan input untuk proses produksi dan menjual output.

b. Sedangkan menurut teori produksi Islami :
Produksi adalah usaha manusia untuk mengelola dan mengubah sumber-sumber daya yang tersedia agar mempunyai nilai manfaat (utility) yang lebih tinggi , tanpa membahayakan diri seseorang atau sekelompok orang, lingkungan, serta masih dalam koridor halal dan mubah. Dalil yang berhubungan dengan proses produksi adalah : “Nabi Saw telah membuat cincin.” (HR. Imam Bukhari), “Rasulullah Saw telah mengutus kepada seorang wanita, (kata beliau): Perintahkan anakmu si tukang kayu itu untuk membuatkan sandaran tempat dudukku, sehingga aku bisa duduk di atsnya.” (HR. Imam Bukhari). Sedangkan dalil yang berhubungan dengan kemanfaatan yang disyaratkan dalam proses produksi adalah QS. Al-Baqarah [2]: 219 yang menjelaskan tentang pertanyaan dari manfaat memakai (memproduksi) khamr.

B. Tujuan dan Motivasi Produksi

Tujuan adalah alasan mengapa seseorang / suatu lembaga melakukan sesuatu, sesuatu yang ingin dicapai seseorang / suatu lembaga dengan melakukan suatu kegiatan.
Motivasi adalah keinginan untuk melakukan sesuatu dan motivasi dibentuk oleh kemampuan suatu kegiatan untuk memenuhi beberapa kebutuhan bagi yang mengerjakannya.

a. Dilihat dari sudut pandang konvensional :
Kebutuhan manusia ada 5 tingkat yang tidak akan akan berusaha dipenuhi secara berurutan dalam arti, seorang manusia tidak akan berusaha memenuhi tingkat kedua jika tingkat pertama belum dipenuhi dan seterusnya. Adapun kebutuhan manusia tersebut adalah kebutuhan : (1) fisik, (2) rasa aman, (3) sosial, (4) pengakuan atas kemampuan diri, (5) kebutuhan mengekspresikan diri dengan semaksimal mungkin. Kebutuhan-kebutuhan inilah yang berusaha dipenuhi oleh individu pelaku produksi. Sedangkan dalam suatu perusahaan, yang menjadi tujuan utama perusahaan melakukan proses produksi hanya : menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi pelaku produksi (produsen).
Sedangkan tujuan-tujuan lainnya seperti : kewajiban sosial dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, memberikan kontribusi kepada negara melalui pajak, meningkatkan kemampuan pelaku produksi, dll hanya merupakan tujuan pelengkap dari proses produksi konvensional, dalam arti semua tujuan-tujuan tersebut dilakukan tidak lain hanya dalam rangka menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya.
Dapat disimpulkan bahwa tujuan produksi konvensional merupakan turunan dari tujuan ekonomi konvensional secara umum yaitu profit oriented.

b. Dilihat dari sudut pandang Islami :
Sedangkan tujuan produksi islami merupakan turunan dari tujuan ekonomi islami secara umum yaitu profit and falah oriented, lebih jelasnya selain mencari keuntungan dunia (profit) juga mencari keuntungan akhirat (falah). Sehingga dapat di jabarkan mengenai tujuan produksi dari sudut pandang islami sebagai berikut :
- Menghasilkan keuntungan sebesar mungkin tanpa melanggar aturan-aturan syariah. Karena Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai kefaqiran adalah dekat dengan kekufuran yang menjadi awal kekafiran.
- Memenuhi kebutuhan individu dan keluarga.

“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu...” (QS At-Thalaaq (65) ayat 6)
- Menciptakan kemandirian umat, sehingga tidak tergantung pihak ketiga yang dapat merugikan masyarakat itu sendiri.
- Melindungi harta dan mengembangkan harta tersebut. Karena dalam Islam, suatu sumber daya yang tidak dimanfaatkan dapat dianggap mubazir dan harus dikeluarkan zakat atasnya.
- Memanfaatkan sumber-sumber ekonomi, dalam kaitannya dengan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi. Seperti yang disebutkan dalam QS Al-Jumu’ah (62) ayat 10 :

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”
- Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam hal mengelola sumber daya. Karena kemajuan suatu bangsa dapat diukur bukan dari tingkat konsumsi tetapi dari tingkat produktifitasnya. Yang menjiwai poin ini adalah hadits nabi yang berisi tentang sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain.
- Sebagai suatu bentuk ibadah yang bertujuan meraih keridhoan Allah. Karena berusaha memenuhi kebutuhan baik individu, masyarakat, maupun umat adalah merupakan kewajiban sosial (fardhu kifayah).

C. Cakupan Teori Produksi

- Cakupan teori produksi konvensional hanya berisi soal teknis bagaimana cara memproduksi dan bagaimana memperhitungkan biaya-biaya dalam rangka menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari proses produksi itu sendiri.
- Sedangkan teori produksi Islami selain berisi soal teknis pengambilan keputusan untuk proses produksi juga berisi motivasi produksi berdasarkan agama Islam, juga dalam memproduksi sangat memperhatikan hak-hak orang lain.

D. Fungsi Produksi

- Fungsi produksi ialah hubungan antara input yang digunakan dalam proses produksi dengan kuantitas output yang dihasilkan.
- Faktor yang mempengaruhi fungsi produksi diantaranya : jumlah dan kemampuan tenaga kerja, modal untuk membiayai input, teknologi yang digunakan dalam proses produksi, harga output produksi di pasaran, dll.
- Rumus untuk menghitung fungsi produksi adalah :
Q = f (Xa1,Xb1,Xc1,...,Xn)
Q = jumlah output
f = fungsi matematika
Xa1,Xb1,Xc1,...,Xn = jumlah kombinasi input
Jika diasumsikan input yang digunakan adalah K (modal) dan L (tenaga kerja) maka rumus yang digunakan adalah :
Q = f (K,L)

D.1. Produk total, produk rata-rata dan marjinal
1. Total Product (TP) = produk total yaitu jumlah total output yang diproduksi selama periode waktu tertentu.
2. Average Product (AP) = produk rata-rata yaitu produk total (TP) dibagi jumlah unit faktor variabel yang digunakan untuk memproduksinya (X).
AP = TP / X
3. Marginal Product (MP) = produk marjinal yaitu perubahan dalam produk total (TP) sebagai akibat satu unit tambahan penggunaan variabel (X).
Contoh perhitungan dapat ditemukan pada tabel berikut ini:
Input (unit) Produk total Penambahan jumlah produksi per penambahan satu unit input variabel Produk marjinal Produk rata-rata
0 0 - 14 14
1 23 23 31 23
2 60 37 42 30
3 105 45 47 35
4 152 47 46 38
5 195 43 39 39
6 228 33 26 38
7 245 17 7 35
8 240 -5 -18 30
9 207 -33 -49 23
10 140 -67 -86 14
The law of diminishing marginal return (hukum hasil marjinal yang semakin menurun) adalah suatu keadaan dimana penambahan satu unit input menghasilkan penambahan output yang jumlahnya semakin menurun dari penambahan satu unit input yang sebelumnya. Pada contoh diatas hal ini terjadi pada jumlah input sebesar 5 unit, dengan hasil penambahan output sebanyak 43 unit sedangkan pada jumlah input 4 unit penambahan output yang dihasilkan sebanyak 47 unit.

D.2. Fungsi produksi dengan dua input variabel

E. Analisis Biaya


Didalam analisis biaya terdapat faktor-faktor :
1. fixed cost (FC)= biaya tetap yaitu biaya yang tidak tergantung pada tingkat output, berapapun tingkat output biaya yang dikeluarkan tetap. Terdiri dari : total fixed cost (TFC), average fixed cost (AFC).
2.Variable cost (VC)= biaya tidak tetap yaitu biaya yang tergantung pada tingkat output yang dihasilkan. Terdiri dari : total variable cost (TVC), average variable cost (AVC).
3. Total Cost (TC) = total biaya yaitu jumlah biaya tetap (FC) dan biaya tidak tetap (VC). Terdapat Average total cost (ATC)=total biaya rata-rata yaitu total biaya ( TC) di bagi jumlah output (Q) adalah total biaya bagi masing-masing satu unit output.
4. Marginal Cost (MC) = biaya marjinal yaitu penambahan total biaya (TC) yang di berakibat dari penambahan satu unit output. Biaya marjinal (MC) menggambarkan perubahan biaya variabel (VC)
Contoh perhitungan dapat dilihat dalam tabel berikut :
Q TFC TVC MC P = MR TR
(P x qr) TC
(TFC+TVC) Profit
(TR-TC)
0 $ 10 $ 0 $ - $ 15 $ 0 $ 10 $ -10
1 10 10 10 15 15 20 -5
2 10 15 5 15 30 25 5
3 10 20 5 15 45 30 15
4 10 30 10 15 60 40 20
5 10 50 20 15 75 60 15
6 10 80 30 15 90 90 0


E.1. Analisis biaya jangka pendek
Dalam analisis biaya jangka pendek, hanya satu faktor input yang variabel. Sehingga produsen harus menentukan berapa banyak jumlah produksi (Q) yang diinginkan, dan berikutnya menyesuaikan jumlah input variabel yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk yang diinginkan. Sebagai contoh, dalam jangka pendek produsen hanya dapat merubah salah satu input misalnya dengan menambah jumlah input bahan baku untuk meningkatkan hasil produksinya.

E.2. Analisis biaya jangka panjang
Dalam analisis biaya jangka panjang, tidak ada faktor input yang fixed (FC), dalam arti semua biaya akan mengalami perubahan antara lain disebabkan karena adanya inflasi yang mengakibatkan naiknya biaya-biaya yang termasuk dalam FC pada analisis biaya jangka pendek. Begitu pula dalam analisis biaya jangka panjang semua faktor input dapat dirubah sehingga ada berbagai cara yang dapat ditempuh untuk memproduksi output yang diinginkan. Contohnya seorang produsen dapat mengubah salah satu faktor produksi seperti menambah pabrik sehingga biaya overhead pabrik yang termasuk FC pada analisis biaya jangka pendek, berubah menjadi VC.

E.3. Dampak sistem bunga VS bagi hasil dalam analisis biaya

E.3.a. Analisis biaya produksi dengan sistem bunga (interest)

FC = Fixed Cost tanpa biaya bunga
FCi = Fixed Cost ditambah biaya bunga
TC = Total Cost tanpa biaya bunga
TCi = Total Cost ditambah biaya bunga
A = BEP saat FC tanpa biaya bunga
B = BEP saat FC + biaya bunga
Q = Jumlah produksi tanpa biaya bunga
Qi = Jumlah produksi dengan biaya bunga
Bunga yang harus dibayar tidak terpengaruh oleh tingkat output, dalam arti berapapun tingkat output yang dihasilkan jumlah bunga yang dibayar tetaplah sama. Sehingga biaya bunga termasuk dalam FC yang akhirnya akan menambah TC yang dikeluarkan sehingga BEPnya juga akan meningkat.

E.3.b. Analisis biaya produksi dengan sistem bagi hasil
Dalam bagi hasil, ada dua sistem yaitu revenue sharing dan profit sharing. Perbedaan keduanya adalah :
1. Dalam revenue sharing yaitu bagi pendapatan, akad mudharabah yang digunakan dengan perincian biaya produksi ditanggung oleh pemodal.
2. Dalam profit sharing yaitu bagi keuntungan, akad mudharabah dengan perincian biaya produksi ditanggung oleh pelaksana.


Analisis biaya produksi dengan sistem profit sharing
TR = Total Revenue tanpa profit sharing
TRps = Total revenue dengan profit sharing
BEP = tanpa atau dengan profit sharing
Sistem profit sharing tidak merubah BEP karena sebelum BEP kerugian ditanggung oleh pihak pemilik modal, bukan oleh pengelola.Yang berubah adalah total revenue saat setelah BEP karena profit yang didapat harus dibagikan dengan pemilik modal.


Analisis biaya produksi dengan sistem revenue sharing
TR = Total Return tanpa revenue sharing (bagi hasil)
TRrs = Total Return dengan revenue sharing
TC : revenue sharing tidak menambah TC sehingga TCnya tetap.
Q = Jumlah produksi tanpa revenue sharing
Qrs = Jumlah produksi dengan revenue sharing
A = BEP tanpa bagi hasil
B = BEP pada saat dengan bagi hasil


A = BEP dengan sistem profit sharing
B = BEP dengan sistem revenue sharing
C = BEP dengan sistem bunga
TRp = TR dengan sistem profit sharing
TRr = TR dengan sistem revenue sharing
FC1 = FC dengan sistem bunga
TC1 = TC dengan sistem bunga
y = P = cost, revenue, profit
Jumlah produk yang dihasilkan pada saat profit sharing paling kecil jika dibanding dengan pada saat menggunakan sistem bunga atau pada saat menggunakan sistem revenue sharing. Sistem yang paling mendorong produktivitas adalah saat menggunakan revenue sharing karena jumlah produk (Q) yang harus dihasilkan untuk mencapai BEP lebih tinggi daripada dua sistem lainnya.

E.4 Memaksimalkan Keuntungan
Memaksimalkan keuntungan dengan cara (a) efisiensi atau (b) optimalisasi ; adalah sesuai dengan nilai Islami yaitu manusia dianjurkan untuk tidak melakukan suatu hal yang mubazir dalam arti tidak menyia-nyiakan sumber daya yang ada untuk hal yang tidak berguna. Sebagai contoh akan digunakan perbedaan penghitungan antara sistem bunga dengan sistem bagi hasil.

E.4.a Efisiensi
Yang dimaksud dengan efisiensi adalah meminimalisasi biaya untuk menghasilkan tingkat produksi yang sama. Dari analisa kurva didapatkan kesimpulan bahwa dengan jumlah output produksi yang sama, maka biaya dengan sistem bagi hasil akan lebih efisien dibanding biaya dengan sistem bunga.
E.4.b. Optimalisasi
Yang dimaksud dengan optimalisasi adalah memaksimalisasi produksi tanpa menaikkan biaya. Dari analisa kurva yang sama juga menunjukkan bahwa dengan biaya yang sama, jumlah produksi yang dihasilkan sistem bagi hasil lebih banyak dibanding sistem bunga.

E.5. Skala Ekonomi
Skala ekonomi adalah tingkat produksi yang dihasilkan oleh suatu produsen. Dalam hal ini kita akan membandingkan skala ekonomi yang dapat dihasilkan oleh sistem bunga dan bagi hasil.

Dari analisa kurva tersebut didapatkan kesimpulan bahwa sistem bunga menghasilkan skala ekonomi yang paling kecil jika dibandingkan dengan sistem bagi hasil baik revenue sharing maupun profit sharing, dan skala ekonomi yang terbesar dihasilkan oleh sistem revenue sharing.

F. Kesimpulan

Perbedaan teori produksi konvensional dgn teori produksi Islami adalah : teori produksi konvensional lebih banyak berisi faktor teknis dalam produksi sedangkan teori produksi Islami selain membahas faktor teknis, juga terdapat banyak hakikat dari produksi itu yang berlandaskan pada dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, sesuai dengan kesepakatan awal bahwa ilmu ekonomi konvensional tidak dapat memasukkan suatu standar nilai tertentu karena harus bersikap netral sedangkan ilmu ekonomi Islami tentu saja sudah mempunyai standar nilai sendiri.


Daftar Pustaka

Al-Qur’an
As-Sunnah
Al-Haritsi, Jaribah bin Ahmad, DR., Edisi Indonesia : Fikih Ekonomi Umar bin Al-
Khathab. Jakarta : Khalifa (Pustaka Al-Kautsar Grup), 2006.
Ali, AM Hasan, M.A., Meneguhkan Kembali Konsep Produksi dalam Ekonomi Islam.
Dalam makalah online.
Case, Karl E. dan Ray C. Fair, Principles of Microeconomics (Fifth Edition). New
Jersey : Prentice-Hall, Inc., 1999.
http://www.e-dukasi.net
Karim, Adiwarman A., Ir. S.E. M.B.A. M.A.E.P., Ekonomi Mikro Islami. Jakarta : PT
RajaGrafindo Persada, 2007.
Lipsey, Richard G., dkk., Pengantar Mikroekonomi : Jilid I (Edisi Kesepuluh).
Jakarta : Binarupa Aksara, 1995.
Robbins, Stephen P., Essentials of Organizational Behavior (Fifth Edition). New
Jersey : Prentice-Hall, Inc., 1997.

Disampaikan pada matakuliah Ekonomi Mikro Islam STEI Tiara Jakarta, dibawakan oleh Wulandari, SE, M.Si. pada Semester Ganjil 2008/2009